Lautan, paru-paru biru planet kita, kini sedang sakit parah. Sebuah laporan mengkhawatirkan berjudul “Planetary Health Check 2025” dari The Planetary Boundaries Science (PBScience) mengungkapkan bahwa keasaman air laut telah meningkat sekitar akibat ulah manusia.
Kenaikan drastis ini muncul sebagai dampak langsung dari pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan perubahan penggunaan lahan yang masif.
Konsekuensinya sungguh menusuk: kemampuan laut dalam menyerap karbon dan menjaga keseimbangan ekosistem global menurun drastis.
Kondisi lautan semakin memburuk di bawah tekanan yang bertubi-tubi. Selain semakin asam, suhu air laut juga terus melonjak, ditandai dengan fenomena gelombang panas laut (marine heatwaves) yang kini terjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih intens.
Suhu yang lebih tinggi ini mempercepat hilangnya oksigen di laut. Sejak , kadar oksigen laut telah berkurang , dan penurunan ini bisa meningkat hingga empat kali lipat di masa depan, bahkan jika emisi gas rumah kaca dihentikan hari ini.
Memudarnya Kerangka Kehidupan: Karang dan Kerang Dalam Bahaya
Tekanan keasaman laut ini diukur melalui parameter ilmiah yang sangat vital: tingkat kejenuhan aragonit.
Aragonit adalah bentuk kalsium karbonat yang merupakan material dasar pembentuk cangkang dan kerangka bagi banyak organisme laut, seperti terumbu karang dan kerang-kerangan.
PBScience mendefinisikan kondisi laut yang aman setara dari nilai kejenuhan aragonit pra-industri, yang ditetapkan pada ambang batas .
Namun, kenyataan di lapangan sungguh mencemaskan. Pada , tingkat kejenuhan aragonit permukaan global tercatat hanya , sudah berada di bawah ambang batas aman.
Semakin rendah nilai ini, semakin sulit bagi karang, moluska, dan plankton untuk membangun dan memelihara rumah mereka.
C0-Lead Planetary Boundaries Science Lab, Levke Caesar, menyatakan bahwa lautan yang semakin asam, kadar oksigen yang menurun, dan gelombang panas laut yang meningkat telah “membebani sistem vital yang menjaga kestabilan planet bumi.”
Karang Lunak Menggantikan Karang Keras: Ketahanan Pangan Terancam
Dampak krisis laut ini terasa hingga ke tingkat lokal. Sebuah kajian dari peneliti Universitas Bangka Belitung, misalnya, menemukan bahwa kenaikan kadar terlarut di perairan sekitar Pulau Bangka telah menurunkan tingkat keasaman laut dari rata-rata menjadi sekitar .
Akibatnya, proses klasifikasi karang keras—fondasi utama ekosistem—melambat secara signifikan.
Sebaliknya, karang lunak invasif yang lebih toleran terhadap kondisi asam, seperti Sarcophyton, kini justru semakin masif.
Pergantian karang keras oleh karang lunak ini adalah pertanda buruk. Karang lunak tidak membentuk kerangka kalsium karbonat yang kokoh, sehingga struktur tiga dimensi terumbu yang berfungsi sebagai habitat ikan menghilang.
Hilangnya terumbu karang ini tidak hanya menyebabkan keanekaragaman hayati menurun, tetapi juga melemahkan perlindungan alami terhadap abrasi pantai.
Akibatnya, rantai makanan terganggu, yang pada akhirnya berujung pada penurunan populasi ikan karang yang sangat penting bagi nelayan setempat.
Jeritan Nelayan: Hasil Tangkapan Turun, Protein Sulit Didapat
Kondisi laut yang sakit ini kini telah sampai ke dapur-dapur masyarakat pesisir. Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Dani Setiawan, mengungkapkan bahwa meningkatnya kadar keasaman laut berpengaruh langsung pada reproduksi dan menurunnya jumlah ikan di lautan.
Dampaknya terasa pahit: ketersediaan pangan laut dan ekonomi masyarakat pesisir menjadi terancam serius.
Nelayan kecil menjadi pihak pertama yang merasakan dampak buruk ini, sebab jumlah ikan yang berkurang secara langsung menurunkan hasil tangkapan mereka.
Kondisi ini pada akhirnya mempersulit masyarakat luas untuk mendapatkan ikan sebagai salah satu sumber protein utama.
Oleh karena itu, KNTI mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah nyata dalam mengatasi masalah peningkatan keasaman laut ini.
Statement:
Levke Caesar, Co-lead Planetary Boundaries Science Lab
“Dampaknya meluas dari perikanan pesisir hingga laut lepas, mengancam ketahanan pangan, stabilitas iklim global, dan kesejahteraan manusia.”
Dani Setiawan, Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI)
“Peningkatan kadar asam air laut memberikan pengaruh negatif terhadap berbagai sektor yang menggantungkan hidup pada sumber daya laut. Terutama nelayan kecil.”


![cuaca hujan [web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/4257779993.jpg-300x203.webp)
![cuaca buruk [dok. metro]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/a_67a3f42bc3ae0-300x199.jpg)