Keracunan Massal Program Makan Bergizi Gratis Melonjak, Ribuan Siswa Jadi Korban

Jumat, 26 September 2025

Konferensi Pers Badan Gizi Nasional terkait kasus keracunan MBG (Warta Kota)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulanya disambut harapan baik, kini menuai duka mendalam.

Data terbaru dari Badan Gizi Nasional (BGN) per 25 September 2025 mencatat lonjakan dramatis kasus keracunan makanan yang dialami oleh siswa sekolah di berbagai daerah.

Total korban keracunan MBG kini mencapai 5.914 orang, sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan kisah pilu ribuan anak yang harus dilarikan ke fasilitas kesehatan.

Tragedi ini terdistribusi merata di tiga wilayah pembagian BGN: Wilayah II (Jawa) mencatat jumlah korban tertinggi dengan 3.610 orang dari 41 kasus, disusul Wilayah I (Sumatra) dengan 1.307 orang dari 9 kasus, dan Wilayah III (Kalimantan, Sulawesi, hingga Indonesia Timur) dengan 997 korban dari 20 kasus.

Angka ini menunjukkan bahwa isu kualitas dan keamanan pangan dalam program tersebut telah menjadi masalah nasional yang mendesak.

Angka Korban Melonjak Cepat, Status KLB Ditetapkan

Peningkatan korban keracunan terjadi sangat cepat dalam waktu singkat. Jika dibandingkan dengan data BGN per 22 September yang mencatat 4.711 korban, hanya dalam tiga hari, jumlah korban bertambah sebanyak 1.203 orang.

Lonjakan ini mengkhawatirkan dan menunjukkan bahwa insiden pangan terus berulang. Tren bulanan juga menunjukkan lonjakan korban yang signifikan pada Agustus (1.988 orang) dan September (2.210 orang).

Besarnya dampak keracunan ini memaksa dua daerah, yaitu Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Mamuju, menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Lima kasus dengan korban tertinggi berada di Kota Bandar Lampung (503 orang), Kab. Lebong, Bengkulu (467 orang), dan Kab. Bandung Barat (411 orang), menggarisbawahi kegagalan masif dalam pengawasan rantai makanan di program ini.

Tangisan Permintaan Maaf dari Wakil Kepala BGN

Merespons krisis ini, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, menyampaikan permintaan maaf yang tulus dan emosional.

Dalam konferensi pers, Jumat (26/9/2025), Nanik tak kuasa menahan tangis, mengakui kesalahan dan tanggung jawab penuh BGN serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia.

Permintaan maafnya disuarakan sebagai seorang ibu yang merasakan kepedihan melihat anak-anak bangsa menderita akibat program yang seharusnya menyehatkan.

Ia menekankan bahwa keracunan ini bukan sekadar angka, melainkan menyangkut nyawa dan kesehatan anak-anak.

Pengakuan kesalahan ini menjadi langkah awal, namun publik menuntut perbaikan sistemik dan jaminan bahwa tragedi serupa tidak akan terulang lagi.

Janji Perbaikan Total untuk Kualitas Pangan Anak

Nanik Deyang menegaskan bahwa BGN bertanggung jawab penuh atas insiden pangan MBG yang terjadi. Ia menjanjikan perbaikan total pada sistem pelaksanaan program, dengan kesadaran bahwa bahkan “satu anak pun sakit itu adalah menjadi tanggung jawab kami, kesalahan kami sebagai pelaksana.”

Komitmen untuk memperbaiki secara total ini sangat dinantikan oleh orang tua dan masyarakat, yang kini mulai meragukan keamanan makanan yang dikonsumsi anak-anak mereka di sekolah.

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) bahkan mencatat angka korban keracunan yang lebih tinggi, mencapai 6.452 orang per 21 September 2025.

Dengan temuan terbaru 103 siswa di Sumedang yang keracunan pada 26 September, alarm peringatan berbunyi semakin keras.

Insiden ini harus menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya standar kebersihan dan keamanan pangan yang tak boleh dikompromikan, terutama untuk gizi anak-anak.

Statement:

Nanik S Deyang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN)

“Dari hati saya yang terdalam saya mohon maaf, atas nama BGN atas nama seluruh SPPG di Indonesia, saya mohon maaf, saya seorang ibu melihat gambar-gambar di video sedih hati saya. BGN bertanggungjawab penuh atas kesalahan ini.”

 

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir