Search

Keren Sih, tapi Maaf! Ferrari Sebut Mobil China Belum Jadi Ancaman Nyata

Kamis, 9 Juli 2026

Ferrari Luce (cnet)

Perkembangan industri otomotif di Negeri Tirai Bambu belakangan ini emang lagi gila-gilaan dan sukses menarik perhatian dunia.

Enggak tanggung-tanggung, raksasa supercar asal Italia, Ferrari, bahkan blak-blakan mengakui kalau mobil buatan China sekarang makin hebat dan canggih.

Meski sempat bikin takjub, pabrikan berlambang kuda jingkrak ini menegaskan bahwa gempuran kendaraan dari negara tersebut masih belum dianggap sebagai ancaman serius bagi eksistensi mereka di pasar global.

Global Marketing Director Ferrari, Emanuele Carando, mengungkapkan kekagumannya terhadap lompatan teknologi yang berhasil dicapai oleh para produsen kendaraan di China.

Namun, di balik bodi yang keren dan fitur yang melimpah, ada satu hal krusial yang dinilai masih sangat kurang dari produk-produk tersebut.

Menurut sudut pandang Ferrari, deretan mobil asal China masih tertinggal jauh dalam satu aspek paling penting yang menjadi nyawa sebuah kendaraan premium, yaitu sensasi berkendara yang emosional.

Alasan Mengapa Kecepatan Saja Belum Cukup di Mata Pabrikan Italia

Bagi Ferrari, membuat sebuah kendaraan yang sekadar bisa melaju kencang di lintasan lurus bukanlah sebuah perkara yang sulit untuk diwujudkan oleh pabrikan mana pun saat ini.

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana meracik sebuah mobil yang presisi, memiliki karakter kuat, dan mampu menyatu dengan perasaan pengemudinya saat bermanuver.

Hal inilah yang membuat pengalaman berkendara atau driving emotion dari mobil-mobil China dirasa belum bisa menandingi magis dari supercar Eropa.

Selain masalah rasa berkendara, pabrikan asal Italia ini juga menyoroti karakteristik pasar otomotif China yang bergerak terlalu dinamis dan cepat berubah.

Produk-produk roda empat dari sana dinilai lebih condong sebagai barang habis pakai atau consumable yang siklus hidupnya sangat pendek.

Model-model baru bermunculan begitu cepat dalam hitungan bulan, sehingga langsung membuat mobil generasi sebelumnya terasa usang dan kehilangan nilai eksklusivitasnya di mata konsumen.

Langkah Strategis Membaca Pasar di Tengah Penurunan Angka Penjualan

Kendati melayangkan kritik yang cukup menohok, Ferrari terbukti enggak mau jemawa atau memandang sebelah mata kompetitor mereka.

Mereka mengaku tetap aktif mempelajari skema dan struktur mobil-mobil buatan China sebagai bahan komparasi atau benchmarking internal.

Langkah taktis ini diambil agar perusahaan legendaris tersebut tidak kehilangan arah dan tetap bisa adaptif terhadap tren teknologi masa depan yang berkembang super cepat.

Menariknya, pandangan skeptis Ferrari ini justru mencuat di saat performa penjualan mereka sendiri sedang mengalami tren penurunan di pasar domestik China. Padahal, wilayah tersebut berstatus sebagai pasar otomotif terbesar di dunia saat ini.

Berdasarkan data internal teranyar, Ferrari tercatat hanya mampu mendistribusikan sebanyak 584 unit mobil sepanjang tahun 2025 kemarin, angka yang merosot tajam jika dibandingkan dengan capaian tahun 2023 yang sempat menyentuh 1.221 unit.

Menatap Masa Depan Kompetisi Otomotif Global yang Makin Sengit

Fenomena ini memicu spekulasi apakah penurunan penjualan tersebut murni karena pergeseran selera konsumen lokal atau karena kualitas produk domestik yang mulai mendekati standar mobil mewah.

Bagaimanapun, perdebatan mengenai inovasi versus nilai histori ini diprediksi bakal membuat tensi persaingan industri otomotif global semakin memanas. Ferrari tampaknya harus bekerja ekstra keras untuk mempertahankan dominasi mereka di segmen pasar kelas atas.

Pada akhirnya, waktu yang akan membuktikan apakah strategi China yang fokus pada kecepatan produksi massal bisa menumbangkan nilai eksklusivitas seni yang dipertahankan Ferrari.

Untuk saat ini, loyalitas konsumen terhadap pengalaman berkendara yang autentik masih menjadi benteng pertahanan terkuat bagi mereka.

Persaingan ini jelas menjadi tontonan yang sangat seru bagi para pencinta otomotif di seluruh dunia, terutama generasi muda yang menyukai inovasi.

Statement:

Emanuele Carando, Global Marketing Director Ferrari

“Membuat mobil kencang di jalan lurus itu tidak sesulit membuat mobil yang presisi dan penuh emosi saat dikendarai. Mobil China merupakan produk yang ‘consumable’, dengan model baru bermunculan begitu cepat hingga generasi sebelumnya cepat terasa usang.”

3 Poin Penting:

  • Minim Aspek Emosional: Ferrari mengakui kemajuan pesat otomotif China, namun menilai produk mereka belum menjadi ancaman karena masih kekurangan aspek driving emotion atau sensasi berkendara yang emosional dan presisi.

  • Karakteristik Produk Habis Pakai: Siklus pergantian model mobil di China yang terlalu cepat membuat produk mereka dinilai lebih bersifat consumable dan membuat model generasi sebelumnya cepat terasa ketinggalan zaman.

  • Penjualan Ferrari Merosot: Di tengah sikap Ferrari yang menjadikan mobil China sebagai bahan benchmarking, angka penjualan mereka di Negeri Tirai Bambu justru mengalami penurunan drastis dari 1.221 unit pada 2023 menjadi hanya 584 unit pada 2025.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan