Search

Ketan Bintul: Kuliner Ningrat khas Banten yang Cuma Muncul Pas Ramadan

Rabu, 28 Januari 2026

Ketan Bintul (ist)

Di tengah serbuan takjil kekinian yang serba viral, Banten punya satu jagoan kuliner yang tetap setia pada tradisi dan ogah geser dari akarnya.

Namanya Ketan Bintul, sebuah kudapan sederhana berbahan nasi ketan yang punya cerita panjang nan legendaris.

Menariknya, makanan ini nggak bisa kamu temui setiap hari karena kemunculannya yang eksklusif alias cuma ada saat bulan Ramadan tiba, menjadikannya takjil paling diburu di Serang.

Ketan Bintul bukan sekadar nasi ketan biasa yang sering kita temui di pasar. Hidangan ini disajikan dengan taburan serundeng kelapa yang gurihnya nggak main-main, menciptakan perpaduan rasa legit, asin, dan hangat di perut.

Buat kamu yang baru sekali mencoba, pasti bakal langsung merasa cocok dan susah move on dari sensasi rasanya yang otentik, apalagi kalau disantap saat masih hangat sebagai pembuka buka puasa.

Warisan Sultan Maulana Hasanuddin Sejak Abad Ke-16

Jangan salah sangka, Ketan Bintul ini statusnya “kuliner ningrat” karena sudah eksis sejak abad ke-16 di masa kejayaan Kesultanan Banten.

Konon, makanan ini dulunya merupakan hidangan istimewa bagi kalangan bangsawan kerajaan. Sultan Maulana Hasanuddin, pemimpin besar Banten saat itu, sangat menggemari Ketan Bintul dan sering menjadikannya bekal perjalanan atau menu favorit saat berbuka puasa di tengah misi kepemimpinannya.

Kisah legendaris Ketan Bintul mulai menyebar ke rakyat jelata berkat sifat kedermawanan sang Sultan. Dalam suatu perjalanan, beliau membagikan bekal Ketan Bintul miliknya kepada para prajurit dan warga sekitar untuk berbuka bersama.

Dari momen berbagi itulah, masyarakat mulai mengenal kelezatan ketan serundeng ini dan menjadikannya simbol kebersamaan serta kerendahan hati yang dicontohkan langsung oleh sang penguasa Banten.

Simbol Tradisi dan Penanda Ramadan di Tanah Jawara

Di wilayah Serang dan lingkungan pesantren Banten, Ketan Bintul punya posisi yang sangat sakral. Kehadirannya di pasar-pasar tradisional menjadi alarm alami bahwa bulan suci Ramadan sudah sangat dekat atau sedang berlangsung.

Jika para pedagang sudah mulai menjajakan ketan dengan aroma serundeng yang harum ini, itu tandanya suasana religius Ramadan telah menyelimuti Tanah Jawara dan momen nostalgia segera dimulai.

Selain urusan rasa, Ketan Bintul bertahan selama ratusan tahun karena nilai-nilai yang dibawanya. Masyarakat ingin terus mengenang sejarah Kesultanan Banten dan meneladani sikap Sultan Maulana Hasanuddin yang sopan dan gemar berbagi.

Mengonsumsi Ketan Bintul saat berbuka puasa bukan hanya soal mengenyangkan perut, tapi juga bentuk apresiasi budaya dan napak tilas sejarah yang dikemas dalam sepiring kudapan lezat.

Eksistensi yang Tak Lekang Oleh Zaman dan Tren Modern

Meskipun sekarang banyak takjil dengan topping keju atau coklat leleh, Ketan Bintul tetap punya panggungnya sendiri tanpa perlu kemasan mewah.

Rahasianya terletak pada proses pembuatan yang butuh ketelatenan agar ketan matang dengan tingkat pulen yang sempurna.

Kesederhanaan inilah yang justru membuatnya terlihat berwibawa di antara deretan jajanan modern, seolah mengingatkan anak muda pada akar budaya yang tak boleh dilupakan.

Pembeli Ketan Bintul pun berasal dari berbagai usia, mulai dari generasi milenial hingga orang tua yang ingin bernostalgia.

Dengan harga yang relatif terjangkau, makanan ini membuktikan bahwa filosofi “makanan rakyat sekaligus makanan raja” masih berlaku hingga sekarang.

Selama Ramadan masih dirayakan, Ketan Bintul akan terus hidup sebagai identitas daerah yang membanggakan bagi warga Serang dan sekitarnya.

3 Poin Penting:

  • Eksklusivitas Musiman: Ketan Bintul merupakan takjil khas Banten yang hanya muncul secara masif saat bulan Ramadan, menjadikannya kuliner yang selalu dinanti.

  • Nilai Sejarah Tinggi: Berasal dari abad ke-16, makanan ini merupakan hidangan favorit Sultan Maulana Hasanuddin dan menjadi simbol kedermawanan Kesultanan Banten.

  • Perpaduan Rasa Otentik: Keunggulan utamanya terletak pada tekstur ketan yang pulen dan serundeng kelapa yang gurih, memberikan sensasi hangat dan nyaman untuk berbuka puasa.

[guh/man]

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan