Sebuah momen langka terjadi di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dengan nada jenaka, menyampaikan niatnya untuk “mengajar” Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) perihal keamanan siber.
Dalam sesi media briefing di Jakarta Pusat, Purbaya tidak hanya mengklaim kesuksesan Kemenkeu dalam penguatan sistem IT, tetapi juga menyindir secara halus mentalitas para “jagoan IT” di kementerian lain yang terlalu percaya diri.
Kisah sukses Kemenkeu ini diawali dengan perekrutan tim hacker top asal Indonesia. Purbaya, sambil tersenyum, mengakui bahwa para peretas ini dibayar secara profesional untuk menguji ketahanan sistem IT Kemenkeu.
Tujuannya sederhana: membuktikan klaim-klaim hebat dari para staf IT internal. Ia juga menggarisbawahi bahwa itu adalah upaya serius Kemenkeu.
Dari Nilai 30 Menuju ‘A Plus’ dalam Hitungan Bulan
Kisah ini kemudian berlanjut dengan pengungkapan fakta yang cukup memalukan—sekaligus lucu. Purbaya menyinggung bahwa banyak staf IT kementerian yang “sombong-sombong,” meyakini sistem mereka tak tertembus.
Namun, ketika para hacker bayaran beraksi, klaim kesombongan itu luruh tak berdaya. Ia pun menggambarkan adegan “sidang moral” di ruang rapat.
Transformasi sistem Kemenkeu, khususnya sistem pajak Coretax, diklaim sangat dramatis. Dari kondisi yang dianggap rentan—hanya bernilai 30 dari 100—kini keamanannya telah melonjak menjadi 95 plus.
Sebuah kenaikan yang luar biasa cepat, seolah sistem IT Kemenkeu baru saja lulus sekolah kilat dengan predikat cum laude.
Tantangan Sempurna dan Janji Mengajar Komdigi
Namun, kepuasan Purbaya tidak berhenti pada nilai 95. Ia menegaskan bahwa targetnya adalah mencapai angka sempurna 100 dalam waktu sebulan ke depan.
Untuk mencapai kesempurnaan siber ini, hacker-hacker yang direkrut akan terus dipekerjakan secara berkala.
Hal ini mencerminkan komitmen Kemenkeu untuk tidak berpuas diri, menyadari bahwa dunia siber adalah medan perang yang peraturannya berubah setiap hari.
Setelah Kemenkeu mencapai puncak keamanan siber, Purbaya berkelakar bahwa ia siap berbagi ilmu kepada kementerian lain, termasuk kepada “sang empunya” urusan digital di Indonesia.
Candaan ini seolah menyentil Komdigi yang sering menjadi sasaran hacker nakal, menunjukkan bahwa urusan uang negara justru lebih aman daripada urusan data digital secara umum.
Membeli Integritas Digital dengan Para Peretas Lokal
Kisah ini, meski dibungkus candaan satir, sebenarnya menyoroti isu serius: integritas digital lembaga negara.
Kemenkeu memilih jalur yang jujur dan pragmatis: mengakui kelemahan, membayar ahli (peretas etis) untuk menguji, dan memperbaiki sistem.
Ini adalah pelajaran bagi semua kementerian: keamanan siber tidak bisa diukur dari klaim kesombongan staf IT internal, melainkan dari ujian keras para hacker profesional.
Pada akhirnya, Purbaya menunjukkan bahwa di tengah ambisi besar negara, kejujuran dalam menghadapi kelemahan adalah kunci.
Dan jika hacker lokal dipekerjakan untuk menguji sistem, itu adalah investasi terbaik negara untuk menjaga uang rakyat.
Statement:
Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan RI
“Kita juga udah panggil hacker kita, yang jago-jago orang Indonesia ya, bukan orang asing. Kita bayar sih, bantuin saya, jadi sudah di tes, udah lumayan.”
“Punya saya jago, punya saya jago. Dikasih tahu nggak mau. Ternyata begitu diuji, jebol. Baru saya marah-marahin.”
“Nanti kalau cyber security-nya udah top di sini (Kemenkeu), saya akan ajarin ke semua kementerian lembaga di Indonesia, termasuk Kominfo (Komdigi).”
![harga emas [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/20251022073533-300x169.webp)
![ihsg bursa saham [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Pasar-Modal-Bursa-Efek-Indonesia-300x168.jpg)
![menteri perekonomian [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/publikasi_1645809205_62190e35e15e4-300x169.jpeg)
![Ekonomi digital RI [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/1057778768-300x200.jpg)