Search
Search
Search

Kok Bisa? Populasi Lansia Berusia 100 Tahun di Jepang Capai 100 Ribu Jiwa

Kamis, 17 September 2026

Lansia Jepang (ist)

Negeri Sakura, Jepang, baru saja mencetak rekor fantastis dalam sejarah kependudukan dunia. Untuk pertama kalinya, jumlah warga berlanjut usia yang telah menyentuh angka 100 tahun ke atas di Jepang resmi melampaui angka 100.000 orang.

Data Kementerian Kesehatan Jepang mencatat terdapat sebanyak 107.677 jiwa lansia centenarian yang tersebar di seluruh penjuru negeri, menjadikan populasi manusia tertua ini sebagai yang tertinggi secara global.

Menariknya, fakta statistik menunjukkan bahwa sebanyak 88 persen dari jajaran warga berusia seratus tahun ke atas tersebut didominasi oleh kaum perempuan.

Sosok perempuan tertua di Jepang saat ini dipegang oleh Kishimoto Fuyo asal Kyoto yang telah menginjak usia 114 tahun.

Sementara itu, gelar laki-laki tertua disandang oleh Kato Hikaru yang menetap di Kumamoto pada usia 112 tahun. Fenomena ini pun langsung menyita perhatian publik global.

Rahasia Panjang Umur dan Inovasi Teknologi Masa Depan

Banyak pakar kependudukan menilai rahasia umur panjang masyarakat Jepang sangat erat kaitannya dengan penerapan gaya hidup sehat sehari-hari.

Pola makan tradisional yang kaya akan konsumsi ikan, sayur-mayur, serta nasi, membuat masyarakat lokal mengonsumsi jauh lebih sedikit lemak jenuh.

Tak cuma soal makanan, kebiasaan rutin berjalan kaki, memanfaatkan moda transportasi umum, bersepeda, hingga melakukan peregangan menjadi kunci stamina fisik mereka tetap terjaga.

Fenomena lonjakan lansia ini juga mendorong dunia industri di Jepang untuk makin gencar memproduksi inovasi teknologi penunjang.

Berbagai perusahaan lokal kini ramai mengembangkan perangkat canggih khusus manula, seperti penopang tubuh bertenaga (exoskeleton) demi membantu pergerakan fisik, hingga kacamata pintar yang sanggup menyesuaikan fokus secara otomatis.

Langkah ini diambil agar populasi senior tetap dapat beraktivitas secara mandiri.

Ancaman Krisis Depopulasi dan Darurat Angka Kelahiran

Di balik rekor angka harapan hidup yang mengagumkan tersebut, pemerintah Jepang justru dihadapkan pada ganjalan besar berupa krisis eksistensial kependudukan.

Angka kesuburan total di Jepang dilaporkan anjlok ke rekor terendah pada level 1,14 pada tahun 2025, jauh di bawah batas ideal 2,1 anak per perempuan.

Bahkan, persentase penduduk berusia 65 tahun ke atas saat ini sudah menguasai sekitar 30 persen dari total populasi.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takichi, sampai menggambarkan fenomena penurunan populasi ini sebagai bentuk keadaan darurat yang melanda dalam senyap.

Lembaga penelitian kependudukan memproyeksikan total penduduk Jepang bakal menyusut drastis menjadi 87 juta jiwa pada tahun 2070 mendatang.

Angka ini mencerminkan penurunan drastis hingga 30 persen jika dibandingkan dengan masa kejayaan populasi pada tahun 2008 yang sempat menembus 128 juta jiwa.

Tantangan Jaminan Sosial dan Catatan Keabsahan Data

Tingginya jumlah lansia memicu kekhawatiran serius terkait keberlanjutan sistem jaminan sosial dan pembiayaan pensiun negara.

Beban fiskal yang kian membengkak berpotensi memicu ketimpangan ekonomi jika tidak diimbangi oleh angkatan kerja produktif yang memadai.

Berbagai jalan keluar terus dicoba oleh pemerintah, mulai dari pemberian insentif subsidi momongan hingga penyesuaian aturan imigrasi untuk pekerja asing yang saat ini masih berkisar di angka 3%.

Di sisi lain, deretan pengamat kependudukan sempat menyoroti perlunya validasi ketat terhadap akurasi pencatatan data usia para lansia tersebut.

Belajar dari riwayat audit pemerintah pada era sebelumnya yang sempat menemukan kelalaian pencatatan sipil hingga potensi penipuan klaim dana pensiun, pembaruan data secara transparan terus dimaksimalkan.

Meski begitu, tren lonjakan manula di Jepang tetap menjadi bukti nyata tingginya kualitas kesehatan di negara tersebut.

Statement:

Kenichiro Ueno, Menteri Kesehatan Jepang

“Saya senang karena begitu banyak orang menjalani hidup yang panjang, sehat, dan aktif. Namun, ini juga menjadi tantangan yang dihadapi Jepang dalam mempertahankan sistem jaminan sosial yang berkelanjutan.”

Sanae Takichi, Perdana Menteri Jepang

“Penurunan populasi ini merupakan keadaan darurat yang terjadi dalam senyap.”

3 Poin Penting:

  • Rekor Dunia 100 Ribu Lansia: Jumlah penduduk berusia 100 tahun ke atas di Jepang secara resmi menembus angka 107.677 jiwa, dengan 88 persen di antaranya merupakan kaum perempuan.

  • Rahasia Umur Panjang: Pola makan sehat rendah lemak jenuh (ikan, sayur, nasi) serta kebiasaan hidup aktif (jalan kaki, bersepeda) menjadi faktor utama tingginya angka harapan hidup warga Jepang.

  • Ancaman Krisis Eksistensial: Penurunan angka kesuburan hingga level 1,14 mengancam keberlanjutan jaminan sosial dan diproyeksikan memangkas populasi Jepang hingga 30 persen pada tahun 2070.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan