Kota Metropolitan Terancam Gempa: Jakarta Punya “Patahan Rahasia”

Senin, 15 Desember 2025

Jakarta (wikipedia)

Siapa sangka, di balik gedung-gedung pencakar langit dan kemacetan parah, Daerah Khusus Jakarta ternyata enggak sepenuhnya aman dari ancaman gempa bumi!

Selama ini, Jakarta sering dianggap relatif aman, tapi hasil riset terbaru dari Associate Professor ITB, Endra Gunawan, bikin kita semua harus aware.

Ia menggunakan metode canggih GNSS slip-rate analysis untuk meneliti potensi gempa dari yang disebut Sesar Jakarta atau patahan di bawah ibu kota.

Riset ini membuktikan bahwa deformasi atau pergeseran kerak bumi di wilayah Jakarta bisa diukur secara periodik.

Hal ini otomatis membuka peluang untuk bikin pemodelan bahaya gempa yang lebih akurat, apalagi mengingat Jakarta adalah kota yang super padat penduduk.

Intinya, pemantauan pergeseran kerak bumi ini adalah fondasi mitigasi modern yang harus di-upgrade.

Sesar Jakarta Slow tapi Pasti: Geser 3 Milimeter per Tahun

Analisis yang dilakukan oleh Endra Gunawan udah pakai pendekatan GPS yang sangat presisi.

Hasilnya wow, ternyata patahan di bagian selatan Jakarta ini menunjukkan laju pergeseran sekitar tiga milimeter per tahun!

Meski terkesan lambat, pergeseran ini tetap menyimpan potensi energi yang bisa lepas sewaktu-waktu. Data ini juga dilengkapi dengan kedalaman penguncian tujuh kilometer dan sudut kemiringan 63 derajat ke selatan.

Gak cuma Sesar Jakarta, penelitian ini juga memperkuat studi dari BRIN sebelumnya soal sistem sesar kompleks bernama Sesar Baribis-Kendeng, atau yang juga dikenal sebagai Java Back-arc Thrust.

Sesar ini membentang dari barat ke timur di Pulau Jawa dan letaknya ada di belakang (utara) busur vulkanik Jawa. Jadi, ancaman buat Jakarta itu datang dari gak cuma satu tempat, lho.

Sesar Baribis-Kendeng Mengintai Sampai Depok dan Bogor

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Sonny Aribowo, menjelaskan kalau Sesar Baribis-Kendeng ini beneran kompleks dan jalurnya lewat beberapa kota padat penduduk.

Di Jawa Barat, sesar ini melewati Cirebon, Indramayu, Majalengka, Subang, Purwakarta, Karawang, dan Bekasi.

Yang paling penting buat warga Jakarta dan sekitarnya: ada indikasi kuat kalau sesar ini juga melewati daerah selatan Jakarta (dekat Depok) dan di daerah Bogor.

Sejak 2019, Sonny udah melakukan penelitian di beberapa kota tersebut. Tujuan utama riset ini adalah memastikan lokasi jalur sesar aktif (yang udah bergerak sejak setidaknya 11 ribu tahun lalu) agar tingkat kewaspadaan terhadap bahaya gempa bisa ditingkatkan.

Ia menekankan bahwa indikasi aktif dari data geodesi (GPS) dan seismisitas harus wajib dikonfirmasi lagi secara geologi.

Sejarah Kelam dan Pentingnya Kesiapsiagaan

Fakta ini semakin bikin kita flashback ke catatan sejarah BMKG. Meskipun disebut relatif aman, Jakarta ternyata pernah babak belur dihantam gempa besar pada tahun 1699, 1780, 1834, dan 1903.

Gempa-gempa besar ini diduga kuat dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng yang dampaknya emang luas. Jadi, ancaman buat Jakarta itu kompleks: dari sesar lokal di daratan hingga aktivitas lempeng di laut!

Sebagai negara yang terletak di pertemuan empat lempeng tektonik dunia, Indonesia emang kawasan seismik paling aktif.

BMKG mencatat rata-rata terjadi 30 ribu kali gempabumi setiap tahunnya!

Angka ini bukan sekadar statistik, tapi penanda serius bahwa kesiapsiagaan dan mitigasi bencana adalah garda terdepan yang harus jadi budaya bersama, apalagi buat kota sepenting dan sepadat Jakarta.

Statement:

Associate Professor ITB, Endra Gunawan

“Analisis kami berdasarkan pendekatan GPS, dan kami menemukan bahwa patahan di bagian selatan Jakarta ini menghasilkan laju pergeseran sekitar tiga milimeter per tahun dengan kedalaman penguncian tujuh dan sudut kemiringan 63 ke selatan. Ini memperkuat pesan bahwa pemantauan deformasi adalah fondasi mitigasi modern.”

3 Poin Penting:

  1. Riset ITB menggunakan metode GNSS menemukan potensi bahaya dari Sesar Jakarta di bagian selatan kota, dengan laju pergeseran kerak terukur sekitar tiga milimeter per tahun.

  2. Ancaman gempa juga datang dari sistem Sesar Baribis-Kendeng (Java Back-arc Thrust) yang memanjang di utara Jawa dan diindikasikan melewati daerah perbatasan Depok dan Bogor.

  3. Dengan potensi gempabumi yang kompleks (dari sesar lokal hingga subduksi), kesiapsiagaan, mitigasi modern berbasis deformasi, dan pembangunan ketahanan bencana wajib ditingkatkan, terutama di kota metropolitan padat penduduk seperti Jakarta.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir