Search

Kue Pasung: Jajanan Legendaris Banten yang Menolak Punah di Tengah Gempuran Dessert Viral

Kamis, 29 Januari 2026

Kue Pasung (ist)

Di tengah ramainya dessert kekinian yang silih berganti viral di media sosial, Banten ternyata punya jagoan lama yang tetap bertahan, namanya kue pasung.

Jajanan tradisional ini diam-diam tetap eksis tanpa perlu topping berlebihan atau kemasan estetik yang dipaksakan. Rasanya yang manis dan legit seolah punya kekuatan magis yang bikin siapa pun yang mencoba bakal susah move on ke camilan lain.

Kue pasung bukan sekadar jajanan baru kemarin sore, karena kuliner ini sudah lama hidup di dapur masyarakat Banten, mulai dari wilayah Lebak, Serang, Pandeglang, hingga Cilegon.

Dari dulu sampai sekarang, rasanya tetap konsisten dan menenangkan. Kehadirannya seolah membuktikan bahwa sesuatu yang otentik akan selalu punya tempat di hati masyarakat meski tren kuliner terus berubah setiap detiknya.

Aroma Daun Pisang dan Filosofi di Balik Bentuk Kerucut

Sekilas, kue pasung memang mirip dengan kue clorot khas Purworejo karena bentuknya yang mengerucut unik. Namun, soal rasa, kue pasung punya identitas sendiri yang sangat kuat berkat balutan daun pisang yang digulung rapi.

Bentuk corong ini bukan sekadar estetika, melainkan berfungsi memberikan aroma khas saat dikukus yang sulit ditiru oleh kemasan modern berbahan plastik.

Setiap gigitan kue pasung terasa lebih hangat, seolah membawa memori masa kecil yang indah bagi mereka yang tumbuh besar di tanah Jawara.

Di masyarakat Lebak, kue ini bahkan sudah menjadi identitas budaya dan sering hadir dalam berbagai acara sakral seperti pernikahan atau khitanan. Kehadirannya bukan cuma sebagai pelengkap meja makan, melainkan simbol kebersamaan dan rasa syukur yang mendalam.

Perpaduan Budaya Sunda-Jawa dalam Balutan Tekstur Lembut

Menariknya, kue pasung merupakan hasil kolaborasi budaya yang sangat apik antara unsur kuliner Sunda dan Jawa. Hal ini terlihat jelas dari teknik pengolahan dan bahan baku yang digunakan.

Berdasarkan catatan e-heritage Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kue pasung telah lama diakui sebagai warisan kuliner dan identitas lokal yang harus terus dijaga keberadaannya agar tidak hilang ditelan zaman.

Misteri di balik namanya pun cukup unik, di mana istilah “pasung” diyakini merujuk pada selongsong yang membungkus adonan dengan rapat. Ada pula filosofi yang menyebut bahwa adonan kue ini seolah “terpasung” di dalam wadahnya hingga matang sempurna.

Makna ini mengajarkan kita bahwa sesuatu yang sederhana pun bisa menjadi sangat istimewa jika dirawat dengan penuh ketelatenan dan kesabaran.

Rahasia Dua Adonan yang Bikin Sensasi Manis Gurih Seimbang

Bahan utama kue pasung adalah tepung beras, namun proses pembuatannya ternyata cukup menantang karena melibatkan dua adonan berbeda.

Adonan pertama terdiri dari campuran tepung beras dan gula aren yang memberikan warna cokelat alami serta rasa manis yang tidak menusuk.

Sementara itu, adonan kedua terbuat dari santan dan tepung sagu untuk menciptakan lapisan gurih dengan tekstur yang lembut serta kenyal.

Perpaduan kedua adonan ini menghasilkan rasa yang sangat seimbang antara manis dan gurih, sangat pas untuk dinikmati oleh semua usia.

Karena diproses dengan cara dikukus, kue pasung juga jauh lebih sehat dan rendah minyak dibandingkan gorengan. Karakteristik inilah yang membuatnya tetap dicari oleh banyak orang meskipun kini banyak pilihan jajanan modern yang lebih mencolok secara visual.

Misi Anak Muda Menjaga Warisan Kuliner Ramah Lingkungan

Bagi generasi Z dan milenial, mengenal kue pasung bukan sekadar urusan nostalgia, melainkan bentuk nyata dalam melestarikan identitas kuliner lokal.

Menariknya, kue pasung sudah menerapkan konsep ramah lingkungan jauh sebelum isu ini ramai dibahas, karena bungkus daun pisangnya sangat mudah terurai.

Memilih kue pasung berarti kita juga ikut berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik yang biasanya dihasilkan dari kemasan makanan instan.

Melestarikan kue pasung berarti menjaga cerita panjang tentang dapur tradisional Banten dan tangan-tangan terampil yang sabar mengukusnya satu per satu. Kejujuran rasa yang ditawarkan jajanan ini akan selalu menemukan jalannya untuk tetap dicintai.

Jadi, jika kamu sedang berkunjung ke Banten, jangan cuma sibuk cari tempat wisata, pastikan lidahmu juga ikut “liburan” dengan mencicipi manisnya kue pasung yang penuh makna ini.

3 Poin Penting:

  • Kue pasung adalah jajanan tradisional khas Banten dengan bentuk kerucut daun pisang yang memiliki cita rasa manis gurih hasil perpaduan budaya Sunda dan Jawa.

  • Tekstur unik kue ini didapatkan dari kombinasi dua adonan (tepung beras-gula aren dan santan-tepung sagu) yang dikukus hingga matang sempurna.

  • Selain sebagai warisan budaya, kue pasung merupakan pilihan kuliner yang ramah lingkungan karena menggunakan bahan pembungkus alami yang mudah terurai.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan