Pernah nggak sih kamu tiba-tiba bengong tengah malam terus kepikiran, sebenernya buat apa ya kita hidup di dunia ini?
Buat kamu yang lagi merasa nihilis dan menganggap hidup itu hambar, santai dulu. Masalah makna hidup ini emang sudah jadi perdebatan para filsuf selama ribuan tahun.
Namun, sebuah studi baru dari University of Eastern Finland dan University of Geneva baru saja mengungkap rahasia besar yang bisa bikin hidup kamu terasa lebih “berisi” dan nggak hampa lagi.
Dalai Lama pernah bilang kalau tujuan utama manusia adalah membantu orang lain, dan ternyata sains setuju dengan hal itu.
Para peneliti menemukan bahwa memberikan dampak positif bagi orang lain bukan cuma soal berbuat baik, tapi merupakan elemen kunci agar kita merasa hidup kita punya arti.
Jadi, kalau selama ini kamu merasa hampa meski sudah punya segalanya, mungkin itu tandanya kamu kurang berbagi dampak ke lingkungan sekitar.
Empat Dimensi Hidup Bermakna Menurut Sains
Joffrey Fuhrer, peneliti dari University of Eastern Finland, menjelaskan bahwa memahami apa itu hidup yang bermakna sangat penting bagi kesehatan mental. Dalam risetnya, ia menemukan ada empat dimensi utama yang bikin manusia merasa puas dengan eksistensinya.
Tiga dimensi pertama adalah koherensi (memahami masa lalu hingga masa depan), memiliki tujuan hidup yang jelas, serta merasa hidupnya memiliki signifikansi atau nilai yang abadi.
Namun, yang paling menarik adalah dimensi keempat yang ditemukan Fuhrer dan rekannya, Florian Cova, yaitu dampak positif. Ternyata, signifikansi saja nggak cukup kalau dampak itu nggak dirasakan oleh orang lain.
Studi ini melibatkan ratusan responden yang diminta mengevaluasi karakter fiktif, seperti Amelia yang mendonasikan uang loterenya untuk amal. Hasilnya, karakter yang memberi manfaat bagi sesama dianggap memiliki hidup yang jauh lebih bermakna.
Keluar dari Fokus Diri Sendiri Demi Mental Health
Tatjana Schnell dari MF Norwegian School of Theology juga memberikan insight menarik bahwa hidup bermakna bukan berarti semua aspek harus sempurna.
Yang penting, jangan sampai ada area dalam hidup kamu yang benar-benar kosong tanpa tujuan atau rasa memiliki.
Jika kamu merasa pekerjaan kamu membosankan meski gajinya oke, itu bisa jadi karena kamu merasa nggak ada hal positif yang dihasilkan buat orang lain, yang akhirnya memicu rasa depresi.
Frank Martela dari Aalto University menambahkan bahwa ketiadaan dampak dalam pekerjaan sering bikin orang merasa putus asa.
Solusinya? Fuhrer dan Schnell menyarankan kita buat sedikit “berhenti” mikirin diri sendiri terus-menerus. Cobalah alokasikan waktu dan energi untuk kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain.
Dengan memberikan sesuatu kepada dunia, secara otomatis kita bakal merasa punya tempat dan nilai di bumi ini.
Statement:
Joffrey Fuhrer & Tatjana Schnell, Peneliti Psikologi
“Penting untuk memahami aktivitas, pikiran, dan tindakan apa yang mengarah pada rasa kebermaknaan. Kami menemukan dimensi keempat yang penting: ketika apa yang kita lakukan memiliki dampak positif bagi orang lain. Cari tahu siapa diri Anda, ingin jadi seperti apa, dan lihat bagaimana Anda dapat menerapkannya pada sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain secara berkelanjutan.”
3 Poin Penting:
-
Dampak Positif adalah Kunci: Membantu orang lain merupakan elemen krusial yang menentukan apakah seseorang merasa hidupnya bermakna atau tidak.
-
Empat Dimensi Makna: Hidup yang bermakna terdiri dari koherensi, tujuan, signifikansi, dan dampak nyata bagi lingkungan sekitar.
-
Solusi Depresi Eksistensial: Rasa hampa dalam pekerjaan atau keseharian sering muncul karena kurangnya kontribusi positif bagi sesama; berbagi energi ke orang lain bisa meningkatkan kepuasan hidup.
![olahraga padel [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Turnamen-Padel-Pertama-Di-Bandung-080225-agr-3-300x200.jpg)


