Langit Malam Indonesia Sambut Supermoon Emas Terbesar 2025

Selasa, 4 November 2025

Supermoon emas November 2025 (istimewa)

Langit Indonesia akan menjadi saksi bisu sebuah pertunjukan kosmik yang memukau pada Rabu malam, 5 November 2025, dengan kehadiran fenomena langka Supermoon.

Lebih dari sekadar purnama biasa, Supermoon edisi November ini disebut-sebut sebagai yang terbesar dan paling terang yang dapat disaksikan sepanjang tahun 2025, bahkan sejak 2019.

Fenomena ini terjadi berkat konfigurasi geometris yang sempurna, di mana Bulan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi (perigee) tepat pada saat ia berada dalam fase purnama penuh, menciptakan ilusi visual yang luar biasa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa Supermoon kali ini akan menawarkan intensitas cahaya dan ukuran visual yang maksimal, menjadikannya tontonan wajib bagi masyarakat di seluruh Nusantara.

Puncak kemegahan bulan ini diprediksi dapat disaksikan mulai pukul 20.19 WIB. Ketika ribuan mata menengadah ke atas, mereka akan disambut oleh penampakan Bulan yang tampak sekitar 14% lebih besar dan 30% lebih terang dibandingkan dengan bulan purnama pada umumnya, sebuah keindahan yang menggugah rasa takjub akan jagat raya.

Mengapa Bulan Berubah Emas dan Begitu Dekat?

Supermoon adalah istilah populer untuk menggambarkan bulan purnama yang terjadi ketika Bulan berada di jarak sekitar 356.980 kilometer dari Bumi.

Kedekatan inilah yang menjadi kunci utama di balik penampilannya yang membesar dan memancarkan cahaya lebih intens. Selain itu, Supermoon kali ini juga kerap dijuluki “Supermoon Emas”.

Julukan ini muncul karena warna Bulan yang tampak keemasan saat pertama kali terbit, melukis cakrawala dengan nuansa jingga dan kuning.

Perubahan warna yang dramatis ini bukan sulap, melainkan fisika atmosfer. Saat Bulan masih berada rendah di cakrawala, atmosfer Bumi berperan sebagai filter alami.

Atmosfer akan menyaring panjang gelombang cahaya biru dan hijau, sehingga yang tersisa dan dominan terlihat oleh mata kita adalah warna-warna yang lebih hangat, yaitu jingga dan kuning.

Bersamaan dengan itu, fenomena ini juga bertepatan dengan sebutan tradisional masyarakat Pribumi Amerika Utara, Beaver Moon, yang menandai bulan purnama di awal November, sebuah penanda musim berang-berang membangun sarang.

Intesitas Cahaya yang Menciptakan Bayangan

Di luar keindahan visualnya, Supermoon kali ini menyimpan keistimewaan teknis yang langka.

Meski banyak purnama terjadi sepanjang tahun, intensitas cahaya yang dihasilkan oleh Supermoon November 2025 ini memiliki kemampuan yang jarang ditemukan. Fenomena ini dilaporkan mampu menghasilkan efek yang terasa.

Thomas Djamaluddin, salah satu peneliti utama di Pusat Riset Antariksa BRIN, menyoroti aspek ini sebagai pembeda.

Menurutnya, Supermoon yang sangat terang ini membawa dampak yang melampaui sekadar pemandangan indah di langit malam.

Ini menunjukkan betapa kuatnya energi dan cahaya yang dipancarkan oleh satelit alami kita, bahkan dari jarak ratusan ribu kilometer.

Statement:

Thomas Djamaluddin, peneliti utama Pusat Riset Antariksa BRIN

“Supermoon kali ini cukup istimewa karena intensitas cahayanya mampu menghasilkan bayangan samar di permukaan tanah, sesuatu yang jarang terjadi dalam fenomena bulan purnama biasa.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir