Search

Lansia Masih Rentan Secara Ekonomi, UGM Usul Iuran Dana Pensiun Naik demi Masa Tua Lebih Aman

Minggu, 14 Juni 2026

Ilustrasi lansia (ist)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 41,75% lansia di Indonesia masih berada dalam kelompok rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 40% terbawah.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat lanjut usia masih menghadapi tantangan ekonomi yang cukup serius ketika memasuki masa pensiun.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena sistem perlindungan hari tua di Indonesia dinilai belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh lapisan pekerja.

Akibatnya, hanya sekitar lima persen lansia yang mampu memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri melalui dana pensiun yang dimiliki. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kesejahteraan masyarakat pada usia senja.

Sistem Pensiun Dinilai Perlu Dibenahi

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, Ph.D., CFP, menilai salah satu persoalan utama terletak pada rendahnya besaran iuran jaminan hari tua yang berlaku saat ini.

Menurutnya, kontribusi pekerja sebesar satu persen dan perusahaan sebesar dua persen dari gaji kotor belum cukup untuk menjamin kehidupan yang layak setelah memasuki masa pensiun.

Eddy mengusulkan agar iuran dana pensiun ditingkatkan menjadi sekitar 14 hingga 15 persen dari gaji kotor. Dalam skema tersebut, pekerja dapat menyumbang sekitar 5-6%, sementara perusahaan berkontribusi sebesar 8-9%.

Langkah ini diyakini dapat memperkuat tabungan pensiun dan mengurangi risiko kesulitan ekonomi di masa tua.

Tantangan Besar bagi Pekerja Informal

Selain pekerja formal, tantangan yang lebih besar juga dihadapi oleh pekerja informal dan para wirausahawan. Kelompok ini umumnya tidak memiliki fasilitas Dana Pensiun Pemberi Kerja yang memungkinkan pemotongan iuran secara otomatis dari penghasilan bulanan mereka.

Karena itu, Eddy menyarankan pekerja informal dan pelaku usaha untuk lebih disiplin dalam mengelola keuangan dengan menyisihkan sekitar 10-20% pendapatan untuk tabungan hari tua atau investasi jangka panjang. Menurutnya, langkah tersebut menjadi salah satu cara paling realistis untuk menjaga kestabilan ekonomi ketika memasuki usia lanjut.

Putus Rantai Sandwich Generation

Tak hanya mengusulkan kenaikan iuran pensiun, Eddy juga mendorong pemerintah memperbanyak fasilitas perawatan lansia, memberikan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga rendah bagi pensiunan, hingga mengkaji penghapusan batas usia pensiun wajib agar masyarakat memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menentukan masa pensiun mereka.

Menurut Eddy, pembenahan sistem jaminan hari tua juga berperan penting dalam mengurangi fenomena sandwich generation, yakni generasi produktif yang harus menanggung kebutuhan ekonomi orang tua sekaligus keluarganya sendiri. Dengan dana pensiun yang lebih kuat, para lansia dapat hidup lebih mandiri dan tidak menjadi beban finansial bagi generasi berikutnya.

Statement:

Eddy Junarsin, Ekonom UGM

“Angka yang memadai sekitar 14-15 persen dari gaji kotor walau itu pun kemungkinan masih pas-pasan di kemudian hari, tetapi tetap lebih baik daripada sistem sekarang,” ujar.

3 Poin Penting:

  • Sebanyak 41,75% lansia Indonesia masih berada dalam kelompok ekonomi rentan berdasarkan data BPS.
  • Ekonom UGM mengusulkan kenaikan iuran dana pensiun hingga 14-15% dari gaji kotor untuk menjamin kesejahteraan masa tua.
  • Penguatan sistem pensiun dinilai dapat mengurangi beban sandwich generation dan meningkatkan kemandirian ekonomi lansia.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan