Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas berbelanja baju atau barang bekas, yang dikenal sebagai thrifting, telah bertransformasi dari sekadar pilihan ekonomi menjadi sebuah gerakan budaya.
Secara harfiah berarti hemat, kini thrifting tidak lagi hanya soal harga miring. Melihat peminatnya yang kian menjamur, para ahli sosial mengamini bahwa fenomena ini didorong oleh serangkaian alasan yang lebih kompleks dan relevan dengan isu-isu kontemporer.
Pada awalnya, thrifting memang erat kaitannya dengan makna ‘hemat’. Membeli baju bekas dengan harga yang jauh lebih rendah jelas menjadi solusi agar kantong tidak jebol.
Namun, menurut pengamat sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, perkembangan pesat thrifting di Indonesia juga didorong kuat oleh pengaruh media sosial dan adanya unsur FOMO (fear of missing out) di kalangan anak muda, yang ingin mengikuti tren yang dipromosikan oleh konten kreator.
Respon Cerdas Terhadap Krisis dan Kesadaran Lingkungan
Salah satu unsur utama yang mendorong menjamurnya thrifting adalah krisis keuangan global. Krisis, seperti yang dipicu oleh pandemi beberapa tahun belakangan, secara langsung memengaruhi daya beli masyarakat.
Untuk menyiasati kebutuhan sandang tanpa membebani keuangan, thrifting menjadi solusi cerdas dan praktis yang diadopsi oleh banyak kalangan.
Selain faktor ekonomi, thrifting juga tumbuh subur karena faktor Sustainable Living (hidup berkelanjutan). Kesadaran masyarakat akan masalah sampah fashion yang terus menumpuk di tempat pembuangan akhir kini semakin tinggi.
Mencari Keunikan dan Kebutuhan Eksistensi Diri
Berbeda dengan busana produksi massal yang rawan dikenakan kembaran, thrifting menawarkan daya tarik yang unik: keunikan barang atau busana limited edition.
Di pasar loak, busana bekas seringkali hanya tersedia satu potong saja. Rasa memiliki barang yang langka ini menjadi kepuasan tersendiri bagi pembeli.
Daya tarik keunikan ini kemudian disalurkan melalui media sosial, di mana konten kreator berperan mempromosikan gaya thrifting yang keren.
Hal ini berhubungan erat dengan kebutuhan eksistensi—keinginan untuk menampilkan diri sebaik mungkin dan tampil berbeda.
Melalui thrifting, tampil keren dan unik tidak harus dibayar mahal, memungkinkan orang untuk tetap eksis dengan busana berharga terjangkau.
Statement:
Devie Rahmawati, Pengamat Sosial Universitas Indonesia
“Ada pengaruh media sosial juga yang mempromosikan budaya ini. Biasanya dimulai oleh para konten kreator yang punya reputasi. Dan, tahu sendiri anak muda kita kebanyakan FOMO. Selain itu, orang-orang sadar, kalau terus beli baju [baru], sampahnya makin banyak. Makanya, ya udah, beli yang bekas saja.”
![tren solo dining [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Hotelvak_Solo-Dining-04-300x200.jpg)

![penukaran uang [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Layanan-Penukaran-Uang-Rupiah-040325-bal-6-300x200.jpg)
![Tren Gamis Bini Orang [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/tren-gamis-bini-orang-1772599586030_43-300x225.jpeg)