Lintas Agama di Bali Bersatu: Suarakan Pesan Kemanusiaan dan Perlindungan Bumi

Rabu, 24 September 2025

Deklarasi lintas agama di Bali (istimewa)

Di tengah hiruk-pikuk krisis iklim yang semakin nyata, sebuah momen langka dan penuh makna terjadi di Bali.

Lima pemimpin agama dari beragam latar belakang, mulai dari Islam, Katolik, Buddha, Kristen, hingga Hindu, bersatu dalam satu panggung untuk menyuarakan komitmen mereka terhadap perlindungan bumi.

Acara bertajuk Dialog Lintas Iman “Draw the Line Bali” ini diadakan di Puja Mandala, sebuah tempat yang menjadi simbol kerukunan umat beragama, dengan pesan tunggal: merawat bumi adalah bagian dari ibadah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari aksi global menghadapi Minggu Iklim dan UN General Assembly yang berlangsung pada 15-21 September di New York dan menekankan pentingnya komitmen seluruh negara menahan laju kenaikan suhu bumi.

Merawat Bumi sebagai Ibadah dan Tanggung Jawab Moral

Para pemuka agama secara bergantian menyampaikan perspektif ajaran masing-masing tentang kewajiban menjaga lingkungan.

KH. Ibnu Subhan dari Masjid Agung Ibnu Batutah mengutip hadis Nabi Muhammad tentang pentingnya menanam pohon, bahkan saat kiamat, sebagai metafora untuk terus berbuat kebaikan bagi bumi.

Sementara itu, Alexander Sani Kelen dari Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa menegaskan bahwa kekuasaan manusia atas alam tidak mutlak, dan gereja mendorong “pertobatan ekologis” untuk mengkritisi budaya konsumerisme yang boros.

Kesederhanaan dan Menanam Karma Baik Kolektif

Dari Vihara Buddha Guna, Pandita Nyoman Setiabudi mengingatkan bahwa ajaran Buddha menolak keserakahan yang melampaui kebutuhan.

Ia melihat kerusakan lingkungan di Bali sebagai tanda “karma kolektif” yang harus diubah dengan hidup sederhana dan menanam “karma baik kolektif.”

Di sisi lain, Pendeta Wisesa dari GKPB Bukit Doa menekankan konsep “satu tubuh Kristus” untuk mendorong visi bersama dalam merawat bumi sebagai rumah bersama.

Kearifan Lokal dan Nilai Catur Hita Karana

Pandangan dari Hindu disampaikan oleh Jero Ketut Subianta dari Pura Jagatnatha yang menjelaskan nilai kesucian laut melalui ritual melasti.

Pandangan ini diperkuat oleh Ida Bagus K. Susena dari Puskor Hindunesia, yang mengkritisi pembangunan masif yang tidak mengindahkan kearifan lokal.

Ia menyerukan agar Bali kembali pada prinsip Catur Hita Karana, yaitu hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Deklarasi Puja Mandala: Suara Iman Adalah Suara Alam

Puncak acara ditandai dengan deklarasi komitmen bersama untuk menjaga bumi sebagai amanah.

Hening Parlan, Direktur Greenfaith Indonesia, menegaskan bahwa deklarasi ini adalah momen penting di mana “suara iman adalah suara alam.”

Ia menyatakan bahwa iman kepada Tuhan dari agama mana pun harus mendorong tindakan nyata untuk mencegah kerusakan.

Puja Mandala Bali (istimewa)

Suara Anak Muda: Aksi Iklim Harus Diambil Sekarang

Suara generasi muda diwakili oleh Paskah Toga, mahasiswa dari Universitas Udayana dan Ketua Climate Rangers Bali.

Dengan tegas, ia menyatakan bahwa generasinya “tidak akan berhenti menyuarakan pentingnya melawan krisis iklim.”

Paskah menegaskan bahwa aksi yang ambisius harus diambil oleh pemerintah di berbagai level “sekarang, sebelum terlambat,” menunjukkan urgensi yang dirasakan oleh generasi penerus.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Acara kolaboratif ini diharapkan menjadi pijakan bagi masyarakat Bali dan dunia untuk menempatkan perlindungan alam sebagai agenda utama.

Pesan damai dari Bali, yang disampaikan oleh para pemuka agama, adalah seruan global untuk berhenti bertindak sewenang-wenang terhadap alam.

Ini adalah harapan untuk masa depan di mana pembangunan berkeadilan dan berkelanjutan menjadi prioritas.

Statement:

Sisilia Nurmala Dewi, Indonesia Team Leader 350.org Indonesia

“Ke Bali dunia datang berbondong-bondong, dari Bali pula kita dapat menebarkan pesan damai, berhenti bertindak sewenang-wenang terhadap sesama dan alam ciptaan. Di Puja Mandala, perbedaan dipandang sebagai rahmat dan keberagaman sebagai kekuatan. Seruan ini ditegaskan kepada semua pihak agar berdiri di garis yang benar—bersama menjaga bumi, bersama menolak kehancuran.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir