Luruskan Isu Miring, Kepala BGN Buka Suara Soal Anggaran Fantastis Program MBG

Selasa, 14 April 2026

Dadan Hindayana-Kepala Badan Gizi Nasional [dok. web]
Dadan Hindayana-Kepala Badan Gizi Nasional [dok. web]

Kabar miring mengenai anggaran jumbo dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya mendapat jawaban tegas dari pihak berwenang.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, secara resmi membantah isu yang menyebutkan adanya pengadaan 32 ribu unit laptop dan alat makan senilai Rp4 triliun.

Informasi yang sempat viral dan memicu perdebatan di jagat maya tersebut dipastikan tidak sesuai dengan fakta realisasi anggaran yang sebenarnya di lapangan.

Dalam keterangannya, Dadan menekankan bahwa angka-angka fantastis yang beredar luas di publik tersebut sama sekali tidak benar.

Menurutnya, distribusi informasi yang tidak akurat dapat memicu sentimen negatif terhadap program pemerintah yang sejatinya ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Klarifikasi ini diharapkan mampu memberikan perspektif yang lebih jernih bagi netizen agar tidak terjebak dalam spekulasi yang tidak berdasar.

Bongkar Data Realisasi Laptop dan Alat Makan SPPG

Menjawab isu pengadaan laptop yang disebut mencapai puluhan ribu unit, Dadan merinci bahwa sepanjang tahun 2025, pengadaan laptop di lingkungan BGN hanya berkisar di angka 5.000 unit.

Jumlah ini jauh di bawah rumor yang menyebutkan angka 32 ribu unit.

Perbedaan angka yang sangat signifikan ini menunjukkan adanya disinformasi yang cukup masif terkait operasional internal lembaga yang baru dibentuk tersebut.

Selain soal laptop, urusan alat makan pun tak luput dari klarifikasi detail sang Kepala BGN.

Pengadaan perlengkapan makan sebenarnya hanya ditujukan untuk mendukung operasional 315 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang dibiayai oleh APBN.

Alokasi anggarannya pun tercatat hanya sebesar Rp89,32 miliar dengan realisasi sekitar Rp68,94 miliar, sebuah angka yang berbanding terbalik dengan isu Rp4 triliun yang sempat menghebohkan.

Fakta di Balik Isu Kaos Kaki dan Mekanisme Swakelola

Polemik tidak berhenti di alat makan saja, isu pengadaan kaos kaki juga sempat menjadi bahan gunjingan publik.

Namun, Dadan menegaskan bahwa BGN tidak melakukan pengadaan langsung untuk perlengkapan tersebut.

Kaos kaki dan atribut lainnya merupakan bagian dari perlengkapan peserta pendidikan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang dikelola secara teknis oleh Universitas Pertahanan melalui mekanisme swakelola tipe 2.

Dalam sistem swakelola ini, tanggung jawab pengadaan perlengkapan berada di tangan pihak pelaksana pendidikan, bukan langsung di bawah kendali BGN.

Dengan penjelasan ini, diharapkan publik memahami alur birokrasi dan tanggung jawab anggaran yang berlaku.

Dadan memastikan bahwa setiap pengeluaran telah melalui perencanaan yang matang dan mengikuti Surat Keputusan Bersama (SKB) lintas kementerian demi menjaga akuntabilitas.

Komitmen Transparansi dan Pesan Bijak dalam Menanggapi Informasi

BGN menyatakan komitmen kuatnya untuk terus menjaga prinsip efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan anggaran negara.

Seluruh proses penganggaran disebut telah melewati pengawasan ketat, baik dari sisi internal maupun eksternal.

Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar berdampak pada keberhasilan program Makan Bergizi Gratis yang menjadi prioritas nasional saat ini.

Sebagai penutup, Dadan mengimbau agar masyarakat lebih bijak dan kritis dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial.

Sangat penting bagi publik untuk merujuk pada sumber resmi dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum terverifikasi kebenarannya.

Dengan literasi informasi yang baik, masyarakat diharapkan dapat mendukung keberlangsungan program gizi nasional ini tanpa terganggu oleh narasi-narasi yang menyesatkan.

Statement:

Dadan Hindayana (Kepala BGN)

“Pengadaan itu ada, tetapi tidak sebanyak yang disebutkan. Misalnya laptop 32 ribu unit dan alat makan senilai Rp4 triliun sama sekali tidak benar. Pengadaan laptop hanya sekitar 5.000 unit sepanjang 2025. Anggaran khusus alat makan terealisasi sekitar Rp68,94 miliar. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan merujuk pada sumber resmi.”

3 Poin Penting:

  • Bantahan Anggaran Fantastis: BGN menegaskan kabar pengadaan laptop 32 ribu unit dan alat makan senilai Rp4 triliun adalah hoaks.

  • Detail Realisasi: Pengadaan laptop hanya 5.000 unit dan anggaran alat makan untuk 315 dapur SPPG terealisasi sebesar Rp68,94 miliar dari APBN.

  • Klarifikasi Kaos Kaki: Perlengkapan kaos kaki adalah tanggung jawab Universitas Pertahanan melalui mekanisme swakelola pendidikan SPPI, bukan pengadaan langsung BGN.

[gas/man]

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir