Dunia maya kembali dihebohkan oleh kemunculan sebuah patung macan di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri.
Bukannya terlihat gahar layaknya harimau pada umumnya, patung ini justru memancing gelak tawa dan beragam reaksi dari netizen.
Pasalnya, corak hitam putih pada tubuh patung tersebut dinilai lebih menyerupai zebra atau bahkan perpaduan antara tapir dan kuda nil, sehingga jauh dari representasi macan yang mestinya menyeramkan.
Sorotan publik tidak hanya berhenti pada visualnya yang nyeleneh, tetapi juga merembet ke masalah anggaran.
Banyak warganet yang kepo dan mempertanyakan apakah dana desa yang digunakan sebanding dengan hasil akhir patung yang kurang proporsional tersebut.
Fenomena ini pun langsung menjadi trending karena dianggap sebagai salah satu karya seni rupa yang “out of the box” di lingkungan perangkat desa.
Kepala Desa Buka Suara Soal Sumber Dana Pribadi
Menanggapi kegaduhan yang terjadi, Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, langsung memberikan klarifikasi agar tidak terjadi salah paham.
Beliau menegaskan bahwa pembangunan patung tersebut sama sekali tidak menyentuh dana negara maupun dana desa.
Usut punya usut, ternyata seluruh biaya pembuatan berasal dari kantong pribadinya sendiri sebagai bentuk inisiatif murni untuk mempercantik desa tanpa membebani anggaran publik.
Safi’i menjelaskan bahwa proyek ini menghabiskan dana sekitar Rp3,5 juta yang dialokasikan untuk material seperti besi dan semen, serta upah bagi pengrajin lokal.
Proses pengerjaannya sendiri memakan waktu sekitar 18 hari. Keputusan menggunakan dana pribadi diambil karena anggaran desa saat ini sedang difokuskan untuk program ketahanan pangan, sehingga ia memilih berkorban demi mewujudkan ikon baru bagi desanya.
Mengangkat Legenda Desa Lewat Ikon Macan Putih
Sebenarnya, ada niat mulia di balik pembangunan patung unik ini. Safi’i ingin mengangkat kembali legenda lokal tentang macan putih yang selama ini menjadi cerita turun-temurun di Desa Balongjeruk.
Ia berharap keberadaan patung ini bisa menjadi pengingat bagi generasi muda tentang identitas dan sejarah desa mereka.
Sayangnya, eksekusi visual dari seniman lokal yang ditunjuk ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi awal yang direncanakan.
Meski hasilnya memicu perdebatan, Safi’i mengaku kaget sekaligus pasrah dengan wujud akhir patung tersebut. Ia tidak menyangka bahwa interpretasi sang pematung bakal berakhir seperti yang sedang viral saat ini.
Namun, alih-alih emosi, ia justru menanggapi segala kritik dan saran dari netizen dengan kepala dingin sebagai masukan berharga untuk evaluasi pembangunan fasilitas desa di masa depan.
Sudut Pandang Seni dan Ekspresi Bebas Sang Pematung
Menariknya, fenomena ini juga menarik perhatian para pelaku seni. M. Prastiyo, seorang pegiat seni, menilai bahwa patung tersebut bisa dilihat dari kacamata aliran surealisme atau ekspresionisme.
Dalam dunia seni, seorang pematung tidak selalu harus meniru bentuk alam secara mentah-mentah.
Bisa jadi, bentuk yang dianggap mirip zebra tersebut merupakan luapan ekspresi jujur dari sang seniman saat menerjemahkan legenda macan putih ke dalam bentuk fisik.
Kini, patung “macan zebra” tersebut telah resmi menjadi ikon paling dibicarakan di Kediri.
Walaupun bentuknya dianggap kurang proporsional oleh sebagian orang, tidak sedikit pula yang mengapresiasi keberanian sang kepala desa dalam memajukan desanya.
Polemik ini menjadi pelajaran penting bahwa perencanaan teknis dan komunikasi visual sangat krusial dalam membangun sebuah ikon publik, agar pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat luas.
Statement:
Safi’i, Kepala Desa Balongjeruk
“Anggarannya bersumber dari kantong pribadi saya sendiri karena saya yang menginisiasi pembuatan patungnya untuk mengangkat legenda desa sebagai ikon. Saya juga merasa kaget dengan hasil pembuat patung tersebut yang ternyata wujudnya jauh dari perencanaan awal. Namun, semuanya kita tampung karena kritik dan saran itu sangat penting bagi kemajuan bersama.”
3 Poin Penting:
-
Inisiatif Mandiri: Pembuatan patung macan di Desa Balongjeruk murni menggunakan dana pribadi kepala desa sebesar Rp3,5 juta, bukan dari dana desa.
-
Representasi Unik: Hasil akhir patung yang menyerupai zebra memicu viral di media sosial karena dinilai tidak proporsional dan jauh dari konsep macan pada umumnya.
-
Tujuan Pelestarian: Patung tersebut dibangun untuk mempopulerkan legenda macan putih sebagai ikon desa agar tetap diingat oleh generasi mendatang.


![kebakaran binus [dok. kompas]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Kebakaran-di-universitas-binus.jpg-300x169.webp)
![beasiswa ocha LCC [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/e1u207RAJBeV5gQ9Xj7nQJc84WgBb4V1H6u9wich-300x169.webp)