Mahasiswa Indonesia di Kairo Inisiasi Gerakan “Mesir Bergerak” untuk Demokrasi

Selasa, 16 September 2025

Mahasiswa Indonesia di Kairo (istimewa)

Menanggapi kondisi politik di tanah air, mahasiswa, aktivis, dan diaspora Indonesia di Kairo, Mesir, menggelar diskusi dan konsolidasi dalam gerakan bernama “Mesir Bergerak” pada Rabu (10/9).

Inisiator gerakan ini, Liefta Afrilia Putri, menyebut bahwa acara ini merupakan bentuk keprihatinan atas dinamika yang terjadi di Indonesia, khususnya pasca-peristiwa 25 Agustus 2025 yang memicu gelombang demonstrasi.

Keresahan atas Mundurnya Demokrasi

Dalam pidatonya, Liefta menyoroti berbagai isu yang dianggapnya sebagai kemunduran demokrasi, seperti sikap arogan oknum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), ketimpangan anggaran, serta tindakan represif terhadap mahasiswa dan aktivis.

Ia juga mengungkapkan kesedihan atas penangkapan, hilangnya aktivis, hingga jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil yang tidak terlibat dalam aksi.

Membangun Diskusi Sehat di Tengah Perpecahan

Liefta juga menyoroti perpecahan yang terjadi di masyarakat akibat perbedaan pandangan politik, yang diperparah oleh narasi-narasi provokatif di media sosial.

Ia mengajak seluruh pihak untuk tidak terbawa emosi dan kebencian.

Diskusi yang diberi judul “Aksi Massa dan Masa Depan Demokrasi” ini diharapkan menjadi ruang untuk membangun argumentasi yang sehat dan ilmiah.

Gerakan Swadaya Tanpa Dukungan Pihak Tertentu

Kegiatan ini secara tegas diklaim sebagai gerakan murni rakyat yang dibiayai secara swadaya.

Ketua Pelaksana, Muh Rifat Arifin, menegaskan bahwa seluruh pendanaan berasal dari dana pribadi Liefta Afrilia Putri sebagai inisiator.

Materi Diskusi dan Analisis Mendalam

Diskusi menghadirkan lima pemateri dengan beragam topik. Liefta membuka sesi dengan materi “Edukasi Dasar Politik dan Masa Depan Demokrasi”, diikuti oleh Ahmad Doivi yang mengulas sejarah demokrasi.

Dede Muflih memberikan kronologis kericuhan pada aksi 28 Agustus 2025, sementara Alman Haris menganalisis politik di balik peristiwa tersebut.

Faiz Ardhika menutup sesi dengan paparan dugaan konspirasi di balik rangkaian kejadian 25–31 Agustus, memberikan perspektif yang komprehensif bagi para peserta.

Deklarasi Sikap dan Dukungan Moral untuk Korban

Menjelang akhir acara, Liefta membacakan deklarasi yang menuntut pemerintah membuka ruang dialog dengan rakyat dan menindaklanjuti tuntutan secara adil.

Pernyataan sikap tersebut juga mengecam segala bentuk kekerasan terhadap masyarakat sipil.

Sebagai bentuk dukungan simbolis, para peserta menandatangani banner yang memuat 11 foto korban yang gugur dalam aksi, yang diawali oleh Liefta dan Rifat, kemudian diikuti oleh seluruh peserta.

Harapan untuk Gerakan Mahasiswa di Luar Negeri

Acara ini diharapkan menjadi awal dari forum-forum serupa yang konsisten menyuarakan kepentingan rakyat.

Para inisiator percaya bahwa mahasiswa dan diaspora Indonesia di luar negeri memiliki tanggung jawab moral untuk peduli terhadap kondisi bangsa.

Statement:

Muh Rifat Arifin, Ketua Pelaksana “Mesir Bergerak”

“Kami mahasiswa dan diaspora Indonesia di Mesir berdiri bersama rakyat. Kami mengecam segala bentuk kekerasan terhadap masyarakat sipil.”

Liefta Afrilia Putri

“Banyak dari teman-teman kita ditangkap, bahkan hilang. Ada juga warga sipil yang gugur, bukan karena ikut aksi, tapi karena mereka ada di tempat yang salah saat mencari nafkah.”

“Kita harus mulai bicara pakai pikiran, bukan emosi. Berbicaralah dengan rasa kepedulian bukan kebencian.”

“Untuk apa kita jauh-jauh belajar ke luar negeri jika abai dengan kondisi bangsa dan rakyat, apakah kita jauh-jauh belajar di luar negeri untuk menjadi orang kapitalis dan apatis? We choose to speak up not to give up!”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir