Pernah dengar istilah Mo Sangki Pae Kita Mosiala Pale? Kalimat puitis dari bahasa lokal ini punya arti yang sangat mendalam, yaitu mengarit padi kita bergandeng tangan.
Bagi masyarakat Desa Limboro, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, istilah ini bukan sekadar jargon keren saat musim panen tiba.
Lebih dari itu, kalimat ini menjadi simbol kebangkitan dan pulihnya harapan para petani setempat setelah bertahun-tahun lamanya mereka harus gigit jari akibat lahan pertanian yang kering kerontang.
Bayangkan saja, selama kurang lebih 14 tahun, para petani di desa ini kehilangan sumber mata pencaharian utama mereka.
Penyebabnya adalah kerusakan parah pada Bendung Uvenja di Sungai Limboro akibat hantaman banjir bandang di masa lalu. Aliran irigasi yang terputus total membuat sekitar 43 hektare lahan sawah telantar dan tidak bisa ditanami sama sekali.
Namun, untungnya asa yang sempat mati suri itu kini kembali mekar berkat aksi nyata para mahasiswa kulia kerja nyata (KKN) yang turun langsung ke lapangan.
Sinergi KKN Lintas Kampus Demi Menghidupkan Kembali Aliran Irigasi
Titik terang mulai muncul ketika tim KKN-PPM UGM Bulava Donggala berkolaborasi dengan Universitas Tadulako (UNTAD) pada akhir tahun 2024.
Melalui serangkaian pemetaan kebutuhan wilayah yang matang, kedua kampus ini sepakat menjadikan perbaikan Bendung Uvenja sebagai program prioritas utama.
Dosen Pembimbing Lapangan, Prof. Ir. Nizam, bersama tim mahasiswa bahkan rela blusukan sejak dini untuk berdialog langsung dengan perangkat desa hingga Pemerintah Kabupaten Donggala demi merumuskan solusi terbaik.
Berkat gerakan gotong royong yang solid antara mahasiswa, warga lokal, pemerintah daerah, serta bantuan alat berat, bendungan legendaris tersebut akhirnya berhasil direnovasi.
Air sungai kembali mengalir deras membasahi petak-petak sawah yang sudah lama kerontang.
Pada awal tahun 2026, kawasan subur yang punya potensi menghasilkan sekitar delapan ton gabah per hektare ini akhirnya resmi melakukan panen raya, sekaligus memperkuat posisi Desa Limboro sebagai salah satu pilar lumbung padi di Sulawesi Tengah.
Mengenal Gamagora Padi Amfibi Anti El Nino Hasil Inovasi Kampus
Keberhasilan mengalirkan kembali air irigasi ternyata barulah babak awal dari cerita keren ini.
Guna memperkuat ketahanan pangan lokal, Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni, Dr. Arie Sujito, yang turut hadir dalam perayaan panen tersebut ikut menyerahkan bantuan benih padi varietas unggul bernama Gamagora.
Varietas ini merupakan produk hilirisasi riset mutakhir dari para peneliti UGM yang sengaja diciptakan untuk menghadapi tantangan iklim yang tidak menentu.
Padi Gamagora ini punya karakteristik unik mirip hewan amfibi, karena sangat adaptif ditanam di area persawahan basah maupun di lahan kering yang minim air.
Keunggulan inilah yang dinilai menjadi senjata paling ampuh bagi para petani Sulawesi dalam menghadapi ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena alam El Nino.
Kormanit KKN-PPM UGM, I Komang Agus Juliantara, menambahkan bahwa mahasiswa juga mendirikan demonstration plot (demplot) sebagai sarana edukasi interaktif bagi warga untuk mendalami teknik budidaya varietas ini secara berkelanjutan.
Edukasi Berkelanjutan dan Program Pemberdayaan yang Berdampak Luas
Kehadiran para mahasiswa di ujung Kabupaten Donggala ini tidak hanya berpusat pada urusan pertanian semata.
Mengusung konsep pemberdayaan yang komprehensif, Tim KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2026 juga menginisiasi proyek lingkungan hidup dan pariwisata.
Beberapa program keren yang ikut dieksekusi di antaranya adalah restorasi terumbu karang di pesisir pantai, penguatan sektor ekonomi kreatif warga, hingga mitigasi bencana melalui rencana pembangunan tanggul alam dan penanaman pohon bambu sebagai penahan erosi.
Kolaborasi emosional yang terjalin erat ini pun menuai apresiasi tinggi dari Kepala Desa Limboro, Mohammad Kifli, serta perwakilan kelompok tani, Waludin.
Warga merasa sangat tersentuh karena ada sosok akademisi tingkat tinggi seperti Prof. Nizam yang mau turun ke lumpur dan berproses langsung bersama para petani tradisional.
Sinergi ini menjadi bukti autentik bahwa inovasi secanggih apa pun tidak akan berjalan optimal tanpa adanya keterbukaan, kerja keras, dan rasa saling memiliki antara kaum intelektual muda dengan masyarakat desa.
Statement:
Dr. Arie Sujito, Wakil Rektor UGM
“Mari daerah-daerah itu sumber dayanya dijaga, pertanahannya diperkuat, pangannya dipikul. Gamagora merupakan padi yang amfibi dan bisa hidup di lahan yang kering, serta memiliki produktivitas yang unggul. Diharapkan padi ini dapat membantu masyarakat untuk mengatasi serangan El Nino ke depannya di Sulawesi.”
I Komang Agus Juliantara, Kormanit KKN-PPM UGM
Kami akan mengenalkan lebih dalam lagi perihal padi Gamagora itu sendiri, khususnya yang terkait dengan cara penanaman, hal-hal khusus yang perlu diperhatikan, dan akan membuat demplot.”
3 Poin Penting:
-
Kebangkitan Bendung Uvenja: Kolaborasi program KKN-PPM UGM dan Universitas Tadulako sukses memperbaiki Bendung Uvenja yang rusak selama 14 tahun, sehingga 43 hektare sawah di Desa Limboro bisa kembali dialiri air dan panen raya.
-
Inovasi Padi Gamagora: UGM menghibahkan benih padi varietas Gamagora yang bersifat amfibi (bisa tumbuh di lahan basah maupun kering) sebagai solusi strategis bagi petani Donggala dalam mengantisipasi ancaman kekeringan akibat El Nino.
-
Pemberdayaan Lintas Sektor: Selain sektor pertanian lewat pembuatan demplot edukasi, mahasiswa KKN juga menjalankan program restorasi terumbu karang, penguatan ekonomi kreatif, serta penanaman bambu untuk mitigasi bencana.
![emas [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/H47Mhff2ou.jpeg-300x200.webp)


