Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Pendeteksi Banjir “Bungintimbe WaterSafe”

Senin, 18 Agustus 2025

Muhammad Nadhir Al Ghifari (ugm.ac.id)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan inovasi teknologi untuk mengantisipasi bencana banjir di Desa Bungintimbe, Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Alat pendeteksi banjir bernama Bungintimbe WaterSafe ini telah terpasang dan beroperasi, bertujuan memberikan peringatan dini kepada masyarakat.

Alat ini dirancang oleh Muhammad Nadhir Al Ghifari, seorang mahasiswa Teknik Fisika UGM, yang dibantu oleh rekan-rekannya dan dukungan penuh dari pemerintah desa.

Menurut Nadhir, pembuatan alat ini dilatarbelakangi oleh observasi langsung di lapangan, di mana Dusun 3 Desa Bungintimbe menjadi wilayah yang paling parah terdampak banjir tahunan dari Sungai La.

Mampu Beroperasi Secara Real Time

Bungintimbe WaterSafe dilengkapi dengan teknologi sensor ultrasonik yang canggih untuk mengukur ketinggian air secara otomatis setiap lima menit.

Data ketinggian air tersebut kemudian dikirimkan ke website atau dashboard yang dapat diakses oleh masyarakat secara real-time.

Alat ini akan mengeluarkan kode “waspada” jika ketinggian air mencapai 180 sentimeter, memberikan waktu bagi warga untuk bersiap dan mengevakuasi diri.

Atensi Pemerintah Desa

Inovasi ini disambut baik oleh Pelaksana Harian (PLH) Pemerintah Desa Bungintimbe, Amborape. Ia menegaskan bahwa banjir merupakan bencana rutin yang merugikan masyarakat, sehingga kehadiran alat ini sangat dibutuhkan.

Dengan adanya sistem peringatan dini otomatis, masyarakat tidak perlu lagi menugaskan petugas khusus untuk melakukan pemantauan secara manual.

Dengan adanya Bungintimbe WaterSafe, diharapkan Desa Bungintimbe dapat menjadi desa yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, terutama di daerah yang rawan banjir.

Statement:

Muhammad Nadhir Al Ghifari (Mahasiswa KKN UGM)

“Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan, banyak warga khususnya di dusun 3 Desa Bungintimbe yang terdampak paling parah atas banjir tahunan yang terjadi Sungai La.”

“Sistem ini memungkinkan pemantauan kondisi air Sungai La secara real-time, tanpa harus menugaskan petugas khusus untuk melakukan pengecekan manual setiap saat.”

Amborape (PLH Pemerintah Desa Bungintimbe)

“Banjir di Desa Bungintimbe itu bisa terjadi satu sampai dua kali dalam setahun. Ada yang setahun sekali, dua tahun sekali. Bahkan, ada yang lima tahunan sekali.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir