Mangrove Panimbang Sambat: Ekosistem Kritis Bikin Nelayan Kepiting Merana

Rabu, 17 Desember 2025

Kepiting Bakau (Wikipedia)

Puluhan tahun tinggal di pesisir Desa Mekarsari, Panimbang, Pandeglang, bikin Sanadi paham banget kalau laut adalah segalanya.

Dulu, hidup di sini serasa serba ada; mau ikan tinggal pancing, mau kepiting atau kerang tinggal nunggu air surut. Tapi beberapa tahun belakangan, suasananya berubah total.

Cuaca yang tidak menentu bikin kehidupan pesisir terasa makin rapuh, ditambah lagi ekosistem mangrove yang perlahan kehilangan kekuatannya.

Dampak paling nyata terasa sejak tsunami Selat Sunda akhir 2018 lalu. Gelombang besar waktu itu meratakan vegetasi bakau yang jadi benteng alami kampung nelayan.

Situasi makin chaos pada 2024 saat gelombang tinggi kembali menghantam garis pantai dan merusak rumah Sanadi.

Alih Fungsi Lahan: Saat Bakau Kalah Sama Vila dan Tambak

Kondisi mangrove di Panimbang makin memprihatinkan karena adanya ekspansi lahan. Banyak kawasan hijau yang sekarang berubah jadi tambak hingga bangunan industri seperti hotel, vila, bahkan tambang galian C.

Apalagi Panimbang masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang bikin pembangunan infrastruktur makin kencang.

Akibatnya, ketebalan mangrove menyusut drastis dari 200 meter sekarang sisa 10 sampai 15 meter saja di beberapa titik.

Hal ini otomatis bikin nelayan tangkap kayak Rasdi Gunawan (38) pusing tujuh keliling. Rasdi yang sudah satu dekade jadi pemburu kepiting bakau merasa hasil tangkapannya drop parah.

Dulu ia bisa bawa pulang 5 sampai 7 kilogram kepiting sehari, sekarang dapat 2 kilogram saja sudah syukur banget.

Kepiting Stres: Dampak Perubahan Iklim yang Makin Nyata

Gak cuma soal lahan, perubahan iklim juga bikin tantangan nelayan makin berat. Suhu air laut yang makin panas dalam beberapa tahun terakhir ternyata bikin kepiting bakau mudah stres dan mati.

Rasdi sering menemukan kepiting yang sudah lemas atau bahkan mati saat bubu (perangkap tradisional) diangkat. Kondisi ini jelas bikin nelayan merugi karena kepiting mati tidak punya nilai jual sama sekali di pasar.

Padahal, harga kepiting bakau lumayan banget buat menyambung hidup, bisa mencapai Rp85.000 per kilogram untuk ukuran besar.

Sekarang nelayan harus melaut lebih jauh ke arah ujung hutan yang mangrovenya masih agak mendingan.

Berkurangnya vegetasi bakau ini secara otomatis mempersempit ruang hidup biota laut yang bergantung pada akar mangrove sebagai tempat berkembang biak dan mencari makan.

Aksi Alam Lestari: Gerakan Swadaya demi Selamatkan Kampung

Melihat kondisi yang makin kritis, Sanadi gak mau tinggal diam begitu saja. Bersama istrinya, Sumiyiti, dan warga lainnya, mereka membentuk kelompok “Alam Lestari” untuk menanam kembali bibit bakau.

Meskipun sempat sedih karena 5.000 bibit yang mereka tanam habis tersapu ombak pada 2024, mereka tetap semangat.

Bagi mereka, bakau bukan sekadar pohon, tapi pelindung kampung dari ancaman abrasi dan tsunami yang bisa datang kapan saja.

Setiap pagi saat air surut, Sanadi dan timnya rajin menyemai berbagai jenis mangrove seperti Avicennia hingga Ceriops tagal.

Upaya swadaya ini butuh waktu lama, sekitar 10 tahun sampai mangrove benar-benar stabil. Namun, gerakan warga ini butuh dukungan penuh dari pemerintah untuk mengawasi praktik eksploitasi lahan atas nama pembangunan agar ruang hidup masyarakat pesisir tidak semakin tergusur.

Statement:

Sanadi (Pegiat Lingkungan Panimbang)

“Mangrove itu penting bukan cuma buat warga pesisir, yang tinggal di darat juga kena dampak kalau ekosistem mangrove rusak. Bisa terjadi abrasi… Bakau itu bukan cuma pohon, tapi pelindung kampung. Tanpa itu, abrasi makin parah dan kami nggak punya lagi tempat mencari nafkah.”

Rasdi Gunawan (Nelayan)

“Kalau dulu bisa dapat 5-7 kilogram dalam sehari. Sekarang nggak sampai setengahnya, paling dua kilo itu udah syukur… Kalau air terlalu panas, kepiting cepat lemas.”

3 Poin Penting:

  1. Penyusutan Ekosistem: Luasan mangrove di Panimbang menyusut drastis akibat bencana alam tsunami dan alih fungsi lahan untuk tambak, vila, serta proyek industri.

  2. Ekonomi Nelayan Terancam: Kerusakan habitat mangrove menyebabkan populasi kepiting bakau menurun drastis, menurunkan pendapatan nelayan hingga lebih dari 50%.

  3. Upaya Restorasi Warga: Masyarakat pesisir secara swadaya membentuk kelompok konservasi untuk menanam kembali bakau, namun membutuhkan perlindungan regulasi tata ruang dari pemerintah.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir