Search
Search
Search

Marak Erupsi Gunung Api di Indonesia, Pakar Vulkanologi Mbah Rono Sebut Fenomena Alam Mandiri

Selasa, 8 September 2026

Letusan gunung Anak Krakatau (x)

Indonesia belakangan ini kembali menjadi sorotan usai diterjang rentetan erupsi gunung api di berbagai daerah secara hampir bersamaan.

Sejumlah gunung aktif menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan, mulai dari Gunung Anak Krakatau, Gunung Sinabung, Gunung Merapi, Gunung Ibu, hingga Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Maraknya letusan ini sempat memicu kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan adanya keterkaitan geologis antar-gunung tersebut.

Menjawab keresahan publik, Pakar Vulkanologi terkemuka Indonesia, Surono—yang akrab disapa Mbah Rono—memberikan analisis mendalam terkait fenomena alam ini.

Mbah Rono menegaskan bahwa rentetan letusan gunung api yang terjadi saat ini sejatinya bukanlah satu kesatuan sistem yang saling terhubung.

Aktivitas erupsi yang berlangsung simultan tersebut murni merupakan dinamika alamiah mandiri dari masing-masing dapur magma gunung api.

Fase Alami Pertumbuhan Tubuh Gunung Anak Krakatau Pascalongsor 2018

Secara khusus, Mbah Rono memaparkan bahwa erupsinya Gunung Anak Krakatau merupakan bagian dari proses siklus alami pertumbuhan fisik gunung tersebut.

Pasca-peristiwa longsor besar yang memicu tsunami pada tahun 2018 silam, tubuh Gunung Anak Krakatau mengalami penyusutan drastis.

Oleh karena itu, letusan yang terjadi belakangan ini berfungsi untuk mengeluarkan material baru dari dalam perut bumi.

Pasokan magma yang terus mengalir dari dalam bumi memicu akumulasi tekanan tinggi yang secara alami harus dilepaskan ke permukaan.

Material vulkanik baru yang terlempar keluar akan menumpuk di sekitar kawah dan puncak, sehingga lambat laun membuat ukuran serta tinggi tubuh Gunung Anak Krakatau kembali membesar.

Proses geologis ini merupakan hal wajar yang memang harus dilalui oleh sebuah gunung api muda yang sedang tumbuh.

Dampak Abu Vulkanik pada Objek Vital Strategis Nasional

Terkait gangguan operasional di sejumlah transportasi udara, seperti Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Radin Inten II, Mbah Rono menyebut hal itu dipicu oleh sebaran abu halus yang terbawa oleh pergerakan arah angin.

Letusan gunung api ini memicu perhatian publik yang sangat besar lantaran abu vulkaniknya menjangkau infrastruktur serta objek vital strategis nasional di kawasan sekitar Selat Sunda.

Menurut analisisnya, tingkat risiko bencana terkesan melonjak tinggi karena keberadaan fasilitas umum utama tersebut berada dalam jangkauan paparan debu vulkanik.

Jika letusan serupa terjadi di kawasan terisolasi tanpa adanya objek vital atau pemukiman padat di sekitarnya, dampaknya tidak akan menimbulkan kepanikan sosial yang begitu masif di tengah masyarakat luas.

Pentingnya Sosialisasi Konsisten dan Penguatan Koordinasi Mitigasi Bencana

Mbah Rono juga menyoroti kepanikan warga yang kerap muncul saat terjadi peningkatan status gunung api di berbagai wilayah.

Kondisi psikologis masyarakat tersebut dinilai berakar dari masih kurang konsistennya sosialisasi mengenai mitigasi bencana dan langkah penanganan darurat.

Kejadian erupsi yang tidak berlangsung setiap hari membuat warga kerap lupa atau bingung mengenai tindakan yang harus dilakukan saat bahaya mengancam.

Guna mengatasi persoalan tersebut, koordinasi antara pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) didesak untuk terus diperkuat.

Penyampaian informasi yang cepat, akurat, dan berkelanjutan dipandang sebagai kunci utama untuk membangun kesiapsiagaan warga lokal, sehingga risiko korban jiwa maupun kerugian materiil dapat ditekan seminimal mungkin.

Statement:

Surono/Mbah Rono, Pakar Vulkanologi Indonesia

“Sebetulnya kan itu hal yang biasa saja karena gunung kita terlalu banyak, kebetulan saja bersamaan. Tapi pada dasarnya mereka punya sumber magma yang berbeda-beda dan sumber tekanan yang berbeda-beda.”

“Harus secara alami dia melakukan ini si Anak Krakatau ini karena dia itu secara alami akan membentuk tubuhnya. Dampak langsung kepada manusia, hanya ini kan risikonya menjadi tinggi karena ada objek vital strategis yang tidak jauh dari jangkauan Anak Krakatau.”

“Kepanikan itu ada karena kejadiannya kan tidak setiap hari. Tidak mendengar informasi harus berbuat apa jika terjadi kesulitan seperti itulah.”

3 Poin Penting:

  • Erupsi Mandiri Berlainan Dapur Magma: Rentetan letusan Gunung Anak Krakatau, Merapi, Sinabung, Ibu, dan Ili Lewotolok merupakan aktivitas mandiri dengan sumber magma serta tekanan yang berbeda.

  • Pertumbuhan Alamiah Anak Krakatau: Erupsi Gunung Anak Krakatau berfungsi melepaskan akumulasi tekanan magma untuk membangun kembali struktur tubuh gunung pascalongsor 2018.

  • Pentingnya Edukasi Mitigasi Bencana: Paparan abu vulkanik memicu risiko tinggi karena mengenai objek vital strategis, sehingga sosialisasi mitigasi BNPB dan pemda perlu diperkuat untuk mencegah kepanikan warga.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan