Di tengah hiruk-pikuk Pulau Jawa yang makin padat dan sesak, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah masih ada ruang aman untuk satwa endemik kita? Kabar baik datang dari lanskap hijau Jawa Timur, tepatnya di Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo.
Di sana, primata kece bernama lutung jawa atau Trachypithecus auratus ternyata masih eksis dan menggantungkan hidupnya pada kanopi hutan yang relatif masih utuh dan terjaga dari tangan jahil manusia.
Data terbaru menunjukkan bahwa si “Lutung Budeng” ini masih bisa kita jumpai di sepanjang bentang hutan pegunungan Arjuno, Welirang, hingga Anjasmoro.
Mereka hidup dengan gaya yang cukup berkelompok, biasanya terdiri dari 5 sampai 12 individu dalam satu geng. Menariknya, mereka sangat bergantung pada strata tajuk hutan bagian tengah hingga atas, yang artinya kalau pohon-pohon di sana gundul, tamat sudah riwayat mereka karena mereka sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Keunikan Rambut Kemerahan dan Habitat di Ketinggian Ekstrem
Satu hal yang bikin lutung di kawasan ini unik dan sering jadi pusat perhatian para peneliti adalah variasi warna rambut mereka. Meskipun mayoritas berwarna hitam legam, dalam satu kelompok hampir selalu terselip satu individu yang rambutnya berwarna kemerahan.
Fenomena visual yang kontras ini menjadi ciri khas konsisten yang bikin pemandangan di Tahura Raden Soerjo makin estetik sekaligus misterius bagi siapa pun yang beruntung melihatnya secara langsung.
Adaptasi lutung jawa di sini juga terbilang juara karena mereka mampu menempati rentang ketinggian mulai dari 300 hingga 3.000 mdpl. Selama struktur tajuk hutannya masih rapat dan saling terhubung, mereka bakal betah berlama-lama di sana.
Berdasarkan analisis satelit terbaru tahun 2024, kawasan ini memang didominasi oleh vegetasi yang rapat dan sedang, sehingga kualitas habitatnya masih dikategorikan sangat baik untuk menunjang kehidupan primata arboreal tersebut.
Tantangan Alih Fungsi Lahan dan Pentingnya Konektivitas Tajuk
Sayangnya, kehidupan santai para lutung ini bukan tanpa hambatan. Sebagai primata yang menghabiskan hampir seluruh waktunya di atas pohon, mereka butuh konektivitas tajuk alias jembatan antar-pohon yang bersambung.
Fragmentasi hutan, sekecil apa pun itu, bisa berdampak gawat buat dinamika kelompok mereka. Jika koridor kanopi terputus, mereka bakal kesulitan mencari makan, mencari pasangan, atau bahkan sekadar menghindari predator yang mengintai dari bawah.
Rosek Nur Sahid dari Profauna juga mengingatkan bahwa alih fungsi hutan lindung menjadi lahan pertanian sayur adalah ancaman nyata yang bisa memecah habitat mereka. Oleh karena itu, pengelola Tahura Raden Soerjo nggak tinggal diam dengan rutin melakukan patroli bareng Polisi Kehutanan.
Langkah preventif ini dilakukan demi mencegah perburuan liar dan kebakaran hutan yang bisa menghanguskan “rumah” sekaligus sumber pangan alami para lutung tersebut.
Konservasi Berbasis Masyarakat Sebagai Kunci Masa Depan
Guna menjamin kelestarian jangka panjang, pendekatan konservasi sekarang mulai melibatkan masyarakat lokal, terutama para petani hutan.
Profauna terus mendorong skema perhutanan sosial agar para petani beralih dari tanaman sayur yang bikin tanah terbuka ke tanaman berkayu seperti alpukat atau mangga.
Dengan begitu, ekonomi warga tetap jalan, tapi fungsi hutan sebagai penyedia tajuk untuk lutung jawa tetap terjaga dengan maksimal dan berkelanjutan.
Lutung jawa sejatinya bukan sekadar penghuni hutan biasa, melainkan spesies kunci sekaligus bioindikator kesehatan ekosistem. Kalau populasi lutung di suatu kawasan hilang, itu adalah sinyal darurat bahwa hutan tersebut sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Dengan pengelolaan habitat yang tepat dan pengawasan ketat, kita tentu berharap “si rambut merah” dan kawan-kawannya ini tetap bisa berayun bebas di tajuk hutan Jawa hingga puluhan tahun ke depan.
Statement:
Agustiningtyas Marini, Kepala UPT Tahura Raden Soerjo
“Mereka hidup berkelompok antara 5-12 individu. Lutung jawa memerlukan tajuk hutan rapat dan saling terhubung. Angka tutupan vegetasi saat ini menandakan sebagian besar bentang tahura memiliki kualitas habitat relatif baik. Sampai saat ini tak ada kasus perburuan lutung jawa di kawasan kami.”
3 Poin Penting:
-
Lutung jawa masih bertahan dengan baik di kawasan Tahura Raden Soerjo (Arjuno-Welirang-Anjasmoro) dengan populasi yang terbagi dalam kelompok kecil beranggotakan 5-12 individu.
-
Analisis NDVI 2024 menunjukkan kualitas habitat masih cukup stabil dengan tingkat tutupan vegetasi rapat mencapai lebih dari 12.000 hektar yang mendukung aktivitas arboreal primata tersebut.
-
Tantangan utama kelestarian lutung jawa adalah fragmentasi hutan dan alih fungsi lahan, sehingga diperlukan pendekatan konservasi berbasis masyarakat dan patroli rutin untuk mencegah gangguan kawasan.



