Search

Mata Badai Laut Cina Selatan yang Kian Melambat dan Dampak Cuaca Ekstrem di Indonesia

Jumat, 24 Oktober 2025

Dampak siklon tropis Fengshen pada cuaca di Indonesia (istimewa)

Siklon Tropis Fengshen kini menjadi perhatian utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), meskipun pergerakannya di Laut Cina Selatan dikabarkan terus mereda.

Siklon ini, yang merupakan pengembangan dari Bibit Siklon Tropis 97W, terpantau memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 30 knot (sekitar 55 km/jam) pada Kamis (23/10/2025).

Dalam 24 jam terakhir sejak pantauan terakhir, BMKG mencatat adanya penurunan kecepatan angin yang signifikan seiring pergerakannya menuju barat-barat daya.

Fenomena ini memberikan sedikit kelegaan, di mana BMKG memproyeksikan Fengshen akan melemah menjadi kategori low atau rendah dalam 24 jam ke depan.

Meski demikian, peringatan dini tetap diserukan kepada masyarakat, terutama yang beraktivitas di wilayah perairan, agar tidak lengah terhadap potensi dampak tidak langsung.

Bibit Siklon dan Ancaman Gelombang Tinggi di Perairan Indonesia

Selain Fengshen, BMKG juga memantau perkembangan Bibit Siklon Tropis 97W yang berada di wilayah Laut Filipina dan telah memasuki Area of Monitoring Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis (TCWC).

Meskipun potensi bibit siklon ini untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 hingga 72 jam ke depan masih berada dalam kategori rendah, kedua fenomena alam ini secara kolektif berpotensi memicu gangguan di sejumlah perairan Indonesia.

Fenomena ini adalah pengingat akan kerentanan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan luas.

Dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Fengshen dan Bibit Siklon 97W diperkirakan akan terasa dalam bentuk peningkatan ketinggian gelombang laut.

Hal ini menuntut kewaspadaan ekstra, khususnya bagi para nelayan, pelayaran, dan masyarakat pesisir di area terdampak.

Siklon tropis Fengshen (istimewa)

Peringatan Dini bagi Nelayan di Natuna hingga Pasifik Utara

Dampak konkret dari pergerakan Siklon Tropis Fengshen adalah potensi gelombang laut tinggi kategori sedang, dengan ketinggian antara 1,25 hingga 2,5 meter.

Area yang paling diwaspadai meliputi Laut Natuna Utara dan Selat Karimata bagian utara. Gelombang dengan ketinggian tersebut tentu dapat mengganggu aktivitas pelayaran dan membahayakan kapal-kapal kecil.

Sementara itu, dampak dari Bibit Siklon Tropis 97W juga tidak bisa diabaikan. Bibit siklon ini berpotensi menyebabkan gelombang laut kategori sedang di wilayah Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua, perairan Kepulauan Talaud, dan Laut Maluku bagian utara.

Kondisi ini menuntut penyesuaian jadwal pelayaran dan kegiatan penangkapan ikan untuk menghindari risiko yang tidak perlu.

Kewaspadaan yang Berlanjut di Tengah Pelemahan

Dalam pembaruan data terakhir yang dirilis BMKG pada Jumat (24/10) sore, Siklon Tropis Fengshen masih berada dalam kategori peluang rendah untuk menjadi siklon tropis yang aktif dalam 72 jam ke depan.

Kabar pelemahan ini tentu melegakan. Namun, pesan utama yang disampaikan oleh BMKG adalah pentingnya kewaspadaan yang berkesinambungan.

Masyarakat diajak untuk terus memantau perkembangan cuaca dan peringatan dini dari otoritas terkait.

Sebab, meskipun siklon utama mereda, dampak tidak langsungnya pada gelombang laut dan kondisi cuaca ekstrem di perairan Indonesia bisa berlangsung lebih lama dan menjadi ancaman serius bagi keselamatan dan mata pencaharian masyarakat bahari kita.

Statement:

BMKG (dalam akun X)

“Terpantau Siklon Tropis Fengshen berkembang dari Bibit Siklon Tropis 97W terpantau berada di Laut Cina Selatan. Kecepatan angin maksimum sekitar 30 knot (55km/jam) Siklon Tropis FENGSHEN menurun dalam 24 jam kedepan menjadi kategori low dengan pergerakan ke arah barat- barat daya.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan