Sejak bergabung dengan Kejuaraan Dunia Motor pada tahun 1962, Grand Prix Jepang telah menjadi salah satu balapan paling ikonik di dunia.
Sirkuit Suzuka, yang dimiliki oleh Honda, menjadi saksi bisu edisi perdananya. Namun, seiring berjalannya waktu, balapan ini berpindah ke sirkuit legendaris lainnya, seperti Fuji Speedway, sebelum akhirnya menemukan rumah tetapnya di Mobility Resort Motegi sejak 1999.
Perjalanan panjang ini penuh dengan kisah epik, dominasi pabrikan, dan lahirnya para juara.
Era Emas Honda di Kandang Sendiri
Sirkuit Motegi menjadi panggung bagi dominasi pabrikan yang berbasis di Tokyo, Honda.
Kemenangan pertama di sirkuit ini diraih oleh pembalap Amerika, Kenny Roberts Jr. di atas Suzuki pada tahun 1999 dan 2000.
Namun, era keemasan Honda dimulai dengan kemenangan Valentino Rossi pada tahun 2001, yang merupakan musim terakhir di kelas 500 cc.
Kemenangan ini menjadi perayaan besar bagi Honda di lintasan miliknya. Dominasi ini berlanjut dengan kemenangan Max Biaggi dan Makoto Tamada pada 2003 dan 2004.
Datangnya Ducati dan Era Baru
Supremasi Honda di Motegi sempat terhenti pada tahun 2005 dengan kedatangan Ducati Desmosedici.
Pembalap Italia, Loris Capirossi, berhasil mematahkan dominasi Honda dengan meraih kemenangan tiga tahun berturut-turut hingga 2007.
Keberhasilan Ducati ini menunjukkan bahwa lintasan Motegi tidak hanya milik Honda, tetapi juga terbuka untuk persaingan sengit dari pabrikan lain.
Valentino, Lorenzo, dan Stoner Mencuri Panggung
Pada 2008, Yamaha ikut meramaikan persaingan. Valentino Rossi, yang tidak pernah mendominasi di Motegi, berhasil meraih kemenangan keduanya.
Kemudian, Jorge Lorenzo yang masih sangat muda mengambil alih dominasi di tim pabrikan Yamaha, menjadi pembalap Spanyol pertama yang menang di Motegi di kelas utama, mengulangi kemenangannya pada 2013 dan 2014.
Tak ketinggalan, Casey Stoner kembali menempatkan Ducati di podium teratas pada 2010.
Marquez, Sang Raja Motegi
Sejak 2016, sirkuit Motegi menjadi panggung bagi Marc Marquez. Meskipun gagal menang di dua tahun pertamanya, Marquez berhasil meraih kemenangan perdananya pada 2016 dan mengulanginya pada 2018 dan 2019.
Kemenangan ini menjadikannya salah satu pembalap tersukses di sirkuit ini. Tak heran, Motegi juga menjadi tempat kemenangan Marquez di kelas 125 cc (2010) dan Moto2 (2012), menjadikannya pembalap dengan kemenangan terbanyak di sirkuit ini dengan total lima kemenangan.

Era Modern dan Kebangkitan Ducati
Setelah absen karena pandemi pada 2020 dan 2021, GP Jepang kembali ke kalender MotoGP pada 2022. Sejak itu, tiga pembalap Ducati, yaitu Jack Miller, Jorge Martin, dan Pecco Bagnaia, telah naik ke podium, membuat jumlah kemenangan pabrikan asal Bologna ini di GP Jepang menjadi delapan kali.
Hal ini menunjukkan bahwa Ducati telah bangkit dan menjadi pesaing serius bagi Honda dan Yamaha.
Puncak Sejarah dan Perburuan Rekor Baru
Minggu ini, GP Jepang menjadi lebih istimewa. Jika Marc Marquez berhasil meraih tiga poin lebih banyak dari adiknya, Alex Marquez, ia akan menjadi juara dunia MotoGP untuk ketujuh kalinya.
Selain itu, jika ia berhasil memenangkan balapan hari Minggu, ia akan mencapai 100 kemenangan di Kejuaraan Dunia. Sebuah rekor yang akan menjadikannya legenda hidup di dunia balap motor.
Kutipan dari MotoGP.com:
“Bagi Marquez, selain tiga podium tertingginya di kelas utama, Motegi juga menjadi tempat kemenangannya di kelas 125 cc (2010) dan Moto2 (2012), membuatnya menjadi pembalap dengan kemenangan terbanyak di sirkuit ini dengan lima kemenangan.”


