Kabupaten Lumajang ternyata punya “hidden gem” yang bukan sekadar tempat foto estetik, melainkan sebuah lanskap batin bernama Selogending.
Situs ini adalah ruang sejarah tempat peradaban lama meninggalkan jejak berharga berupa punden berundak dan deretan batu purba.
Jauh sebelum dunia modern sibuk merumuskan istilah ilmiah tentang keseimbangan alam, leluhur Nusantara di sini sudah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat matang.
Keheningan yang menyelimuti Selogending menyimpan gema masa lalu dari zaman megalitikum. Jejak peradaban itu terlihat jelas dari susunan batu yang ditata dengan kesadaran spiritual dan pengetahuan ruang yang cerdas.
Situs ini bukan sekadar tumpukan benda mati, melainkan saksi bisu bagaimana manusia zaman dulu membangun hubungan harmonis antara diri mereka, alam semesta, dan kekuatan pencipta.
Filosofi Dewi Sri dan Etika Menjaga Niat
Langkah pertama saat memasuki kawasan ini, pengunjung akan disambut oleh petilasan Dewi Sri atau Mbok Sri Sedono.
Dalam budaya agraris Nusantara, sosok ini adalah simbol kemakmuran dan kesuburan tanah. Namun, bagi Romo Dukun sekaligus juru kunci Situs Selogending, Gatot, makna Dewi Sri lebih dalam dari sekadar kekayaan materi.
Ia adalah pengingat bagi kita untuk selalu bersyukur dan merasa cukup agar hidup tetap seimbang dengan pemberian alam.
Tak jauh dari situ, terdapat petilasan Mbah Tejo Gedang di sisi kanan pintu masuk yang dipercaya sebagai penjaga kawasan.
Keberadaan figur penjaga ini sebenarnya adalah pelajaran etika buat anak muda zaman sekarang. Sebelum memasuki ruang sakral atau memulai langkah besar dalam hidup, kita harus “menata” niat dan perilaku agar tetap berada di jalur yang benar dan tidak kehilangan arah.
Simbol Asal-Usul dan Kepemimpinan yang Mengayomi
Di sisi kiri, terdapat simbol Linggayoni melalui petilasan Mbah Tejo Kusumo yang melambangkan sosok bapak dan ibu atau Bopo Biyung.
Simbol ini bukan untuk pemujaan semata, melainkan tuntunan agar manusia tidak sombong dan selalu ingat dari mana mereka berasal.
Keseimbangan antara elemen laki-laki dan perempuan dipandang sebagai poros utama kehidupan yang harus terus dijaga tanggung jawabnya demi masa depan.
Masuk lebih dalam ke bagian tengah, terdapat petilasan Mbah Bukulon yang dulunya menjadi pusat ritual ungkapan syukur atas hasil panen.
Di sini, leluhur mengajarkan bahwa ritual lahir dari rasa hormat, bukan ketakutan.
Struktur punden berundak yang ada di sini dipastikan asli tanpa rekayasa, membuktikan bahwa teknologi tata ruang masyarakat megalitikum di Lumajang sudah sangat maju sejak ribuan tahun lalu.
Jejak Prabu Siliwangi dan Makna Batu Tuntunan
Menapaki undakan demi undakan yang semakin tinggi, suasana akan terasa kian hening hingga sampai di petilasan Bahwadung Prabu.
Sebuah batu tegak di titik ini dimaknai sebagai simbol kepemimpinan sejati. Bagi masyarakat Selogending, memimpin bukanlah soal kekuasaan untuk menindas, melainkan tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan sosial dan alam agar tetap kondusif bagi semua orang.
Konon, tokoh besar seperti Prabu Siliwangi pernah singgah di sini, yang jejaknya ditandai dengan tumbuhnya Pandan Betawi hingga sekarang.
Secara etimologi, nama Selogending berasal dari “Selo” (batu) dan “Gending” (nyanyian/tuntunan). Batu-batu tua di sini disebut sebagai “waton” atau tuntunan hidup.
Jadi, pesan utamanya jelas: batu-batu ini hadir sebagai pengingat cara menjalani hidup yang hakiki, bukan untuk disembah secara berlebihan.
Warisan yang Melampaui Sekat Agama dan Zaman
Meskipun zaman terus berubah dan berbagai keyakinan masuk ke Nusantara, makna luhur Selogending tetap tidak terhapus.
Situs ini tetap lestari meski telah melalui berbagai proses pemugaran agar fisiknya tidak rusak dimakan usia.
Nilai utamanya tetap dijaga agar tidak luntur, yaitu ajaran tentang persaudaraan tanpa memandang latar belakang perbedaan agama maupun suku.
Kini, Selogending terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin mencari ketenangan di tengah dunia yang bergerak super cepat.
Di saat banyak orang mulai lupa pada akar budayanya, batu-batu tua di Lumajang ini tetap setia berbisik kepada pengunjungnya.
Mereka mengajak kita untuk kembali pada kesederhanaan, menjauhi keserakahan, dan selalu mengedepankan keseimbangan dalam setiap langkah hidup yang kita ambil.
Statement:
Gatot, Romo Dukun sekaligus juru kunci Situs Selogending
“Selogending bukan hanya tinggalan sejarah, tetapi warisan nilai hidup yang terus berbicara kepada generasi sekarang. Batu-batu ini adalah pengingat hidup, bukan untuk disembah. Leluhur kita mengajarkan bahwa hidup cukup adalah hidup yang seimbang dengan alam. Kepemimpinan menurut mereka adalah tanggung jawab menjaga keseimbangan, bukan kekuasaan untuk menindas.”
3 Poin Penting:
-
Situs Peradaban Tua: Selogending merupakan situs megalitikum di Lumajang yang menyimpan struktur asli punden berundak sebagai bukti kecerdasan tata ruang leluhur.
-
Filosofi Keseimbangan: Setiap petilasan di situs ini, mulai dari simbol Dewi Sri hingga Linggayoni, mengajarkan nilai syukur, etika, dan keseimbangan hidup dengan alam.
-
Tuntunan Hidup: Nama Selogending mengandung makna batu sebagai tuntunan (waton), menekankan bahwa warisan ini adalah ajaran moral untuk menjadi manusia yang bijak.
![Kapal Perang AS di Selat Malaka [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/tni-al-konfirmasi-keberadaan-kapal-perang-as-uss-miguel-keith-di-selat-malaka-69e494b0c3af3-300x200.webp)


![kolonial belanda [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/peninggalan-kolonial-belanda-2-300x200.jpg)