Mending Buat Sumatra! Orang Tua Murid Ogah Ambil Jatah Makan Bergizi Gratis Saat Libur

Kamis, 25 Desember 2025

Dapur SPPG (ist)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap tancap gas di masa libur panjang akhir tahun ternyata memicu pro-kontra di kalangan masyarakat.

Alih-alih merasa terbantu, sejumlah orang tua murid di Jakarta dan Tangerang justru memilih untuk tidak mengambil jatah paket makanan tersebut.

Mereka menilai kebijakan ini kurang efektif karena memaksa keluarga yang sedang menikmati waktu istirahat untuk tetap “urusan” dengan sekolah, padahal intensitas kegiatan belajar mengajar sedang nol besar.

Fenomena ini memicu obrolan hangat di media sosial mengenai urgensi anggaran negara. Banyak orang tua merasa pembagian paket makanan ringan atau snack saat libur berpotensi mubazir karena banyak yang enggan datang ke sekolah untuk menjemput jatah tersebut.

Daripada dananya “hangus” untuk program yang kurang peminat di masa libur, muncul usulan kuat agar anggaran tersebut dialihkan untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah besar di Sumatra.

Anggaran Fantastis yang Dinilai Lebih Pas Buat Korban Bencana

Azis (39), seorang warga Kembangan, Jakarta Barat, menjadi salah satu sosok yang vokal menyuarakan agar program MBG “ikut libur” saja.

Menurut hitung-hitungan kasar para orang tua, alokasi dana untuk satu sekolah saja bisa mencapai angka jutaan rupiah per hari.

Jika dikalikan dengan ribuan sekolah yang ada di Indonesia, angkanya bisa menyentuh angka miliaran bahkan triliun rupiah yang sebenarnya bisa sangat membantu pemulihan bencana banjir dan longsor di Sumatera.

Tuti (47), warga Depok, bahkan sempat melakukan kalkulasi sederhana. Jika satu porsi MBG seharga Rp10.000 diberikan kepada 900 murid, maka satu sekolah butuh Rp9 juta sehari. Dalam sepuluh hari libur, terkumpul Rp90 juta dari satu sekolah saja.

Baginya, angka ini akan jauh lebih terasa manfaatnya jika disumbangkan untuk kebutuhan darurat di daerah bencana daripada dipaksakan untuk pembagian susu kotakan dan camilan yang belum tentu diambil oleh wali murid.

Enggan Ribet dan Tak Ingin Waktu Keluarga Terganggu

Selain soal efisiensi anggaran, alasan kepraktisan juga menjadi poin utama penolakan.

Daus (34), warga Pinang, Kota Tangerang, mengaku tidak memberikan izin kepada istrinya untuk bolak-balik ke sekolah hanya demi mengambil paket rapelan mingguan.

Ia merasa waktu liburan adalah momen sakral bagi anak-anak untuk bermain bersama keluarga tanpa harus dipusingkan dengan urusan logistik sekolah yang menyita waktu di tengah kemacetan Jakarta.

Informasi di lapangan menyebutkan bahwa paket MBG masa libur ini biasanya berisi makanan awet seperti susu kotak kecil, biskuit, dan buah.

Sistem distribusinya pun dibuat fleksibel oleh Badan Gizi Nasional (BGN), yakni boleh diambil oleh orang tua atau saudara.

Meski begitu, bagi banyak orang tua, proses menjemput paket tersebut dirasa tidak sebanding dengan isi paket yang diterima, sehingga mereka lebih memilih untuk absen dari program tersebut selama masa liburan.

Penjelasan Badan Gizi Nasional Soal Skema Sukarela

Merespons ramainya keluhan, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak memaksa siswa atau orang tua untuk mengambil jatah MBG saat libur.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan bahwa program ini bersifat opsional atau pilihan bagi pihak sekolah dan wali murid.

Jika sekolah merasa tidak perlu atau wali murid tidak berkenan, maka jatah tersebut tidak akan dikirimkan.

BGN menawarkan dua cara distribusi, yakni pengambilan langsung atau sistem rapel makanan kering. Khusus untuk kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, program dipastikan tetap berjalan tanpa libur karena kebutuhan nutrisi mereka tidak bisa ditunda.

Nanik juga menekankan agar masyarakat tidak salah paham dan mengira ada paksaan bagi anak sekolah untuk hadir di sekolah saat masa libur demi mendapatkan makanan gratis tersebut.

Evaluasi Kebijakan Demi Penggunaan Dana Rakyat yang Bijak

Harapan besar dari para orang tua adalah adanya evaluasi menyeluruh dari pemerintah terkait kebijakan ini. Masyarakat ingin melihat anggaran yang berasal dari pajak rakyat digunakan secara lebih krusial dan tepat sasaran.

Kritik mengenai efisiensi ini menjadi alarm bagi pembuat kebijakan agar lebih peka terhadap situasi nasional, termasuk kondisi darurat bencana yang mungkin lebih membutuhkan prioritas pendanaan dibandingkan program rutin di masa libur.

Meskipun niat awal program MBG adalah untuk menjamin gizi anak bangsa, fleksibilitas dalam eksekusinya di lapangan menjadi kunci.

Kesadaran untuk saling membantu antarwilayah, seperti usulan pengalihan dana ke Sumatera, menunjukkan betapa kuatnya rasa solidaritas masyarakat Indonesia.

Ke depannya, sinergi antara pemenuhan gizi nasional dan penanggulangan bencana diharapkan bisa berjalan lebih harmonis tanpa ada kesan pemborosan anggaran negara.

Statement:

Azis (39), warga Kembangan, Jakarta Barat

“Mending MBG ini ikut libur dulu, terus anggarannya dialihin buat saudara-saudara kita di Sumatera, lah. Kan lagi ada musibah tuh di sana. Daripada dipaksain buat bagi-bagi snack di sekolah pas libur, belum tentu diambil dan dimakan juga, mending dananya buat bantuan korban bencana di Sumatera. Itu lebih mendesak.”

3 Poin Penting:

  1. Sejumlah orang tua murid menolak mengambil jatah Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah karena dianggap tidak efisien dan merepotkan.

  2. Muncul usulan kuat dari warga agar anggaran MBG selama masa libur dialihkan untuk membantu penanganan bencana banjir dan longsor yang sedang melanda Sumatera.

  3. Badan Gizi Nasional menegaskan bahwa distribusi MBG saat libur sekolah bersifat sukarela (opsional) dan tidak ada unsur paksaan bagi siswa untuk datang ke sekolah.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir