Search

Mengenal Taman Hutan Raya Pancoran Mas Depok yang Mendunia Sejak Dulu

Selasa, 27 Januari 2026

Tahura Depok (ist)

Depok ternyata punya harta karun tersembunyi yang usianya sudah berabad-abad dan punya sejarah yang nggak main-main.

Adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas, sebuah kawasan hijau yang merupakan warisan visioner dari Cornelis Chastelein.

Jauh sebelum isu global warming jadi tren, kawasan ini sudah ditetapkan sebagai hutan lindung yang sakral.

Chastelein seolah sudah meramal masa depan dengan menjaga 12 hektar lahan agar tetap asri dan bebas dari gangguan tangan manusia.

Tempat yang dulunya dikenal sebagai Hutan Depok ini bukan sekadar deretan pohon tua, tapi simbol keseimbangan ekosistem yang jenius.

Boy Loen, Koordinator Sejarah di Yayasan Cornelis Chastelein (YLCC), menceritakan betapa ketatnya aturan main di hutan ini pada masa lampau.

Tidak ada satu pun orang yang boleh menebang pohon, memasuki area tanpa izin, bahkan sekadar memungut kayu bakar pun dilarang keras demi menjaga resapan air tetap melimpah.

Rahasia Sukses Pertanian Depok Lewat Sentuhan Irigasi Bali

Ada fakta unik yang jarang diketahui anak muda zaman sekarang tentang kesuksesan pertanian Depok di masa lalu. Ternyata, produktivitas lahan di sini sangat dipengaruhi oleh sistem irigasi ‘Subak’ yang didatangkan langsung dari Bali.

Chastelein secara khusus memboyong para ahli dari Pulau Dewata untuk membangun sistem pengairan yang rapi dan efisien.

Hasilnya gila banget, sawah-sawah di Depok nggak pernah gagal panen dan kualitas beras serta buahnya sampai diekspor ke pasar Eropa.

Sistem Subak ini memastikan setiap jengkal sawah di Depok mendapatkan distribusi air yang adil dan merata.

Karena hutan lindung di atasnya terjaga dengan sangat baik, cadangan air tanah selalu jernih dan iklim Depok saat itu sangat sejuk.

Sinergi antara kearifan lokal Bali dan kebijakan lingkungan yang ketat membuat Depok menjadi kawasan paling subur dan mandiri pangan selama lebih dari dua setengah abad.

Cagar Alam Swasta Pertama yang Diakui Dunia hingga Austria

Sejarah mencatat bahwa komitmen menjaga hutan ini tetap kokoh bahkan setelah Chastelein tiada. Pada 31 Maret 1912, pengelolaan hutan ini diserahkan kepada perhimpunan perlindungan alam Hindia Belanda untuk kepentingan publik.

Peristiwa ini bukan cuma jadi berita lokal, tapi sampai dilaporkan ke Perkumpulan Kehutanan Sedunia di Wina, Austria. Fakta ini menunjukkan bahwa Depok sudah punya standar pelestarian alam kelas dunia sejak awal abad ke-20.

Berdasarkan laporan Profesor Doktor O. Porsch, Tahura Pancoran Mas adalah satu-satunya cagar alam di dunia yang diserahkan oleh seorang individu untuk kepentingan masyarakat luas, bukan oleh negara.

Hal ini menjadi bukti otentik betapa kuatnya nilai filantropi lingkungan yang diwariskan di tanah Depok. Satwa liar seperti monyet, ular piton, hingga burung pemangsa hama dulunya hidup damai di sini, menjaga rantai makanan tetap stabil.

Kondisi Terkini dan Tantangan Okupasi Lahan yang Menghantui

Namun, sayangnya kondisi Tahura Pancoran Mas saat ini mulai mengkhawatirkan karena perubahan zaman. Dari luas awal 12 hektar, kini area yang tersisa hanya sekitar 6 hektar saja.

Boy Loen mengungkapkan bahwa separuh lahan tersebut telah tergerus akibat okupasi oleh para pendatang. Statusnya pun kini telah berubah dari Cagar Alam menjadi Taman Hutan Raya berdasarkan keputusan menteri di era 90-an, namun tekanan pembangunan di tengah kota Depok tetap menjadi ancaman nyata.

Keberadaan Tahura Pancoran Mas harusnya jadi pengingat buat kita semua tentang pentingnya menjaga ruang terbuka hijau di tengah hiruk-pikuk kota.

Menjaga warisan sejarah ini bukan cuma soal nostalgia masa lalu, tapi soal bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan kualitas udara dan air yang baik.

Yuk, mulai lebih peduli lagi dengan cagar alam legendaris ini agar identitas Depok sebagai kota yang asri dan visioner nggak hilang ditelan beton dan aspal.

Statement:

Boy Loen, Koordinator Bidang Sejarah YLCC

“Nah, itu sebabnya pada era Cornelis Chastelein itu Depok tidak pernah gagal panen ya. Tidak pernah gagal panen karena dia sangat memperhatikan lingkungan. Selama dua setengah abad panen di Depok selalu berhasil karena keseimbangan ekosistem tetap terpelihara dan terjaga. Dari 12 hektar itu sisa 6 hektar, karena 6 hektarnya itu diokupasi oleh para pendatang.”

3 Poin Penting:

  • Visi Lingkungan: Tahura Pancoran Mas adalah warisan Cornelis Chastelein yang sukses menjaga ekosistem Depok selama 250 tahun tanpa gagal panen berkat aturan pelindungan hutan yang sangat ketat.

  • Teknologi Subak: Keberhasilan pertanian historis Depok berasal dari penerapan sistem irigasi Subak asal Bali yang menghasilkan produk kualitas premium hingga diekspor ke Eropa.

  • Status Dunia: Cagar Alam Depok tercatat sebagai satu-satunya lahan pribadi yang diserahkan untuk publik di dunia, meski kini luasnya menyusut menjadi 6 hektar akibat okupasi lahan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan