Menjaga Kulo Dalam: Surga Tersembunyi di Halmahera yang Terkepung Debu Tambang

Sabtu, 31 Januari 2026

Kondisi suku sawai dalam (Mongabay Indonesia)

Langit Dusun Kulo Dalam di pedalaman Halmahera Tengah tampak mendung di akhir Oktober 2025. Kampung yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata ini bukan sekadar pemukiman biasa, melainkan benteng terakhir bagi Suku Sawai Dalam dan O’hongana Manyawa.

Di sini, masyarakat hidup harmonis dengan rimbunnya hutan Halmahera, di mana suara burung kakatua putih dan rangkong masih menjadi alarm alami setiap pagi.

Bagi anak muda perkotaan, akses ke Kulo Dalam mungkin terdengar seperti misi mustahil. Dari Weda, kamu harus motoran dua jam ke Desa Kulo Jaya, lalu jalan kaki ke tepian Sungai Ake Jira. Transportasi utamanya? Perahu kayu kecil yang harus bertarung dengan derasnya arus sungai.

Perjalanan empat jam bisa berubah jadi tujuh jam kalau sampah kayu hasil banjir menyangkut di baling-baling mesin, sebuah tantangan harian bagi warga demi memenuhi kebutuhan pokok.

Jejak Sejarah Jere dan Harmoni Tarian Yangere

Dusun yang dikenal dengan nama lengkap Kulo Kulaga Mandala Siaga ini punya sejarah panjang sejak tahun 1909. Nama “Kulo” sendiri dalam bahasa Sawai berarti tempat yang terjaga.

Penjagaan ini bukan tanpa alasan, karena ada makam keramat atau Jere leluhur sakti bernama Lagae Cekel. Sosok heroik ini diyakini sebagai penjaga spiritual yang bisa menguasai 12 bahasa daerah dan menjaga siapa pun yang menghormati hutan Sawai dari malapetaka.

Kekeluargaan di sini masih sangat kental, jauh dari kesan individualis kota besar. Kalau ada warga yang atap rumahnya bocor, satu kampung bakal turun tangan membantu tanpa diminta.

Saat perayaan Natal atau penutupan tahun, alunan musik dari gitar kayu dua senar (kaste) dan bambu tada akan mengiringi tarian tradisional Yangere.

Suara bambu yang dibenturkan ke tanah menciptakan nada magis yang menyatukan seluruh warga dalam harmoni budaya yang sudah bertahan seabad lebih.

Ancaman Lumpur Merah dan Sirnanya Kejernihan Ake Jira

Namun, ketenangan ini mulai terusik sejak ekspansi tambang nikel mengepung wilayah Weda Tengah sejak 2020. Sungai Ake Jira yang dulunya jernih bak kristal, kini sering berubah warna menjadi cokelat pekat seperti kopi susu akibat sedimentasi material tambang.

Warga mulai dihantui rasa takut akan penyakit kulit dan hilangnya sumber protein dari ikan serta udang sungai yang kini mulai sulit ditemukan karena air yang tercemar logam.

Fenomena “banjir kiriman” tanpa hujan juga menjadi teror baru bagi warga Kulo Dalam. Pada pertengahan 2025, lumpur merah pekat tiba-tiba menghantam perkampungan dan menenggelamkan kebun pala serta cengkih warga.

Sedimentasi dari hulu tambang diduga kuat mengubah aliran sungai, membuat warga merasa bahwa kekayaan alam mereka sedang dikuras habis, sementara mereka hanya ditinggali sisa lumpur dan udara yang dipenuhi debu industri.

Perlawanan Sunyi di Batas Terakhir Hutan Halmahera

Meskipun tekanan industri nikel semakin masif, masyarakat Kulo Dalam memilih untuk tetap bertahan dan tidak beranjak dari tanah leluhur.

Bagi mereka, hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan ruang spiritual tempat identitas dan sejarah mereka bersemayam.

Kehilangan hutan berarti memutus hubungan dengan roh nenek moyang dan menghapus pengetahuan lokal tentang tanaman obat serta tradisi berburu yang diwariskan turun-temurun.

Kini, di tengah deru mesin tambang yang kian bising, warga tetap konsisten merawat ritual adat di Jere Lagae Cekel sebagai bentuk komitmen menjaga keseimbangan alam. Mereka sadar bahwa perjuangan ini adalah perlawanan sunyi untuk menyelamatkan sisa-sisa ekosistem Halmahera.

Prinsip mereka sederhana namun mendalam: jika manusia menjaga hutan, maka hutan pun akan menjaga manusia. Sebuah pesan kuat bagi dunia tentang pentingnya menjaga warisan ekologi sebelum semuanya terlambat.

Statement:

Yohanes Koke, Tetua Adat Kulo Dalam

“Sering terhambat banjir dan lumpur. Kondisi normal biasanya empat jam sudah sampai, tapi kalau di hulu hujan deras, perjalanan bisa 6-7 jam karena banyak kayu di sungai. Kalau hutan hilang, kami kehilangan hidup. Kami tidak bisa pisah dari alam, karena di sanalah leluhur kami tinggal.”

3 Poin Penting:

  • Dusun Kulo Dalam merupakan pemukiman adat Suku Sawai yang sangat bergantung pada ekosistem hutan Halmahera dan Sungai Ake Jira sebagai akses utama.

  • Masyarakat menjaga tradisi spiritual melalui penghormatan terhadap Jere (makam keramat) Lagae Cekel dan budaya gotong royong yang masih sangat erat.

  • Ekspansi tambang nikel di Weda Tengah menyebabkan pencemaran sungai, banjir lumpur merah, dan kerusakan hutan yang mengancam keberlangsungan hidup warga lokal.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir