Ribuan petani di seluruh Indonesia akan memperingati Hari Tani pada 24 September mendatang dengan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran.
Mereka menuntut pemerintah untuk menuntaskan 24 masalah struktural agraria dan mengambil sembilan langkah perbaikan yang dianggap krusial.
Sekitar 12 ribu petani akan memusatkan aksinya di Jakarta, sementara 13 ribu lainnya akan berunjuk rasa di berbagai wilayah lain di Indonesia. Demikian CNN Indonesia menulis.
Sembilan Tuntutan di Tengah Ketimpangan Penguasaan Tanah
Dewi Kartika, Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), menjelaskan bahwa aksi ini adalah wujud protes atas kegagalan reforma agraria yang tidak dijalankan secara serius oleh pemerintah.
Ia menyebut, ketimpangan penguasaan tanah di Indonesia semakin parah, di mana sebagian besar kekayaan alam dikuasai oleh segelintir kelompok elit.
Petani Kehilangan Tanah dan Mata Pencaharian
Kondisi ini, menurut Dewi, membuat petani semakin terdesak dan kehilangan tanahnya.
Indeks ketimpangan penguasaan tanah menunjukkan bahwa 1% kelompok elit di Indonesia menguasai 58% tanah dan sumber daya alam, sementara 99% penduduk harus berjuang untuk sisanya.
Proyek Investasi yang Memicu Konflik
Dewi juga menyoroti bahwa konflik agraria ini bukan hanya akibat kegagalan reforma agraria, tetapi juga karena proyek-proyek investasi besar dan bisnis ekstraktif yang terus dipaksakan.
Proyek Strategis Nasional (PSN), food estate, dan kawasan pariwisata terus meluas ke desa-desa, merampas tanah petani dan wilayah adat, serta menutup akses mereka ke sumber daya alam seperti laut.
Kinerja Pemerintah Diklaim Telah Meningkat
Di sisi lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan pandangan berbeda.
Ia mengklaim berbagai program strategis pemerintah telah menghasilkan lompatan besar dalam produksi pertanian dan kesejahteraan petani.
Amran menyebut, proyeksi produksi beras hingga Oktober mencapai 31 juta ton, dan stok beras Indonesia menembus 4,2 juta ton, menjadi yang tertinggi dalam sejarah.
Sektor Pertanian Tumbuh Positif, Nilai Tukar Petani Naik
Amran juga menyoroti peran penting pertanian terhadap PDB nasional, di mana sektor ini mencatatkan pertumbuhan tertinggi di kuartal I tahun 2025, mencapai 10,52%.
Kenaikan nilai tukar petani (NTP) yang signifikan menjadi 123,57 juga disebut Amran sebagai bukti nyata peningkatan kesejahteraan petani.
Catatan positif ini juga diakui oleh lembaga internasional seperti FAO yang memproyeksikan lompatan produksi pangan Indonesia.
Dua Pandangan yang Berbeda, Satu Masa Depan yang Dinanti
Perbedaan pandangan antara kelompok petani dan pemerintah menunjukkan kompleksitas masalah agraria di Indonesia.
Para petani merasakan langsung dampak kehilangan tanah dan krisis yang kian dalam, sementara pemerintah menyoroti data makro yang menunjukkan pertumbuhan.
Kedua sisi ini memiliki cerita masing-masing.
Pertanyaannya, apakah aksi demonstrasi ini akan menjadi momentum bagi pemerintah untuk mendengarkan keluhan rakyat kecil dan mewujudkan keadilan agraria yang telah lama dinanti?
Statement:
Dewi Kartika, Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)
“Rakyat tetap tak punya kanal penyelesaian konflik agraria. Kementerian Agraria, Kehutanan, BUMN, Pertanian, Kementerian Desa PDTT dan Kementerian Koperasi, TNI-Polri dan lembaga negara lainnya masih abai pada masalah kronis agraria.”
Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian
“Pertama, kita lihat produksi khususnya beras hingga Oktober mencapai 31 juta ton. Ini proyeksi BPS. Estimasi kita 34 juta ton di 2025. Dan ini merupakan hasil kerja keras kita semua, termasuk support dari Komite II DPD RI.”
![Kasus Lab Vape Narkoba [dok. ist]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/mnM45FVCzU.jpeg-300x169.webp)
![Gubernur Jateng Ahmad Luthfi [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Rembug-Media-scaled-1-300x200.jpeg)
![Menag Nasaruddin Umar [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/image_2025-04-27_232209331-2-300x169.png)
![R.A KARTINI [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/1775906665_69da2f691e2d2_ra_kartini.jpg-300x203.webp)