Search

Menolak Normalisasi! Sisi Gelap Kampung Kota Jakarta yang Tak Pernah Tidur

Rabu, 31 Desember 2025

kampung di Jakarta (Liputan6)

Jakarta Pusat boleh punya gedung pencakar langit yang estetik, tapi geser sedikit ke Kampung Rawa, Johar Baru, suasananya langsung berubah drastis.

Gang sempit, rumah berhimpitan hingga minim cahaya matahari seolah sudah jadi “makanan sehari-hari” warga di sana. Fenomena permukiman padat ini sering banget dianggap sebagai hal yang wajar karena efek urbanisasi.

Padahal, kalau mau jujur, ini adalah potret nyata tentang ruang hidup yang dipaksa berubah tanpa persiapan infrastruktur yang layak.

Bagi warga setempat, kondisi rumah tanpa sinar matahari bukan lagi hal aneh. Lorong-lorong gelap dan sirkulasi udara yang minim sudah dianggap keniscayaan demi bertahan hidup di jantung ibu kota.

Masalahnya, normalisasi terhadap kemiskinan struktural ini bikin kita lupa bahwa setiap warga negara punya hak untuk tinggal di lingkungan yang sehat.

Jakarta seolah tumbuh tanpa kontrol, membiarkan kampung-kampung “tersedot” arus perkotaan tanpa perencanaan yang matang.

Urbanisasi Bukan Cuma Pindah Desa ke Kota

Pengamat sosial Rissalwan Habdy Lubis punya perspektif menarik soal ini. Menurut beliau, urbanisasi di Jakarta, khususnya di Johar Baru, punya makna yang lebih dalam.

Bukan cuma soal orang desa datang ke kota, tapi kondisi di mana satu area yang awalnya bersifat kampung “dipaksa” menjadi kawasan urban secara mendadak.

Karakteristiknya jelas: pembangunan nggak tertata, jalanan sempit, dan ruang publik nyaris nol besar karena semua lahan dipakai buat bangunan.

Proses pemaksaan ini akhirnya membentuk lingkungan yang semrawut. Absennya pengaturan tata kota sejak awal membuat warga memanfaatkan setiap jengkal celah untuk bertahan hidup.

Kepadatan ini lambat laun menciptakan pola hunian yang tidak manusiawi, namun tetap dipilih warga karena faktor ekonomi.

Wilayah seperti Johar Baru pun perlahan berubah menjadi hutan beton mini yang pengap namun tetap disesaki oleh mereka yang mencari peruntungan.

Ekonomi Instan di Balik Lorong Gelap Ibu Kota

Kenapa sih warga tetap betah tinggal di sana meski kondisinya memprihatinkan? Jawabannya klasik: peluang ekonomi atau opportunity.

Tinggal di pusat kota berarti dekat dengan akses pekerjaan informal yang memberikan penghasilan harian. Warga nggak perlu pusing mikirin biaya transportasi yang mahal karena tempat kerja mereka bisa dijangkau dengan jalan kaki atau bersepeda.

Sektor jasa di kota menawarkan hasil yang instan, beda banget dengan sektor pertanian di kampung yang butuh waktu bulanan buat panen.

Bahkan, saking padatnya, pernah muncul fenomena penginapan murah seharga Rp5.000 per malam yang kondisinya mirip hotel kapsul versi sangat tidak layak.

Orang hanya “disusun-susun” di dalam ruang sempit demi bisa tidur. Bagi para pejuang rupiah ini, hidup di hunian sempit dan lembap masih dianggap lebih menguntungkan daripada pulang kampung tanpa kepastian pendapatan.

Inilah yang membuat rantai kepadatan di pusat Jakarta sangat sulit diputus.

Dampak Psikologis dan Tingginya Tingkat Stres Warga

Ternyata, sempitnya ruang hidup nggak cuma berpengaruh ke fisik, tapi juga ke mental, Sobat! Rissalwan menilai tingkat stres masyarakat di kawasan padat cenderung sangat tinggi.

Gesekan sosial jadi hal yang gampang banget terpicu. Perkelahian antar-RT atau pertengkaran antar-tetangga sering terjadi cuma gara-gara urusan sepele yang diperparah oleh rasa sesak karena ruang gerak yang sangat terbatas.

Efek psikologis dari lingkungan yang gelap dan panas ini membuat emosi warga gampang meledak. Transformasi kawasan melalui konsolidasi tanah atau pembangunan hunian vertikal menjadi solusi jangka panjang yang mendesak.

Jakarta butuh kampung-kampung yang lebih beradab dan terencana agar warganya nggak cuma “survive”, tapi juga bisa hidup dengan kualitas mental yang lebih sehat dan stabil.

Kisah Minah dan Lampu yang Menyala 24 Jam Penuh

Potret nyata dari teori tersebut ada pada sosok Ibu Minah (54). Sudah puluhan tahun ia tinggal di rumah sepetak ukuran 2×4 meter di Kampung Rawa.

Hidupnya benar-benar di dalam gang gelap yang tertutup tembok tinggi bangunan sekitar. Bayangkan, lampu di rumahnya harus menyala 24 jam penuh!

Tanpa bantuan cahaya lampu, rumahnya bakal gelap gulita seperti goa karena sinar matahari sudah lama nggak bisa menembus masuk.

Minah menetap di sana sejak lahir, melewati masa dewasa, hingga membesarkan anak dalam keterbatasan.

Ia terpaksa menjual bagian depan rumahnya puluhan tahun lalu demi menebus biaya pengobatan ibunya karena belum ada sistem jaminan kesehatan seperti sekarang.

Meski harus berbagi ruang sempit bertiga setelah sang suami berpulang, Minah tetap bertahan. Baginya, rumah lembap itu adalah satu-satunya saksi bisu perjuangannya menaklukkan kerasnya Jakarta.

Statement:

Rissalwan Habdy Lubis, pengamat sosial

“Urbanisasi itu definisinya adalah kondisi di mana satu area yang bersifat rural dipaksa menjadi urban. Apa karakteristiknya? Tidak tertata, jalannya sempit dan sebagainya. Akibatnya stres masyarakat tinggi dan sering terjadi gesekan sosial. Saya lebih mendorong kampung-kampung di Jakarta ditransformasi menjadi permukiman yang lebih layak, modern, dan lebih ‘kota’ melalui konsolidasi tanah atau hunian vertikal.”

3 Poin Penting:

  1. Definisi Urbanisasi Struktural: Kawasan padat seperti Johar Baru merupakan area rural yang dipaksa menjadi urban tanpa infrastruktur memadai, sehingga tercipta permukiman tak tertata.

  2. Faktor Peluang Ekonomi: Warga memilih bertahan di lingkungan kumuh karena lokasinya dekat dengan sumber penghidupan harian dan menekan biaya transportasi secara signifikan.

  3. Krisis Kualitas Hidup: Kepadatan ekstrem menyebabkan tingkat stres tinggi dan minimnya sanitasi serta cahaya matahari, seperti kasus rumah Ibu Minah yang harus menyalakan lampu 24 jam.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan