Seruan mendesak untuk menyelamatkan masa depan planet kita kembali digaungkan. Institute for Essential Services Reform (IESR) menuntut adanya percepatan nyata dalam penerapan transisi energi di Indonesia.
Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, dengan tegas menyatakan bahwa krisis iklim bukanlah lagi ancaman yang samar di masa depan, melainkan sebuah realitas yang dampaknya sudah dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Ia mengatakan saat membuka Indonesia Energy Transition Dialogue 2025 di Jakarta, bahwa kita semua tahu mengapa perubahan ini sangat mendesak, krisis iklim bukan lagi ancaman di depan mata, ia sudah nyata dan kita bisa merasakan dampaknya.
Penekanan lain ia sebutkan bahwa transisi energi tidak dilakukan karena menipisnya bahan bakar fosil, melainkan karena Bumi sudah tidak lagi mampu menanggung beban dan konsekuensi dari pembakaran bahan bakar tersebut.
Ini adalah pertarungan untuk keberlangsungan hidup manusia dan planet, bukan sekadar urusan ekonomi.
Komitmen Global dan Fondasi Sejarah Indonesia
Indonesia, sebagai bagian dari komunitas global, telah menunjukkan komitmennya terhadap mitigasi iklim sejak lama.
Sejak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi pada 1992 di Rio de Janeiro, Indonesia selalu aktif dalam mencari solusi iklim global, dan komitmen ini dikuatkan melalui penandatanganan Perjanjian Paris 2015 untuk menjaga kenaikan temperatur global di bawah 2 derajat Celsius.
Fabby Tumiwa juga mengingatkan bahwa fondasi kuat untuk transisi energi bersih di Indonesia sebenarnya telah diletakkan sejak lama.
Ia menunjuk pada masa kepemimpinan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui penetapan kebijakan-kebijakan seperti Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK).
Ini adalah warisan bersejarah yang harus dikembangkan lebih lanjut oleh generasi saat ini.
Mengembangkan Benih Energi Bersih Sebagai Tanggung Jawab
Kebijakan-kebijakan seperti Perpres Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, yang kemudian menjadi dasar bagi banyak regulasi energi berikutnya, dianggap Fabby sebagai penanaman benih untuk era energi bersih Indonesia.
Benih ini, meski telah ditanam belasan tahun lalu, kini harus dirawat dan dikembangkan dengan kecepatan yang sesuai dengan tuntutan krisis iklim.
Desakan IESR ini menunjukkan bahwa legacy masa lalu harus segera diwujudkan menjadi aksi nyata di masa kini.
Anggaran dan kebijakan yang sudah tersedia perlu segera dieksekusi untuk beralih dari energi kotor ke energi terbarukan.
Tanggung jawab besar kini berada di pundak pemangku kepentingan untuk tidak hanya berbicara tentang komitmen, tetapi juga memastikan implementasi yang terukur dan masif agar komitmen Perjanjian Paris dapat benar-benar tercapai.
Panggilan Kemanusiaan untuk Bertindak Cepat
Krisis iklim adalah panggilan kemanusiaan untuk bertindak cepat. Dampaknya, mulai dari peningkatan bencana alam hingga perubahan pola cuaca ekstrem, mengancam kehidupan masyarakat, terutama yang paling rentan.
Transisi energi bukanlah pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan generasi mendatang mewarisi Bumi yang layak huni.
Oleh karena itu, percepatan implementasi yang didesak IESR adalah sebuah investasi etis dan moral bagi masa depan bangsa.
Statement:
Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR
“Pak SBY menanam benih sebenarnya untuk era energi bersih Indonesia dalam kebijakan-kebijakan sesudahnya. Ini adalah legacy yang menjadi tanggung jawab kita untuk dikembangkan.”
![aksi buruh FSPMI [dok. cnn]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/partai-buruh-demo-dpr_169-e1776318736533-300x189.jpeg)
![demo jakarta [dok. tribun]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/demo12.jpg-300x169.webp)
![aksi BEM UI [dok. kpmpas]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/68f7450756f63-300x200.jpeg)
![Jenal Mutaqin [dok. pemkot bogor]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/jenal-mutaqin-185373873.jpg-300x169.webp)