Menyoal Kenaikan Tukin Kementerian ESDM yang Setara Penghargaan Negara

Sabtu, 25 Oktober 2025

Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM (UNESCO)

Sebuah angin segar—atau mungkin badai petir—baru saja menyapu lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dengan bangga mengumumkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah merestui kenaikan tunjangan kinerja (Tukin) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lembaga tersebut hingga mencapai 100%.

Kenaikan yang fantastis ini diresmikan melalui Keputusan Presiden (Keppres) dan diklaim Bahlil sebagai bentuk penghormatan tertinggi dari negara.

Dalam pidatonya yang penuh semangat di Monas, Bahlil menyebutkan bahwa Presiden Prabowo menandatangani Bahlil, dan bilang: “Pak Menteri, saya tandatangan ini sebagai bentuk penghargaan negara kepada aparat negara yang ada di ESDM.”

Sambil menepuk dada ASN-nya, pesan tersiratnya jelas: Negara kini menghargai keringat Anda dua kali lipat.

Namun, di balik kabar gembira yang beraroma uang tunai itu, tersembunyi pesan dari Presiden yang jauh lebih menusuk, seolah-olah negara sedang berkata, “Saya bayar mahal, jadi bekerja yang benar!”

Membasmi Gaya ‘Lapan Enam’ dengan Ancaman Rumahan

Ironi pun mengemuka: Kenaikan gaji fantastis ini datang bersamaan dengan ancaman mutasi yang terasa sangat personal.

Menteri Bahlil secara tegas memperingatkan jajarannya untuk segera meninggalkan “gaya-gaya lama” yang merugikan negara.

Ia berpesan–sekaligus mengancam–agar jangan lagi ada cara-cara lapan enam (86), terutama kepada dirjen-dirjen yang memberikan izin-izin.

Hal itu tentu merujuk pada kode yang lazim digunakan untuk praktik suap atau “damai” di bawah tangan.

Ancaman itu tak main-main: jika praktik-praktik tak elok terbukti, sanksinya bukan lagi sekadar pemindahan ke direktorat yang sepi. Bahlil menegaskan, jika ia menerima laporan, maka ia tak segan-segan untuk merumahkan oknum yang bersangkutan.

Sebuah upgrade sanksi yang cukup humanis, dari dipindahkan ke meja yang lebih kecil, kini langsung diminta menikmati kenyamanan rumah sendiri secara permanen.

Tampaknya uang Tukin baru ini harus segera dibelanjakan untuk membangun pagar yang tinggi, agar tidak terlihat sedang menganggur di rumah.

Tuntutan Ibu Pertiwi di Balik Kemeja Baru

Pesan Presiden Prabowo yang disampaikan Bahlil menggarisbawahi harapan yang lurus: Tukin 100% harus dibayar tunai dengan kinerja 100% pula.

Tampaknya, kenaikan tukin ini adalah semacam “kontrak performa” yang ditandatangani dengan darah—atau setidaknya dengan payroll dua kali lipat. Logikanya sederhana: Jika gaji Anda naik dua kali lipat, maka potensi kerugian negara akibat ulah ‘lapan enam’ Anda juga harusnya turun hingga titik nol.

Jika tidak, maka Ibu Pertiwi—yang kini menuntut kontribusi terbaik—akan segera mengirimkan surat pemberitahuan pemutusan hubungan kerja.

Dilema Etika: Antara Hati Nurani dan Dompet Tebal

Pengumuman ini meninggalkan dilema moral yang menghibur di kalangan ASN ESDM. Di satu sisi, dompet mereka mendadak tebal, janji masa depan finansial terlihat cerah.

Di sisi lain, mereka kini harus menghadapi pengawasan yang jauh lebih ketat. Ancaman “dirumahkan” adalah pengingat yang menyegarkan bahwa profesionalisme dan integritas adalah harga mati, terutama ketika Anda dibayar untuk menjaga kekayaan alam negara yang tak ternilai harganya.

Kenaikan tukin ini, pada akhirnya, bukan sekadar peningkatan kesejahteraan. Ini adalah sebuah pertaruhan high-stakes dari negara.

Negara mencoba membeli integritas dengan harga yang pantas, berharap bahwa godaan gaji yang berlipat ganda lebih kuat daripada godaan uang suap di bawah meja. Mari kita nantikan apakah upgrade gaji ini juga akan diiringi upgrade moral.

Statement:

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)

“Beliau menyampaikan salam hormat, namun di sisi lain Presiden mengatakan bahwa negara meminta, Ibu Pertiwi meminta, kepada semua aparat negara yang ada di ESDM agar berikan kontribusi terbaiknya.”

“Jangan lagi gaya-gaya lama dipakai, jangan lagi ada cara-cara lapan enam (86), terutama kepada dirjen-dirjen yang memberikan izin-izin. Kalau saya tahu, kalau ada laporan, saya tidak segan-segan untuk saya rumahkan kalian, tidak ada lagi pindah-pindah.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir