Search
Search
Search

NASA Deteksi Karbon Monoksida Tinggi di Atmosfer Indonesia, Waspada Dampak Karhutla dan Ancaman Kesehatan

Rabu, 21 Oktober 2026

Karbon Monoksida (ist)

Citra satelit NASA menunjukkan konsentrasi karbon monoksida (CO) yang tinggi di atmosfer Indonesia sejak awal Oktober 2026. Peta di platform Eyes on the Earth memperlihatkan warna merah tua mendominasi wilayah dari Sumatra hingga Papua.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berkaitan dengan kabut asap, tetapi juga gas pencemar yang berpotensi mengganggu kesehatan.

Meski begitu, masyarakat perlu memahami data tersebut secara proporsional agar tidak langsung menyimpulkan bahwa seluruh wilayah Indonesia sedang menghadapi risiko keracunan CO.

Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan: data satelit NASA tersebut menggambarkan konsentrasi karbon monoksida pada ketinggian sekitar 5.500 meter.

Artinya, peta itu belum cukup untuk menentukan kadar CO yang dihirup masyarakat di permukaan tanah atau mengukur risiko keracunan secara langsung.

Warna merah tua menunjukkan konsentrasi yang tinggi dalam skala pemetaan, bukan otomatis menandakan bahwa udara yang dihirup warga di setiap daerah berada pada tingkat berbahaya.

Karena itu, data satelit sebaiknya dibaca bersama pemantauan kualitas udara di permukaan, informasi resmi pemerintah, serta kondisi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.

Karhutla Diduga Berkontribusi, Ancaman CO Tidak Boleh Diremehkan

Konsentrasi karbon monoksida yang tinggi tersebut diduga berkaitan dengan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah.

NASA menjelaskan bahwa kebakaran hutan merupakan salah satu sumber CO, selain emisi kendaraan bermotor, aktivitas vulkanik, serta pembakaran kayu dan bahan bakar fosil yang tidak sempurna.

Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan pencemaran udara tidak bisa diselesaikan hanya dengan membagikan peringatan di media sosial.

Pencegahan kebakaran, penegakan hukum terhadap pembakaran lahan, dan pemantauan kualitas udara perlu berjalan beriringan agar masyarakat tidak terus-menerus menanggung dampak lingkungan yang sebenarnya bisa dicegah.

Mengutip penjelasan Kementerian Kesehatan, karbon monoksida yang terhirup dapat berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah dan membentuk karboksihemoglobin atau COHb.

Ikatan tersebut menghambat kemampuan darah mengangkut oksigen ke jaringan tubuh. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga menjelaskan bahwa hemoglobin memiliki ikatan yang lebih kuat dengan CO dibandingkan dengan oksigen.

Akibatnya, organ yang membutuhkan banyak oksigen, terutama otak dan jantung, dapat mengalami gangguan fungsi.

Risiko ini juga perlu diperhatikan pada orang dengan penyakit jantung koroner karena paparan CO dapat memperburuk kekurangan pasokan oksigen ke otot jantung.

Karbon Monoksida Disebut Pembunuh Senyap, Kenali Gejalanya

Salah satu alasan karbon monoksida berbahaya adalah gas ini tidak berwarna dan tidak berbau sehingga keberadaannya sulit dikenali tanpa alat pendeteksi.

BPOM menyebut CO sebagai silent killer atau pembunuh senyap. Gejala awal keracunan dapat berupa sakit kepala, pusing, mual, muntah, dan kelelahan, yang terkadang disalahartikan sebagai gangguan kesehatan biasa.

Pada paparan yang lebih berat, seseorang dapat mengalami kebingungan, gangguan penglihatan, kehilangan koordinasi, penurunan kesadaran, kejang, hingga koma.

Karena gejalanya tidak selalu khas, dugaan paparan CO perlu ditanggapi serius, terutama jika beberapa orang di lokasi yang sama mengalami keluhan serupa.

Ancaman karbon monoksida juga tidak terbatas pada wilayah yang terdampak karhutla. Di dalam rumah, gas ini dapat berasal dari kompor gas, pemanas berbahan bakar minyak tanah, serta tungku atau cerobong yang mengalami kebocoran.

Gas buang kendaraan juga berbahaya apabila masuk ke kabin akibat kebocoran sistem pembuangan atau ventilasi yang buruk.

Menyalakan mesin kendaraan di garasi tertutup pun dapat menyebabkan penumpukan CO.

Karena itu, masyarakat perlu memastikan peralatan pembakaran terpasang dan berfungsi dengan baik, menjaga ventilasi sesuai kebutuhan, serta tidak mengoperasikan mesin berbahan bakar di ruang tertutup.

Jika memungkinkan, pemasangan detektor karbon monoksida juga dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan.

Jangan Panik, tetapi Pemerintah dan Masyarakat Harus Bergerak

Dalam menghadapi informasi konsentrasi CO dari satelit NASA, masyarakat sebaiknya tidak langsung panik, tetapi juga tidak mengabaikannya.

Warga di daerah yang mengalami karhutla atau kabut asap perlu mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan dari instansi resmi, mengurangi aktivitas luar ruang ketika kondisi udara memburuk, serta menggunakan pelindung pernapasan yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap.

Namun, perlu dipahami bahwa masker partikulat biasa tidak melindungi seseorang dari gas karbon monoksida. Jika muncul dugaan keracunan CO, segera menjauh ke udara terbuka yang aman dan cari pertolongan medis.

Jangan kembali ke lokasi yang dicurigai terkontaminasi sebelum dinyatakan aman.

Dari sisi penanganan, pemerintah perlu memastikan pemantauan kualitas udara di permukaan dilakukan secara konsisten, terutama di daerah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Informasi dari satelit perlu dipadukan dengan pengukuran lapangan agar publik memperoleh gambaran risiko yang lebih akurat.

Mengutip prinsip keselamatan dalam panduan kesehatan Kemenkes dan BPOM, dugaan keracunan CO membutuhkan penanganan medis segera; pemberian oksigen konsentrasi tinggi harus dilakukan oleh tenaga terlatih.

Penolong juga harus mengutamakan keselamatannya sendiri dan tidak memasuki ruang yang diduga mengandung CO tanpa perlindungan yang memadai.

Pada akhirnya, penanganan karhutla, keterbukaan informasi, dan edukasi kesehatan harus menjadi satu rangkaian tindakan, bukan sekadar respons ketika peta satelit kembali memerah.

Statement:

  • NASA: Kebakaran hutan merupakan salah satu sumber karbon monoksida, selain kendaraan bermotor, gunung berapi, dan pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna.

  • Kementerian Kesehatan: Karbon monoksida dapat berikatan dengan hemoglobin dan menghambat pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh.

  • BPOM: Karbon monoksida dikenal sebagai silent killer karena tidak berwarna dan tidak berbau, sementara gejala paparannya dapat menyerupai gangguan kesehatan lain.

3 Poin Penting:

  • Data satelit bukan ukuran langsung risiko keracunan di permukaan. Konsentrasi CO yang dipetakan pada ketinggian sekitar 5.500 meter perlu dilengkapi pengukuran kualitas udara di permukaan.

  • Karbon monoksida berbahaya karena menghambat pasokan oksigen. Gejala seperti sakit kepala, mual, pusing, dan kebingungan perlu diwaspadai, terutama jika muncul setelah dugaan paparan.

  • Pencegahan dan pertolongan cepat sangat penting. Hindari sumber pembakaran di ruang tertutup, ikuti informasi resmi, dan segera cari bantuan medis jika dicurigai terjadi keracunan CO.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan