Natal Tanpa Kedap-kedip! Cerita Perjuangan Umat di Tengah Kepungan Lumpur Sumatra

Jumat, 26 Desember 2025

Misa Natal (Antara foto)

Momen Natal tahun ini terasa sangat berbeda bagi saudara-saudara kita di beberapa wilayah Sumatra. Di saat banyak orang merayakan dengan kemeriahan lampu warna-warni dan baju baru, umat Kristiani di tanah terdampak banjir bandang dan longsor justru harus berjibaku dengan keadaan yang serba terbatas.

Meski rumah belum kembali tegak dan jalanan masih tertutup lumpur pekat, semangat mereka untuk merayakan kelahiran Sang Juru Selamat tetap menyala di tengah kesederhanaan.

Kisah heroik datang dari keluarga Kendri Matius di Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.

Demi bisa mengikuti misa Natal di Gereja Katolik Stasi Santo Petrus, Takengon, Kendri harus berjalan kaki melewati tiga titik longsor yang ekstrem.

Karena jalanan yang sempit dan licin, ia bahkan rela mengenakan celana pendek dan membawa salinan pakaian formal di dalam tas untuk berganti setibanya di gereja.

Menembus Titik Longsor Demi Seuntai Doa di Altar

Perjuangan yang sama juga dirasakan oleh Rinawati Purbasari, istri Kendri, yang memilih menggunakan sepeda motor bersama putrinya untuk menuju gereja.

Meskipun rasa takut akan longsor susulan membayangi, mereka tetap memaksakan diri berangkat saat pagi hari demi mengejar waktu misa.

Baginya, bisa sampai di gereja dan berdoa bersama adalah sebuah anugerah luar biasa di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sedang tersumbat akibat akses ke kebun yang terputus.

Di sisi lain, Pastor Martinus Febrianto menjelaskan bahwa misa Natal kali ini memang dirancang sesederhana mungkin untuk menumbuhkan nilai solidaritas.

Tidak ada pesta pora, nyanyi-nyanyi meriah, atau makan besar yang biasanya menghiasi perayaan Natal.

Fokus utama dialihkan pada aksi bakti dan saling membantu antarumat, terutama bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal atau anggota keluarga akibat bencana yang melanda tiga keuskupan di wilayah tersebut.

Kesederhanaan di Gereja HKBP Ressort Tuka Tanpa Baju Baru

Pemandangan haru juga terlihat di Gereja HKBP Ressort Tuka, Hutanabolon, Tapanuli Tengah.

Di sini, perayaan Natal dijuluki sebagai “Natal tanpa kedap-kedip” karena tidak ada dekorasi mewah yang menghiasi gedung gereja yang sempat terendam lumpur setinggi mata kaki.

Pendeta Paten Sidabutar mengungkapkan bahwa jemaatnya kehilangan banyak hal, mulai dari harta benda hingga nyawa anggota keluarga, sehingga Natal kali ini benar-benar dirayakan dengan penuh keprihatinan.

Meski demikian, para jemaat seperti Sondang Tambunan tetap menunjukkan tekad kuat untuk beribadah.

Baginya, rumah yang luluh lantak bukanlah alasan untuk melupakan Tuhan, karena justru dalam kondisi sulit inilah mereka sangat membutuhkan perlindungan-Nya.

Harapan demi harapan terus dipanjatkan agar kampung halaman mereka segera dipulihkan oleh pemerintah dan hunian layak bisa segera dibangun kembali bagi para pengungsi.

Pesan Solidaritas Presiden Prabowo di Tengah Status Tanggap Darurat

Presiden Prabowo Subianto turut memberikan ucapan Selamat Natal sekaligus mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mendoakan para penyintas bencana di Sumatra.

Dalam pesannya, Presiden menegaskan bahwa Natal tahun ini harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan nasional dan memperdalam solidaritas sosial.

Pemerintah berkomitmen untuk mempercepat pembangunan hunian bagi para pengungsi agar mereka bisa segera bangkit dari penderitaan.

Berdasarkan data BNPB, bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah memakan ribuan korban jiwa dan merusak ratusan ribu rumah serta tempat ibadah.

Hingga saat ini, status tanggap darurat masih diberlakukan karena cakupan bencana yang sangat luas di 52 kabupaten/kota.

Perayaan Natal di lokasi pengungsian pun menjadi bukti nyata bahwa iman dan harapan tidak akan pernah luntur meskipun diterpa ujian yang sangat berat.

Statement:

Pendeta Paten Sidabutar dari Gereja HKBP Ressort Tuka

“Natal tahun ini adalah Natal yang tanpa kedap-kedip, Natal yang tanpa baju baru. Semua barang-barang, rumah, bahkan jemaat kita ada yang menjadi korban. Namun kita tetap semangat, karena meski rumah luluh lantak, kita tetap mengingat Tuhan sebagai perlindungan utama kita.”

3 Poin Penting:

  1. Natal Penuh Kesederhanaan: Umat Kristiani di wilayah terdampak bencana di Sumatra merayakan Natal tanpa kemeriahan dan dekorasi, melainkan dengan fokus pada doa dan solidaritas antar sesama penyintas.

  2. Perjuangan Akses Ibadah: Para jemaat harus melewati medan berbahaya, seperti titik longsor dan jalan berlumpur, demi bisa mencapai gereja untuk mengikuti misa Natal.

  3. Pesan Persatuan Nasional: Presiden Prabowo mengajak seluruh masyarakat menjadikan momen Natal ini untuk memperkuat gotong royong dan mendoakan percepatan pemulihan di wilayah yang masih berstatus tanggap darurat.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir