Pahlawan Laut Baru! Kepiting Biola Ternyata Jago ‘Makan’ Mikroplastik

Selasa, 6 Januari 2026

Kepiting biola (ist)

Sobat Bumi, ada kabar gokil nih dari kedalaman hutan bakau! Selama ini kita tahu kalau mikroplastik itu musuh bebuyutan alam yang susah banget diurai.

Tapi, penelitian terbaru yang terbit di jurnal Global Change Biology justru menemukan sosok “pahlawan” kecil yang nggak disangka-sangka.

Namanya kepiting fiddler atau yang akrab kita sebut kepiting biola. Ternyata, hewan kecil dengan satu capit besar ini punya peran epik sebagai ecosystem engineer yang bisa memodifikasi lingkungan sekitarnya.

Penelitian yang dilakukan di pantai utara Kolombia ini mengungkap fakta bahwa kepiting biola mampu berkembang biak di area yang tercemar berat.

Nggak cuma bertahan hidup, mereka ternyata bisa mencerna dan menguraikan partikel plastik kecil di sedimen dalam hitungan hari saja.

Kecepatan ini jauh melampaui proses alami dari sinar matahari atau hantaman gelombang laut yang biasanya butuh waktu bertahun-tahun untuk menghancurkan plastik.

Eksperimen Unik Menggunakan Cahaya UV dan Mikrosfer Plastik

Para peneliti dari Kolombia dan Inggris mencoba melakukan eksperimen seru dengan menyemprotkan larutan mikrosfer polietilen ke petak hutan bakau perkotaan.

Partikel plastik ini spesial banget karena bisa memancarkan warna cerah kalau terkena cahaya UV, jadi pergerakannya di dalam tubuh kepiting gampang dilacak.

Selama 66 hari, tim memantau bagaimana kepiting-kepiting ini berinteraksi dengan sampah plastik yang sengaja disebar tersebut.

Hasilnya bikin melongo! Saat sampel diambil, ditemukan kalau kepiting biola mengakumulasi mikroplastik 13 kali lipat lebih tinggi dari konsentrasi di tanah.

Menariknya, partikel-partikel ini nggak nyebar sembarangan, tapi paling banyak ngumpul di bagian usus belakang.

Di sanalah proses fragmentasi terjadi, di mana plastik dihancurkan jadi bagian yang jauh lebih kecil berkat bantuan bakteri pengurai di dalam sistem pencernaan mereka.

Fragmentasi Plastik dan Kerja Sama Bakteri Usus Kepiting

Profesor José M. Riascos, sang peneliti utama, menjelaskan kalau mereka pengen tahu apakah interaksi ini cuma sekadar “numpang lewat” atau emang ada proses penghancuran fisik.

Ternyata benar, usus kepiting biola bertindak seperti mesin penghancur mini. Plastik yang masuk diolah dan dipecah-pecah menjadi fragmen yang lebih mungil.

Tim peneliti menyimpulkan adanya kolaborasi epik antara organ pencernaan kepiting dan bakteri khusus yang hidup di usus mereka untuk membantu mempercepat proses ini.

Meskipun terlihat seperti solusi instan buat bersihin laut, para ilmuwan tetap memberikan catatan penting. Kemampuan kepiting biola ini ibarat pedang bermata dua.

Memang benar mereka bisa menghancurkan mikroplastik dengan cepat, tapi proses ini berpotensi menghasilkan nanoplastik yang ukurannya jauh lebih kecil dan lebih berbahaya karena bisa menembus jaringan tubuh hewan tersebut secara lebih dalam.

Ancaman Rantai Makanan dan Efek Samping Bagi Kesehatan

Kekhawatiran utama para ahli sekarang adalah soal “transfer” plastik ini di rantai makanan. Kalau kepiting biola ini dimakan oleh predatornya, otomatis plastik-plastik mikro dan nano tersebut bakal ikut berpindah.

Kita semua tahu kalau plastik yang masuk ke tubuh makhluk hidup sering dikaitkan dengan masalah kesehatan serius.

Beberapa studi bahkan sudah memperingatkan adanya potensi risiko penyakit seperti kanker, gangguan pernapasan, hingga masalah jantung jika partikel ini menumpuk terlalu banyak.

Oleh karena itu, meskipun kepiting biola punya bakat luar biasa buat “membersihkan” sedimen hutan bakau, kita nggak boleh langsung santai.

Penelitian lebih lanjut masih sangat dibutuhkan untuk melihat apakah kesehatan si kepiting sendiri terganggu atau nggak.

Yang pasti, penemuan ini memberikan perspektif baru bahwa alam punya caranya sendiri buat beradaptasi, tapi manusia tetap punya tugas utama buat berhenti membuang sampah plastik ke laut agar para pahlawan kecil ini nggak kerja lembur sendirian.

Statement:

Profesor José M. Riascos, peneliti utama dari Universidad de Antioquia

“Kami ingin mempelajari bagaimana mikrosfer terdistribusi di antara organ-organ utama dan untuk mengetahui apakah interaksi kepiting dengan mikrosfer mengakibatkan fragmentasi fisik mikrosfer menjadi partikel yang lebih kecil. Ternyata, usus kepiting tersebut, bersama dengan bakteri pengurai plastik, dapat membantu proses ini lebih cepat daripada faktor alam lainnya.”

3 Poin Penting:

  • Ecosystem Engineer: Kepiting biola terbukti memiliki kemampuan alami untuk mengurai mikroplastik di hutan bakau dalam hitungan hari.

  • Proses Biologis: Fragmentasi plastik terjadi di dalam usus belakang kepiting dengan bantuan bakteri pengurai, menghasilkan konsentrasi plastik 13 kali lebih tinggi di tubuh mereka dibandingkan di sedimen.

  • Risiko Rantai Makanan: Meskipun membantu mengurai, aktivitas ini memicu kekhawatiran akan pelepasan nanoplastik ke jaringan tubuh kepiting dan predatornya dalam rantai makanan global.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir