Kabar gembira buat kamu para pemburu stempel paspor dan pecinta traveling! Berdasarkan laporan terbaru dari Passport Index per Kamis (8/1/2026), posisi paspor Indonesia terpantau semakin gahar dengan nangkring di peringkat ke-59 secara global.
Kabar ini tentu jadi angin segar buat kita yang pengen eksplor dunia tanpa harus ribet urus berkas di kedutaan, karena dokumen perjalanan kita kini punya mobility score yang cukup solid di angka 91.
Meskipun masih ada selisih jika dibandingkan dengan indeks versi Henley & Partners yang dirilis Desember lalu, data terbaru ini menunjukkan tren positif bagi mobilitas warga negara Indonesia (WNI).
Dengan status peringkat yang merangkak naik, impian untuk healing ke luar negeri jadi makin nyata karena akses masuk ke berbagai destinasi internasional kini jauh lebih terbuka dan ramah bagi kantong para backpacker maupun turis fancy.
Intip Daftar Destinasi Bebas Visa dan Fasilitas On Arrival
Bagi pemegang paspor hijau, total ada 43 negara yang memberikan fasilitas bebas visa secara cuma-cuma.
Negara-negara populer seperti Brasil, Turki, Maroko, hingga tetangga dekat seperti Thailand dan Singapura, masih menjadi destinasi favorit yang bisa kamu datangi tanpa perlu pusing mikirin biaya administrasi visa.
Bahkan, untuk kamu yang pengen tantangan lebih, negara seperti Peru memberikan durasi tinggal bebas visa paling lama hingga 180 hari, lho!
Tak hanya itu, tercatat ada 43 negara lainnya yang menerapkan skema Visa on Arrival (VoA) dan lima negara dengan fasilitas Electronic Travel Authorization (eTA).
Negara-negara eksotis seperti Maladewa, Qatar, hingga Rusia kini bisa kamu masukkan ke dalam bucket list liburan tahun ini.
Fasilitas VoA ini memudahkan kamu untuk mendapatkan izin masuk langsung saat tiba di bandara tujuan, sehingga proses birokrasi jadi jauh lebih praktis dan cepat.
Persaingan Global dan Dominasi Paspor Singapura di Puncak
Jika kita menengok ke persaingan global, paspor Singapura masih kokoh tak tertandingi di peringkat pertama dunia.
Dengan akses bebas visa ke 193 destinasi, paspor negara tetangga kita ini menjadi yang terkuat, disusul oleh Korea Selatan dan Jepang.
Di kawasan Asia Tenggara sendiri, Indonesia berada di posisi yang cukup kompetitif di antara negara-negara berkembang lainnya, unggul atas Filipina, Vietnam, dan Kamboja dalam hal kekuatan dokumen perjalanan.
Menariknya, laporan ini juga menyoroti paspor Amerika Serikat yang secara mengejutkan terlempar dari posisi 10 besar dunia dan kini harus puas duduk di peringkat ke-12.
Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan paspor sebuah negara bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh kebijakan diplomatik serta stabilitas global.
Bagi Indonesia, kenaikan peringkat ini diharapkan terus berlanjut seiring dengan semakin kuatnya kerja sama internasional yang dijalin oleh pemerintah.
Tips Traveling Nyaman dengan Aturan Visa Terbaru
Buat kamu yang sudah berencana berangkat, pastikan selalu mengecek durasi tinggal yang diberikan oleh masing-masing negara.
Meskipun bebas visa, setiap negara punya aturan main sendiri, mulai dari 14 hari di Brunei hingga 120 hari di Fiji. Jangan sampai kamu overstay hanya karena lupa mengecek detail kecil ini.
Untuk negara yang menerapkan eTA seperti Jepang (khusus pemegang paspor elektronik), pastikan proses registrasi daring sudah kelar sebelum kamu menuju bandara.
Dengan 91 destinasi yang memberikan kemudahan akses, sekarang saatnya kamu siapkan koper dan paspor. Tetap update dengan informasi terbaru karena kebijakan visa bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi geopolitik.
Selamat merencanakan perjalanan, dan pastikan setiap momen liburan kamu menjadi cerita yang tak terlupakan dengan memanfaatkan kemudahan akses yang ditawarkan paspor Indonesia di tahun 2026 ini!
3 Poin Penting:
-
Paspor Indonesia menempati peringkat ke-59 global menurut Passport Index per Januari 2026 dengan mobility score 91.
-
Warga Negara Indonesia mendapatkan fasilitas bebas visa di 43 negara dan fasilitas Visa on Arrival di 43 negara lainnya.
-
Singapura tetap menjadi paspor terkuat di dunia, sementara Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan aksesibilitas internasional.



