Sebuah keputusan bersejarah baru saja diambil di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Majelis Umum PBB secara resmi mengadopsi resolusi bertajuk “Correct the Map” untuk menggantikan proyeksi peta Mercator yang telah digunakan dunia selama berabad-abad.
Langkah ini diambil guna menghadirkan representasi visual dunia yang jauh lebih akurat, terutama terkait ukuran asli benua-benua di kawasan khatulistiwa seperti Afrika yang selama ini terkesan “dikecilkan” pada Peta konvensional.
Sebagai gantinya, PBB mengadopsi proyeksi peta Equal Earth (Bumi Setara) sebagai standar peta dunia yang baru. Proyeksi Mercator yang diciptakan oleh Gerardus Mercator pada tahun 1569 silam memang sangat berguna untuk navigasi pelayaran.
Namun, mekanisme pembuatannya secara tidak sengaja mendistorsi skala daratan—membuat negara di dekat kutub seperti Greenland tampak berukuran setara dengan Benua Afrika, padahal fakta geografis menunjukkan Afrika 14 kali lebih besar.
Efek Psikologis Peta Mercator dan Alasan Afrika Menuntut Keadilan Visual
Penerapan peta Mercator di ruang-ruang kelas, tayangan televisi, hingga aplikasi navigasi digital modern seperti Google Maps rupanya membawa dampak psikologis dan geopolitik yang cukup sistemik.
Secara intuitif, persepsi manusia cenderung menganggap wilayah daratan yang digambarkan lebih besar sebagai kawasan yang lebih dominan, kaya, dan penting secara politik maupun ekonomi.
Para pengkritik dan ahli geografi menilai bahwa ketidakakuratan ini secara implisit telah mengecilkan potensi resources, jumlah populasi, serta peluang investasi raksasa di Benua Afrika.
Kehadiran resolusi peta baru ini diharapkan mampu mengubah sudut pandang masyarakat dunia agar dapat melihat porsi geopolitik kawasan belahan bumi selatan secara lebih objektif dan proporsional.
Keunggulan Peta Bumi Setara dan Dilema Kartografi Matematika
Proyeksi Equal Earth yang kini diakui PBB dikembangkan pada tahun 2018 dengan mengacu pada prinsip proyeksi Robinson 1963.
Keunggulan utamanya terletak pada kemampuannya menyajikan rasio luas daratan secara presisi tanpa mengorbankan estetika visual bentuk benua.
Sebelum diadopsi secara global oleh PBB, peta Bumi Setara ini telah lebih dulu disahkan dan digunakan oleh para anggota Uni Afrika.
Kendati demikian, para ahli kartografi mengingatkan bahwa tidak ada peta dua dimensi berbentuk persegi panjang yang benar-benar sempurna.
Menyalin permukaan bumi yang berbentuk bola ke dalam bidang datar selalu menuntut kompromi matematika.
Peta Bumi Setara harus mengorbankan garis-garis navigasi lurus milik Mercator, sehingga peta ini tidak dirancang untuk mengukur jarak penerbangan atau rute kapal laut.
Membandingkan Peta Peters, Peta Kutub PBB, dan Bias Geografis Global
Sebelum PBB mengadopsi peta Equal Earth, dunia kartografi telah mengenal berbagai alternatif peta seperti peta Peters karya Arno Peters.
Peta Peters berhasil menyajikan proporsi luas daratan yang akurat, namun mengorbankan keaslian bentuk geografis sehingga daratan di sekitar khatulistiwa terlihat meregang kaku.
Selain itu, ada pula proyeksi azimutal ekuidistan berbentuk lingkaran berpusat di Kutub Utara—seperti yang terpampang pada logo resmi PBB.
Perubahan standar peta dunia ini menegaskan bahwa peta bukan sekadar alat petunjuk arah bagi para pelancong, melainkan instrumen politik dan kultural yang membentuk cara pandang manusia terhadap peradaban.
Dengan beralih ke proyeksi Equal Earth, dunia diajak untuk meninggalkan bias geografis masa lalu dan mulai memandang bumi secara lebih setara dan adil.
Statement:
Kioko Muendo, Ahli Geografi asal Kenya
“Peta lebih dari sekadar panduan bagi para pelancong. Peta membentuk cara suatu kawasan dipersepsikan secara politik dan ekonomi. Distorsi pada peta lama secara implisit telah mengecilkan arti sumber daya, populasi, dan peluang investasi Afrika yang sangat besar.”
Prof. James Cheshire, Profesor Kartografi University College London
“Tujuan utama Mercator adalah membuat garis lurus pada peta tampak sebagai garis lurus dalam kenyataan saat mengikuti arah kompas. Namun, Anda bisa mempertahankan luas, bentuk, atau jarak, tetapi tidak bisa mempertahankan semuanya secara sempurna pada peta datar—karena jika demikian Anda harus kembali ke bentuk bola dunia.”
3 Poin Penting:
-
Adopsi Peta Equal Earth: PBB mengadopsi resolusi “Correct the Map” dan memilih peta Equal Earth (Bumi Setara) untuk menggantikan proyeksi Mercator yang dinilai bias.
-
Koreksi Distorsi Benua: Peta baru ini membetulkan kesalahan skala visual yang selama ini menggambarkan Greenland seukuran Afrika, padahal Benua Afrika sesungguhnya 14 kali lebih besar.
-
Kompromi Kartografi: Proyeksi Equal Earth unggul dalam menyajikan proporsi luas daratan secara adil, meski mengorbankan fungsi pengukuran jarak dan navigasi kompas.



