Selamat datang di era di mana nasi kotak lebih sakti daripada surat lamaran kerja. Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, baru saja memberikan pernyataan yang bikin para pencari kerja di LinkedIn mengelus dada.
Beliau menegaskan bahwa program Makan Bergizi (MBG) adalah kebutuhan yang jauh lebih mendesak ketimbang pembukaan lapangan kerja.
Ya, kalian tidak salah baca, mending kenyang meskipun jadi pengangguran daripada lapar tapi punya pekerjaan, setidaknya itu logika yang sedang dibangun.
Rachmat sadar kalau pandangannya ini bakal memicu debat panas di warung kopi hingga forum ekonomi. Namun, beliau tetap teguh pada pendiriannya bahwa urusan gizi masyarakat, terutama di daerah pelosok, tidak bisa ditunda sekejap pun.
Lapangan kerja memang krusial untuk masa depan, tapi kalau perut sudah berbunyi keroncongan, jangankan mau kerja, mau bangun dari tempat tidur saja rasanya seperti sedang mengangkat beban negara.
Ikan Lebih Penting daripada Kail: Logika Baru Lawan Kelaparan
Menteri Bappenas ini bahkan berani membolak-balik peribahasa legendaris soal memberi ikan atau kail.
Biasanya kita diajarkan untuk memberi kail agar orang bisa mandiri, tapi menurut Rachmat, kalau dikasih kail sementara perut sudah kosong melintir, yang ada orangnya keburu mati sebelum sempat melihat ikannya.
Jadi, lupakan dulu soal produktivitas jangka panjang, fokus pemerintah saat ini adalah memastikan tidak ada rakyat yang “tewas” karena kelaparan saat sedang menunggu lowongan kerja dibuka.
Filosofi “ikan di atas kail” ini dianggap sebagai fondasi penting untuk membangun sumber daya manusia yang efektif.
Logikanya, kalau gizinya sudah terpenuhi, barulah orang-orang ini punya tenaga buat mencari kerja atau setidaknya punya energi buat mengeluh di media sosial soal sulitnya cari kerja.
Rachmat mengajak kita untuk melihat saudara-saudara di ujung pelosok yang sedang lapar, yang baginya jauh lebih nyata urgensinya daripada angka pengangguran yang terus merayap naik.
Ambisi Mengalahkan Raksasa Fast Food dalam Satu Tahun
Sementara itu di Davos, Presiden Prabowo Subianto juga nggak mau kalah pamer kekuatan program MBG ini di depan para elite global.
Beliau berkelakar kalau program kebanggaan Indonesia ini bakal segera menyalip capaian harian raksasa fast food asal Amerika, McDonald’s.
Jika McD butuh waktu puluhan tahun buat memproduksi jutaan porsi sehari, Indonesia merasa cukup setahun saja buat bikin rekor dunia baru dalam urusan bagi-bagi makanan secara masif.
Presiden menargetkan angka yang cukup ambisius, yaitu 82,9 juta porsi per hari. Saat ini saja, dengan ribuan dapur yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, pemerintah mengklaim sudah memproduksi hampir 60 juta porsi untuk anak-anak hingga lansia.
Sepertinya masa depan Indonesia bukan lagi soal startup teknologi yang menjamur, melainkan soal dapur-dapur raksasa yang operasionalnya lebih sibuk daripada pabrik otomotif mana pun di dunia.
Sinergi Dapur Nasional: Masa Depan yang Wangi Masakan
Program yang sudah dimulai sejak awal 2025 ini memang bukan main-main skalanya. Dari yang awalnya cuma ratusan unit dapur, sekarang sudah ada puluhan ribu dapur yang mengepul setiap hari.
Pemerintah seolah ingin membuktikan bahwa urusan perut adalah panglima. Kalau urusan makan sudah beres, urusan lapangan kerja mungkin bisa dibicarakan lagi nanti, entah tahun depan atau tahun depannya lagi saat semua orang sudah benar-benar kenyang.
Pada akhirnya, kita sedang dipaksa percaya bahwa kemajuan bangsa dimulai dari piring makan, bukan dari meja kantor.
Pembangunan sumber daya manusia versi Bappenas adalah memastikan asupan gizi masuk secara merata, sebelum kebijakan lain memberikan dampak jangka panjang.
Jadi, bagi kalian yang masih sibuk memoles CV, jangan lupa tetap bersyukur kalau hari ini masih bisa dapat jatah makan gratis, karena menurut pemerintah, itu jauh lebih mendesak daripada status karyawan tetap.
Statement:
Rachmat Pambudy, Menteri PPN/Kepala Bappenas
“Pada waktu saya ditanya mengapa MBG penting? Apakah MBG lebih penting dari memberi lapangan kerja? Saya mengatakan MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja. Ada yang bilang tolong kasih kail, jangan ikan. Kalau dikasih kail, sudah keburu mati.”
3 Poin Penting:
-
Menteri Bappenas menegaskan program Makan Bergizi (MBG) lebih mendesak daripada penciptaan lapangan kerja demi menyelamatkan masyarakat dari kelaparan akut.
-
Pemerintah menganut filosofi memberikan bantuan pangan langsung (ikan) sebagai fondasi dasar sebelum memberikan alat kemandirian ekonomi (kail).
-
Presiden Prabowo menargetkan program MBG melampaui kapasitas produksi harian McDonald’s dengan target 82,9 juta porsi makanan per hari.

![Ketua Ombudsman RI [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/PENANGKAPAN-KEJAGUNG-Ketua-Ombudsman-RI-Hery-Susanto-ditangkap-860x484-1-300x169.webp)

![Satpol PP [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/28082024121157_0-300x200.jpeg)