Search
Search
Search

Pestolaer Dihidupkan Kembali Lewat Album Tribute, Libatkan 12 Band Lintas Generasi

Minggu, 11 Oktober 2026

Pestolaer by Lost Wave Records (ist)

Perjalanan band independen Pestolaer yang tumbuh dari skena musik underground Jakarta sejak awal 1990-an kembali mendapat sorotan.

Band yang dibentuk pada 1992 ini diperkenalkan kepada pendengar lintas generasi melalui album penghormatan bertajuk Tribute to Pestolaer: Nothing Best But Friends.

Proyek tersebut menjadi upaya untuk merawat jejak musik independen sekaligus menghadirkan kembali karya-karya Pestolaer dalam perspektif musikal yang lebih segar.

Album ini diinisiasi oleh popaktif.id bersama Lost Wave Record dengan melibatkan 12 band yang memiliki latar belakang dan karakter musik berbeda.

Masing-masing musisi mengolah ulang lagu Pestolaer sesuai pendekatan kreatif mereka, sehingga karya-karya lama tersebut mendapatkan interpretasi baru.

Kolaborasi ini juga memperlihatkan bagaimana warisan musik independen dapat terus berkembang ketika diteruskan oleh generasi musisi berikutnya.

Pestolaer dan Perjalanan dari Punk Rock ke Indie Rock

Pestolaer dibentuk pada 1992 dengan formasi Taba sebagai vokalis, Nyoman sebagai gitaris, P.A sebagai pemain bass, dan Boris sebagai drummer.

Pada masa awal kemunculannya, mereka menjadi bagian dari gelombang pertama punk rock di lingkungan underground Jakarta.

Sejumlah lagu milik Sex Pistols turut masuk dalam materi yang mereka bawakan, mencerminkan pengaruh musik punk terhadap perjalanan awal band tersebut.

Namun, eksplorasi musikal Pestolaer tidak berhenti pada punk rock. Pada 1994, mereka mulai mengarahkan musiknya menuju indie rock dan Madchester, dengan pengaruh dari band seperti The Charlatans dan The Stone Roses.

Perubahan ini menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas musikal Pestolaer.

Perjalanan tersebut menunjukkan dinamika sebuah band independen dalam mencari karakter yang lebih personal sekaligus mengikuti perkembangan skena musik alternatif pada masanya.

12 Band Beri Interpretasi Baru untuk Lagu Pestolaer

Melalui album Nothing Best But Friends, sebanyak 12 band mendapat kesempatan untuk menghidupkan kembali lagu-lagu Pestolaer dengan gaya masing-masing.

And Bellyaches menggarap lagu “Colours”, Fuzzya membawakan “Istana Pasir”, sedangkan Shakaboyd menghadirkan interpretasi baru untuk “Lay Down”.

Sementara itu, The Corner Of My Room mengolah “Terlalu Melamun” dan The Portray membawakan “Pemimpin Cahaya”.

Selain nama-nama tersebut, proyek ini juga melibatkan Furs, Gudtings, Kebunku, Lipgloss, Lucy Enigma, The Bunbury, dan The North Palm.

Keberagaman peserta memberikan ruang bagi setiap band untuk mengeksplorasi materi sesuai identitas musik mereka.

Dengan pendekatan tersebut, album tribut ini tidak sekadar mengulang karya lama, tetapi juga membuka kesempatan bagi pendengar untuk menemukan sisi berbeda dari lagu-lagu Pestolaer.

Kaset, Hearing Session, dan Kolaborasi Visual

Dalam proses produksinya, setiap band menangani mixing untuk materi masing-masing, sedangkan mastering keseluruhan dipercayakan kepada Danu Ega Haryanto.

Pembagian proses kerja tersebut memungkinkan para musisi mempertahankan karakter interpretasi mereka tanpa menghilangkan benang merah album sebagai bentuk penghormatan kepada Pestolaer.

Hasilnya diharapkan menjadi dokumentasi musikal yang mempertemukan berbagai pendekatan dalam satu proyek.

Album Tribute to Pestolaer: Nothing Best But Friends dijadwalkan hadir dalam format kaset pada 11 Oktober 2026.

Pada tanggal yang sama, hearing session akan digelar di Psychocandy Records, Kemang, Jakarta Selatan, dengan melibatkan sejumlah pelaku musik dan pegiat skena independen.

Proyek ini juga mencakup kolaborasi merchandise bersama Gingham Box, sementara Anggi Faradilla/Mica dari Lucy Enigma menangani artwork visual dan tata letak album.

Melalui proyek ini, perjalanan Pestolaer tidak hanya menjadi catatan sejarah underground Jakarta, tetapi juga sumber inspirasi bagi musisi lintas generasi.

Meski tidak disertai kutipan langsung dari narasumber dalam informasi yang tersedia, konsep album ini memperlihatkan semangat kolaborasi untuk menjaga karya musik independen tetap relevan.

Interpretasi baru dari 12 band membuka peluang bagi pendengar masa kini untuk mengenal kembali perjalanan Pestolaer sekaligus memahami perkembangan skena alternatif Indonesia.

3 Poin Penting:

  • Menghidupkan kembali sejarah musik independen: Pestolaer, band yang terbentuk pada 1992, kembali diperkenalkan melalui album penghormatan Tribute to Pestolaer: Nothing Best But Friends.
  • Melibatkan 12 band lintas generasi: Sejumlah musisi menginterpretasikan ulang lagu-lagu Pestolaer dengan pendekatan musikal yang beragam, mulai dari “Colours” hingga “Pemimpin Cahaya”.
  • Kaset dan hearing session pada 11 Oktober 2026: Album dijadwalkan hadir dalam format kaset dan dirayakan melalui hearing session di Psychocandy Records, Kemang, Jakarta Selatan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan