Kota Padang lagi kena serangan kombo dari alam yang bikin geleng-geleng kepala. Belum lama sejak banjir bandang menerjang di penghujung 2025, eh, sekarang memasuki awal 2026 Sungai Batang Kuranji malah mendadak “diet” alias debit airnya menipis drastis.
Fenomena anomali ini tentu jadi bahan obrolan hangat karena dalam rentang waktu yang singkat, warga harus menghadapi dua kondisi ekstrem yang bertolak belakang.
Banjir bandang akhir tahun lalu ternyata dipicu oleh Siklon Tropis Senyar yang membawa hujan ekstrem hingga melampaui 500 milimeter di wilayah hulu.
Tanah di lereng Bukit Barisan dipaksa menelan air di luar kapasitas alaminya, hingga pori-pori tanah yang biasanya jadi “spons raksasa” terisi penuh dan nggak sanggup lagi meresap.
Alhasil, air berubah jadi limpasan permukaan yang ganas, membawa material sedimen dan menghantam permukiman warga.
Efek Samping Banjir dan Hilangnya Tabungan Air Tanah
Kondisi sungai yang sekarang tampak kering kerontang sebenarnya punya kaitan erat dengan kerusakan di bagian hulu. Material sedimen yang terbawa banjir kemarin ternyata mengendap di dasar sungai dan menaikkan elevasi sungai hingga dua meter.
Alurnya memang terlihat melebar, tapi sebenarnya makin dangkal, sehingga air mengalir tipis dan batu-batu dasar sungai mulai tersingkap dengan jelas.
Dosen Universitas Andalas, Dian Fiantis, menyebutkan kalau masalah utamanya bukan cuma karena minim hujan, tapi karena fungsi “spons” alami hutan di hulu sudah melemah. Banyak hutan yang sudah berubah fungsi jadi kebun, jalan, hingga permukiman.
Dampaknya, air hujan nggak sempat lagi meresap ke dalam tanah untuk disimpan sebagai cadangan, melainkan langsung meluncur ke hilir saat hujan deras dan menyisakan kekeringan saat hujan reda.
Fenomena Losing Stream yang Bikin Air Seolah Menghilang
Sobat lingkungan harus tahu kalau saat ini Batang Kuranji lagi mengalami fenomena yang disebut losing stream. Ini kondisi unik di mana air sungai justru meresap ke bawah untuk mengisi akuifer atau cadangan air tanah yang sudah menyusut parah.
Jadi, jangan heran kalau air sungai seolah-olah “menghilang” di tengah jalan, karena ia sedang berusaha menambal kekosongan di bawah tanah akibat muka air tanah yang turun drastis.
Selain itu, baseflow atau aliran dasar sungai yang biasanya stabil juga makin loyo. Baseflow ini ibarat “tabungan” yang menjaga sungai tetap mengalir meski nggak ada hujan.
Karena tabungan air tanah ini habis, sungai jadi sangat ketergantungan sama hujan sesaat saja. Data mencatat curah hujan harian belakangan ini hanya sekitar 7,30 milimeter, yang tentu saja nggak cukup buat ngisi ulang cadangan air bawah tanah yang sudah tekor.
Peringatan dari Hulu dan Solusi Biar Sungai Nggak Gampang Baper
Kondisi Batang Kuranji yang tampak “kurus” ini adalah alarm keras dari perbukitan buat kita semua. Dampaknya pun nggak main-main, mulai dari mata air yang hilang, sumur warga yang mulai kering, sampai gangguan pasokan air bersih PDAM.
Fenomena ini membuktikan kalau keseimbangan alam itu sensitif banget; sekali hulu rusak, hilir bakal kena imbasnya baik saat musim hujan maupun musim kemarau.
Dian Fiantis menekankan kalau solusinya bukan cuma fokus di hilir, tapi harus benerin “atapnya” alias wilayah perbukitan. Pemulihan vegetasi, pengendalian erosi, dan perlindungan zona mata air jadi harga mati kalau mau Batang Kuranji punya tabungan air lagi.
Kalau fungsi spons ini pulih, sungai kebanggaan warga Padang ini nggak bakal gampang meluap saat hujan dan nggak bakal terlihat “kurus” lagi waktu kemarau melanda.
Statement:
Dian Fiantis, Dosen Universitas Andalas
“Dalam bahasa hidrologi, angka ini bukan sekadar statistik hujan. Ini adalah proses pelan namun pasti ketika tanah di lereng-lereng Bukit Barisan dipaksa menerima air melampaui kapasitas alaminya. Jika fungsi spons DAS dipulihkan, Batang Kuranji akan kembali memiliki tabungan airnya – tak lagi tampak kurus di musim kering dan tak mudah meluap saat musim hujan.”
3 Poin Penting:
-
Banjir bandang akhir 2025 di Padang disebabkan oleh hujan ekstrem Siklon Tropis Senyar yang melampaui kapasitas resapan tanah hulu.
-
Penipisan air sungai awal 2026 dipicu oleh rusaknya fungsi resapan (spons) hutan di hulu akibat perubahan tata lahan, sehingga cadangan air tanah (baseflow) melemah.
-
Sungai mengalami fenomena losing stream di mana air permukaan justru meresap ke bawah tanah karena akuifer yang menyusut drastis.

![paus minke lovina bali [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Minke-Whale-Drone-3356_copyright-Dolphin-Safari.jpg-300x116.webp)
![Pendatang Baru Jakarta [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/BqYesGoTRV.jpeg-300x169.webp)
