Media sosial dan aplikasi perpesanan baru saja dihebohkan oleh foto bangunan tembok beton masif yang berdiri di aliran Sungai Ciseureuh, Desa Sangrawayang, Kabupaten Sukabumi.
Narasi yang beredar liar menuding pembangunan tersebut dilakukan secara sewenang-wenang dan bakal mempersempit aliran air sungai.
Namun, jangan telan mentah-mentah kabar burung tersebut, karena fakta di lapangan justru menunjukkan pemandangan yang cukup mencekam sekaligus mengharukan.
Pantauan Detik Jabar di lokasi pada Jumat (6/2/2026) memperlihatkan kondisi rumah warga yang berada di titik kritis tepat di bibir tebing sungai yang tergerus parah. Fondasi bangunan rumah putih milik warga bahkan tampak menggantung di atas aliran air yang deras dan keruh.
Tembok beton yang sempat dihujat netizen itu sebenarnya adalah struktur penahan tanah yang sedang dibangun memanjang mengikuti alur tebing yang longsor untuk mencegah pemukiman warga ambles diterjang arus.
Aksi Swadaya Rp500 Juta Demi Melindungi Delapan Rumah Warga
Ketua LPM Desa Sangrawayang, Heris Sponga, menegaskan bahwa area yang kini ditembok itu sejatinya adalah daratan yang hilang sejauh 15 hingga 20 meter akibat banjir bandang tahun 2024.
Aliran sungai yang bergeser drastis membuat posisi rumah warga kini berada dalam bahaya maut jika tidak segera dibeton. Menariknya, pembangunan ini bukan dilakukan oleh pemerintah, melainkan inisiatif swadaya dari seorang pemilik lahan bernama Abdul Sukin alias Pak Atok.
Pak Atok dikabarkan rela merogoh kocek pribadi hingga hampir Rp500 juta demi membangun Tembok Penahan Tanah (TPT) tersebut.
Langkah darurat ini diambil karena warga merasa solusi dari pemerintah tak kunjung datang sementara nyawa mereka terancam setiap kali hujan deras turun.
Warga Kampung Cisaat merasa sangat terbantu karena setidaknya ada delapan rumah yang kini terselamatkan dari potensi longsor berkat tembok beton tersebut.
Dukungan Pemerintah Kecamatan dan Pentingnya Infrastruktur Geopark
Merespons polemik yang viral, Camat Simpenan, Supendi, justru memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif warganya. Ia mengakui bahwa proses birokrasi dan anggaran pemerintah seringkali memakan waktu lama, sehingga aksi cepat dari masyarakat sangat membantu mencegah abrasi yang lebih parah.
Selain melindungi rumah, tembok beton ini ternyata juga krusial untuk menjaga stabilitas jembatan provinsi yang menjadi akses vital menuju kawasan wisata Geopark Ciletuh.
Supendi menjelaskan bahwa jika tebing tersebut tidak segera diperkuat, infrastruktur publik di sekitarnya bisa ikut hancur diterjang banjir.
Meski begitu, pihak kecamatan memberikan catatan tegas kepada pemilik lahan agar tidak mendirikan bangunan permanen di atas tembok tersebut.
Area bantaran sungai diharapkan tetap difungsikan sebagai ruang terbuka hijau atau ditanami pohon agar keseimbangan ekosistem di sepanjang Sungai Ciseureuh tetap terjaga dengan baik.
Menjaga Aset Pribadi Sekaligus Kepentingan Umum Tanpa Anggaran Negara
Ruyatna, warga setempat yang menjadi saksi bisu ganasnya banjir 2024, membenarkan bahwa lokasi tersebut dulunya adalah area berbukit, bukan badan sungai. Bencana tersebut bahkan menghanyutkan kandang domba dan fasilitas MCK milik warga hingga rata dengan tanah.
Pembangunan tanggul ini murni dilakukan untuk mengamankan aset pribadi yang memiliki legalitas kepemilikan, sekaligus memberikan rasa aman bagi pemukiman di sekitarnya yang sempat trauma.
Kisah dari Sukabumi ini mengajarkan kita untuk selalu melakukan cek fakta sebelum ikut menyebarkan narasi negatif di media sosial.
Sesuatu yang terlihat seperti pelanggaran lingkungan di kamera, ternyata bisa jadi adalah perjuangan terakhir seorang warga untuk melindungi sesamanya dari bencana alam.
Kini, warga Desa Sangrawayang bisa sedikit bernapas lega menyambut musim hujan tanpa harus takut rumah mereka hanyut terbawa aliran Sungai Ciseureuh yang liar.
Statement:
Heris Sponga, Ketua LPM Desa Sangrawayang
“Ini untuk meringankan pemerintah. Karena apa? Pemerintah itu nggak ada solusi, cuman lihat-lihat doang. Makanya Bapak Abdul Sukin membangun ini sampai hampir Rp500 juta, beliau berani berkorban untuk warga agar rumah mereka tidak habis terbawa banjir.”
3 Poin Penting:
-
Tembok beton di Sungai Ciseureuh merupakan Tembok Penahan Tanah (TPT) yang dibangun secara swadaya untuk mencegah longsornya rumah warga akibat abrasi sungai.
-
Pembangunan tersebut menelan biaya sekitar Rp500 juta dari dana pribadi pemilik lahan karena keterbatasan anggaran pemerintah dalam menangani dampak banjir bandang 2024.
-
Camat Simpenan mendukung inisiatif tersebut karena selain melindungi delapan rumah warga, tembok itu juga menjaga infrastruktur vital akses menuju Geopark Ciletuh.
![demo kaltim [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/020014400_1776812982-massa-aksi-300x169.jpg)
![Aksi Unjuk Rasa [dok. waratakota]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/demo9.jpg-300x169.webp)
![aksi buruh FSPMI [dok. cnn]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/partai-buruh-demo-dpr_169-e1776318736533-300x189.jpeg)
![demo jakarta [dok. tribun]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/demo12.jpg-300x169.webp)