Search
Search
Search

Popularitas Donald Trump Anjlok ke 31%, Demokrat Unggul Jelang Pemilu Paruh Waktu AS 2026

Rabu, 21 Oktober 2026

Donald Trump Presiden AS (bloomberg)

Popularitas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan merosot ke titik terendah sepanjang dua masa jabatannya.

Survei Reuters/Ipsos yang ditutup pada Senin (19/10/2026) mencatat tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump hanya mencapai 31%.

Angka tersebut turun satu poin persentase dibandingkan survei dua pekan sebelumnya.

Penurunan ini menjadi perhatian karena muncul menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections pada 3 November 2026, saat Partai Republik berisiko kehilangan kendali atas Kongres AS.

Sinyal yang lebih mengkhawatirkan bagi Partai Republik terlihat dalam survei pilihan pemilih untuk pemilihan Kongres.

Sebanyak 47% pemilih terdaftar menyatakan lebih memilih kandidat Partai Demokrat, sementara dukungan terhadap Partai Republik hanya 35%.

Selisih 12 poin persentase ini menjadi keunggulan terbesar Demokrat dalam siklus pemilu kali ini, melebar dari tujuh poin dalam survei sebelumnya.

Meski angka tersebut belum menjamin kemenangan Demokrat di setiap daerah, tren ini menunjukkan bahwa partai pendukung Trump menghadapi tantangan serius untuk mempertahankan kekuasaan legislatif.

Ekonomi dan Harga Bensin Jadi Beban Politik

Salah satu faktor yang diduga ikut menekan popularitas Trump adalah persoalan ekonomi, terutama kenaikan harga bensin setelah AS bersama sekutunya, Israel, melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Februari.

Konflik tersebut memicu lonjakan harga bahan bakar yang membebani anggaran rumah tangga.

Bagi masyarakat, kebijakan luar negeri tidak lagi terasa sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari ketika dampaknya ikut menaikkan biaya transportasi dan pengeluaran rutin.

Situasi ini memperlihatkan bahwa keputusan geopolitik dapat memiliki konsekuensi langsung terhadap kondisi ekonomi domestik.

Ketidakpuasan terhadap pengelolaan ekonomi juga terlihat jelas dalam hasil survei. Sekitar 68% warga AS menyatakan tidak menyetujui cara Trump menangani perekonomian, termasuk 37% responden yang mengidentifikasi diri sebagai pendukung Partai Republik.

Dalam urusan ekonomi, Demokrat memperoleh tingkat kepercayaan 40%, sedangkan Republik hanya 33%. Angka ini menjadi peringatan bahwa dukungan politik tidak selalu bertahan ketika masyarakat merasa kondisi keuangan mereka semakin tertekan.

Pemerintah perlu menjelaskan langkah konkret untuk mengendalikan dampak kenaikan harga, memperkuat daya beli, dan mengurangi ketidakpastian ekonomi, bukan hanya mengandalkan narasi keberhasilan.

Pemilih Perempuan Jadi Tantangan bagi Partai Republik

Pelemahan dukungan terhadap Partai Republik juga terlihat dari perbedaan pilihan berdasarkan gender. Sekitar 50% pemilih perempuan yang disurvei menyatakan akan memilih kandidat Demokrat, sedangkan 32% memilih kandidat Republik.

Pemilih laki-laki pun cenderung mengarah ke Demokrat, meskipun jarak dukungannya tidak sebesar pada kelompok perempuan.

Temuan ini mengisyaratkan bahwa tantangan Partai Republik tidak hanya berkaitan dengan citra Trump, tetapi juga dengan bagaimana kebijakan pemerintahan dinilai oleh kelompok pemilih yang berbeda.

Meski demikian, hasil survei nasional tidak seharusnya dibaca sebagai vonis bahwa Demokrat pasti menang dalam pemilu paruh waktu.

Sistem pemilihan AS sangat dipengaruhi persaingan di setiap negara bagian dan distrik, sehingga keunggulan suara secara nasional belum tentu berbanding lurus dengan jumlah kursi yang diperoleh.

Survei Reuters/Ipsos dilakukan secara daring terhadap 1.679 orang dewasa AS, termasuk 1.279 pemilih terdaftar. Margin kesalahannya mencapai dua poin persentase untuk seluruh responden dan tiga poin untuk pemilih terdaftar.

Artinya, hasil ini lebih tepat dipahami sebagai potret sentimen pemilih pada saat survei dilakukan, bukan prediksi mutlak hasil pemilu.

Midterm Elections Bisa Mengubah Arah Pemerintahan Trump

Pemilu paruh waktu menjadi ujian penting bagi pemerintahan Trump karena hasilnya dapat menentukan seberapa leluasa presiden menjalankan agenda politiknya selama dua tahun berikutnya.

Jika Demokrat berhasil mengambil alih Dewan Perwakilan Rakyat atau Senat, kebijakan pemerintahan berpotensi menghadapi pengawasan lebih ketat dan proses legislasi yang lebih sulit.

Sebaliknya, jika Republik mampu mempertahankan kendali, Trump akan memiliki ruang politik yang lebih besar untuk melanjutkan programnya.

Karena itu, angka persetujuan 31% bukan sekadar statistik popularitas, melainkan salah satu indikator tantangan politik yang sedang dihadapi pemerintahannya.

Bagi masyarakat dan pengamat politik, perkembangan ini menjadi pengingat penting bahwa penilaian terhadap pemimpin perlu bertumpu pada hasil kebijakan, bukan semata-mata loyalitas partai atau popularitas personal.

Pemilih perlu membandingkan program ekonomi, menilai dampak keputusan luar negeri, serta memeriksa rekam jejak kandidat sebelum menentukan pilihan.

Sementara itu, kedua partai perlu menawarkan solusi yang realistis terhadap persoalan biaya hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Pada akhirnya, survei dapat menunjukkan arah perubahan opini publik, tetapi kualitas demokrasi ditentukan oleh kemampuan warga untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat dan pertanggungjawaban politik yang jelas.

3 Poin Penting:

  • Popularitas Trump turun: Survei Reuters/Ipsos mencatat tingkat persetujuan terhadap kinerjanya hanya 31%, terendah sepanjang dua masa jabatannya.
  • Demokrat unggul dalam survei pemilih: Sebanyak 47% pemilih terdaftar memilih Demokrat, dibandingkan 35% untuk Republik, dengan persoalan ekonomi menjadi salah satu tantangan utama bagi Trump.
  • Hasil pemilu belum dapat dipastikan: Persaingan di setiap negara bagian dan distrik tetap menentukan penguasaan Kongres, sehingga keunggulan survei nasional tidak otomatis menjamin kemenangan Demokrat.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan