Search
Search
Search

Populasi Kendaraan Listrik di Indonesia Tembus 541 Ribu Unit, Tren Otomotif Hijau Makin Hits

Sabtu, 26 September 2026

Mobil listrik (istimewa)

Kesadaran masyarakat Indonesia untuk beralih ke transportasi ramah lingkungan ternyata bukan cuma sekadar gaya hidup sementara.

Data terbaru menunjukkan tren penggunaan kendaraan listrik di Tanah Air mengalami lonjakan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat bahwa populasi kendaraan listrik dari berbagai jenis di Indonesia telah mencapai angka fantastis, yakni sebanyak 541.678 unit sepanjang periode 2020 hingga Agustus 2026.

Meningkatnya jumlah kendaraan ramah lingkungan ini menandakan bahwa ekosistem transportasi berbasis baterai semakin diterima secara luas oleh publik.

Masyarakat mulai sadar akan pentingnya menekan emisi karbon sekaligus menghemat pengeluaran operasional harian.

Pergeseran tren mobilitas modern ini pun menjadi bukti nyata bahwa Indonesia tengah melangkah mantap menuju era elektrifikasi kendaraan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Pemicu Utama Lonjakan Kendaraan Listrik dan Komitmen Emisi Nol

Perkembangan signifikan dalam penggunaan kendaraan listrik di Tanah Air mulai menunjukkan taringnya sejak tahun 2023.

Salah satu faktor utama yang memicu perubahan besar ini adalah dinamika geopolitik global yang berdampak langsung pada fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM).

Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk mencari alternatif transportasi yang lebih efisien serta terbebas dari ketergantungan bahan bakar fosil.

Di samping isu ekonomi, komitmen terhadap Net Zero Emission (NZE) dan target efisiensi lingkungan turut mempercepat masa transisi ini.

Langkah akselerasi elektrifikasi transportasi ini menjadi bagian penting dari komitmen Indonesia dalam Paris Agreement untuk memangkas emisi gas rumah kaca secara konsisten.

Pemerintah bersama masyarakat terus bahu-membahu menciptakan lingkungan yang lebih bersih demi masa depan bumi yang lebih hijau.

Investasi Industri Nyaris Tembus Rp30,5 Triliun dan Serap Ribuan Tenaga Kerja

Pertumbuhan pesat pada populasi kendaraan listrik berbanding lurus dengan geliat investasi di sektor manufaktur dalam negeri. Kemenperin mencatat total investasi pada industri perakitan kendaraan listrik nasional telah menyentuh angka Rp30,468 triliun.

Angka investasi jumbo tersebut mencakup manufaktur berbagai lini kendaraan, mulai dari bus, truk, kendaraan roda empat, hingga kendaraan roda tiga.

Ekosistem industri yang makin solid ini turut didukung oleh puluhan pelaku usaha, mulai dari 10 perusahaan kendaraan komersial, 15 perusahaan kendaraan roda empat, serta 70 perusahaan kendaraan roda tiga.

Tak hanya memicu pertumbuhan ekonomi, perkembangan pesat industri KBLBB ini juga berhasil menyerap tenaga kerja langsung hingga mencapai 10.650 orang.

Hal ini membuktikan bahwa era elektrifikasi juga menjadi motor penggerak lapangan kerja baru.

Peningkatan Target TKDN Bertahap Hingga 80% pada 2030

Untuk memastikan industri dalam negeri tak hanya jadi penonton, pemerintah secara tegas mengawal peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Berdasarkan regulasi Permenperin Nomor 6 Tahun 2022 juncto Permenperin Nomor 28 Tahun 2023, target TKDN KBLBB pada tahun 2026 ditetapkan minimal sebesar 40%.

Angka ini bakal digenjot naik secara bertahap menjadi minimal 60 persen pada periode 2027–2029, dan membumbung hingga 80% pada tahun 2030.

Peningkatan target TKDN tersebut sengaja dirancang agar sebagian besar komponen kendaraan listrik dapat diproduksi langsung oleh industri lokal.

Langkah strategis ini diharapkan mampu menciptakan rantai pasok nasional yang mandiri serta berdaya saing tinggi. Dengan begitu, produk kendaraan listrik yang beredar di jalanan Indonesia benar-benar merupakan hasil karya anak bangsa.

Dorongan Produksi Baterai Lokal Demi Rantai Pasok Mandiri

Kunci utama dalam mengejar target TKDN yang tinggi terletak pada kemandirian produksi komponen vital, khususnya baterai.

Pemerintah mendorong secara masif para pelaku industri untuk mulai merakit battery pack dan module di dalam negeri, sehingga tidak lagi bergantung pada pasokan impor.

Baterai lokal dipandang sebagai jantung utama dari keberhasilan ekosistem kendaraan listrik nasional.

Ketika target TKDN 80% berjalan pada tahun 2030, lokalisasi tak cuma mencakup sektor baterai, tetapi juga komponen utama kendaraan lainnya.

Pembangunan berbagai fasilitas produksi baterai yang tengah melaju di Indonesia diyakini bakal mempercepat pencapaian target tersebut.

Langkah berani ini siap memperkuat rantai pasok nasional dan mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci kendaraan listrik di kawasan regional.

Statement:

Setia Diarta, Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin

“Kalau kita lihat populasi kendaraan listrik di Indonesia saat ini tercatat dari 2020 sampai dengan Agustus 2026 ini, kurang lebih untuk seluruh jenis kendaraan itu sudah mencapai 541.678 unit. Di mana tergabung semuanya mulai dari bus dan truk, kemudian ada kendaraan roda empat dan tiga. Dan tenaga kerja yang terlibat langsung ada sekitar 10.650 orang.”

“Kata kuncinya untuk teman-teman yang ada di industri kendaraan listrik ini harus sudah melakukan battery packs and modules di dalam negeri, jadi sudah tidak bentuk impor lagi baterainya.”

3 Poin Penting:

  • Populasi Kendaraan Listrik Meledak: Populasi kendaraan listrik di Indonesia mencapai 541.678 unit sepanjang 2020 hingga Agustus 2026, didorong oleh kenaikan harga BBM serta komitmen Net Zero Emission.

  • Investasi Manufaktur Bernilai Fantastis: Nilai investasi pada industri perakitan kendaraan listrik dalam negeri telah menyentuh Rp30,468 triliun dan mampu menyerap hingga 10.650 tenaga kerja langsung.

  • Target TKDN dan Produksi Baterai Lokal: Pemerintah menargetkan TKDN kendaraan listrik naik bertahap hingga 80% pada 2030, serta mewajibkan pembuatannya menggunakan battery pack dan module produksi dalam negeri.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan