Pramuka Bermodal Mie Instan dan Beras, Cara Kreatif YPI Al-Ihyatul Irsyad Sukabumi Bangun Kemandirian Siswa

Siapa bilang kegiatan pendidikan harus selalu membutuhkan biaya besar? YPI Al-Ihyatul Irsyad di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukan alasan untuk berhenti memberikan pengalaman belajar kepada siswa.

Sebanyak 160 murid mengikuti kegiatan Pramuka pada 23–25 Oktober 2026 dengan konsep yang cukup sederhana, tetapi penuh makna: setiap siswa membawa satu bungkus mi instan, dua butir telur, dan setengah liter beras.

Cara tersebut bukan sekadar upaya menghemat biaya. Pihak sekolah justru mengajak siswa menyisihkan sebagian uang jajan selama empat bulan agar kegiatan tetap terlaksana.

Inisiatif ini menjadi pelajaran tentang menabung, gotong royong, dan tanggung jawab.

Namun, ada hal yang patut diperhatikan: pendidikan karakter seharusnya tidak berhenti pada kemampuan siswa berhemat, tetapi juga memastikan setiap anak bisa mengikuti kegiatan tanpa terbebani kondisi ekonomi keluarganya.

Menabung Uang Jajan Jadi Solusi Keterbatasan Anggaran

Kepala Madrasah YPI Al-Ihyatul Irsyad, Muhdiyat Arsyad, menjelaskan bahwa gagasan tersebut muncul setelah sekolah menghadapi keterbatasan anggaran.

Bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ujang Ruswandi, ia mencari cara agar kegiatan tetap berjalan tanpa membebankan iuran besar kepada orang tua.

Ia juga menegaskan bahwa sekolah tersebut tidak memungut biaya SPP.

Kondisi ekonomi keluarga siswa memang menjadi salah satu tantangan. Sebagian besar orang tua bekerja sebagai buruh perkebunan dan buruh tani dengan penghasilan harian sekitar Rp50 ribu.

Mereka bekerja di kebun karet, serai, hingga buah naga, umumnya sebagai pekerja lepas. Dalam situasi seperti ini, sekolah perlu memastikan bahwa kegiatan pendidikan tidak berubah menjadi pengeluaran tambahan yang sulit dipenuhi keluarga.

Skema gotong royong bisa menjadi solusi, tetapi transparansi penggunaan dana dan bantuan bagi siswa yang kesulitan tetap harus menjadi prioritas.

Guru Turun Langsung agar Semua Siswa Bisa Ikut

Mengajak seluruh murid mengikuti kegiatan berkemah ternyata tidak mudah. Ada orang tua yang belum mengizinkan anaknya berpartisipasi karena alasan kesehatan, alergi terhadap udara dingin, maupun keterbatasan ekonomi.

Muhdiyat bahkan menceritakan bahwa beberapa guru harus mendatangi rumah orang tua untuk meyakinkan mereka.

Upaya tersebut memperlihatkan bahwa peran guru tidak hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga membangun komunikasi dan kepercayaan dengan keluarga.

Kegiatan Pramuka ini juga dirancang sebagai pembelajaran kokurikuler yang menggabungkan sekitar sembilan mata pelajaran.

Siswa mengikuti aktivitas seperti menonton bersama materi Sejarah Kebudayaan Islam, pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, hingga pertunjukan seni teatrikal budaya pada malam terakhir saat penyalaan api unggun.

Pendekatan lintas mata pelajaran seperti ini patut dikembangkan karena membuat proses belajar terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata.

Meski demikian, sekolah tetap perlu memperhatikan keamanan, kondisi kesehatan, dan persetujuan orang tua agar pengalaman belajar yang menyenangkan tidak mengabaikan kebutuhan setiap anak.

Sejarah Panjang Sekolah Gratis dan Pengorbanan Pendiri

Di balik inisiatif sederhana tersebut, YPI Al-Ihyatul Irsyad menyimpan sejarah perjuangan yang panjang.

Sekolah yang dikenal sebagai Sekolah Pertanian dan berlokasi di Desa Pagelaran, Kecamatan Purabaya, Sukabumi, ini didirikan oleh orang tua Muhdiyat, Muchtar dan Komsiah, yang merupakan guru aparatur sipil negara di Departemen Agama.

Ketika mulai berdiri pada 1995, sekolah tersebut masih menarik SPP sebesar Rp5 ribu per bulan. Menurut Muhdiyat, kedua orang tuanya bahkan rela menyisihkan sebagian gaji untuk membayar honor guru demi menjaga kegiatan pendidikan tetap berjalan.

Pengorbanan keluarga pendiri tergambar dari cerita Muhdiyat tentang kehidupan mereka ketika itu. Dengan tujuh anak yang harus dinafkahi, kebutuhan keluarga tetap dibagi agar para guru honorer memperoleh penghasilan.

Kisah ini menunjukkan besarnya komitmen pendiri terhadap pendidikan masyarakat. Namun, pengorbanan individu semestinya tidak menjadi satu-satunya penopang keberlangsungan sekolah.

Dukungan pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta tetap dibutuhkan agar tenaga pendidik memperoleh kesejahteraan layak serta fasilitas belajar tidak bergantung pada kemampuan pribadi pengelola.

Prestasi Alumni dan Tantangan Fasilitas Sekolah

Seiring waktu, dukungan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) membantu meringankan kebutuhan operasional pendidikan. Muhdiyat menyebut bantuan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi sekolah perlahan membaik.

Sejumlah alumninya kini telah berkarier sebagai pengusaha, ASN, polisi, tentara, hingga melanjutkan pendidikan ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa akses pendidikan di daerah dapat membuka peluang masa depan. Akan tetapi, keberhasilan alumni juga perlu diikuti peningkatan kualitas fasilitas dan pembelajaran bagi generasi yang sedang menempuh pendidikan.

Saat ini, YPI Al-Ihyatul Irsyad memiliki delapan ruang kelas, tetapi hanya enam yang dapat digunakan. Dua ruang lainnya dinilai tidak layak karena kondisi atapnya sudah lapuk.

Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena keselamatan siswa dan guru tidak boleh dikompromikan.

Pemerintah daerah, pengelola pendidikan, serta masyarakat dapat mulai berkolaborasi melalui pendataan kerusakan, pengajuan bantuan rehabilitasi, dan penggalangan dukungan yang transparan.

Semangat menabung untuk kegiatan Pramuka memang inspiratif, tetapi anak-anak juga berhak belajar di ruang kelas yang aman dan layak.

Pada akhirnya, kegiatan Pramuka bermodal mi instan, telur, dan beras ini menyampaikan pesan yang lebih luas daripada sekadar cara menghemat biaya.

Ada nilai kemandirian, kebersamaan, dan kepedulian yang tumbuh dari keterbatasan. Namun, masyarakat juga perlu melihat persoalan di baliknya: pendidikan berkualitas tidak seharusnya bergantung pada seberapa besar pengorbanan siswa, guru, atau keluarga.

Kreativitas sekolah layak diapresiasi, sementara kebutuhan fasilitas dan dukungan anggaran harus terus diperjuangkan.

Sebab, membentuk generasi hebat bukan hanya soal mengajarkan anak bertahan dalam keterbatasan, melainkan juga memastikan mereka memperoleh kesempatan untuk berkembang secara adil.

Statement:

Ujang Ruswandi, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan

“Karena terbentur dengan anggaran, kita berinisiasi bagaimana kalau menyisihkan uang jajan selama 4 bulan.”

Muhdiyat Arsyad, Kepala Madrasah YPI Al-Ihyatul Irsyad

“Sampai ada guru yang jemput langsung ke orang tua, pokoknya siswa ikut.”

“Dulu anak 7, telur satu sampai dibagi empat karena belain guru honor.”

“Ada 8 kelas tapi yang bisa beroperasi 6 kelas, yang dua kondisi atap sudah lapuk.”

3 Poin Penting:

  • Belajar mandiri dan gotong royong: Sebanyak 160 murid mengikuti kegiatan Pramuka dengan konsep menabung uang jajan selama empat bulan serta membawa bahan makanan sederhana.
  • Perjuangan sekolah dan guru: Kegiatan tetap berjalan meski banyak keluarga memiliki keterbatasan ekonomi, bahkan guru turun langsung untuk berkomunikasi dengan orang tua.
  • Fasilitas masih perlu perhatian: Dari delapan ruang kelas, hanya enam yang dapat digunakan karena dua ruang mengalami kerusakan atap dan membutuhkan perbaikan.
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Kategori

PODCAST