Search

Produksi Nikel Eramet di Indonesia Berhenti, Pemangkasan Kuota Tambang 2026 Jadi Penyebab

Senin, 8 Juni 2026

Tambang nikel Eramet (ist)

Industri pertambangan nikel Indonesia kembali menjadi sorotan. Perusahaan tambang asal Prancis, Eramet, resmi menghentikan produksi bijih nikelnya di Indonesia setelah kuota produksi tambang 2026 dipangkas secara signifikan.

Kebijakan tersebut membuat aktivitas operasional perusahaan tidak lagi berjalan secara normal dan memaksa manajemen mengambil langkah penghentian sementara produksi.

Berdasarkan laporan Mining Weekly, perusahaan patungan Weda Bay Nickel yang dimiliki oleh Eramet, Tsingshan Group dari China, dan PT Aneka Tambang (Antam), hanya memperoleh izin produksi awal sebesar 12 juta ton pada 2026.

Angka tersebut turun tajam dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 42 juta ton, atau berkurang sekitar 30 juta ton.

Operasional Beralih ke Fase Pemeliharaan

Chief Executive Eramet Indonesia, Jerome Baudelet, mengungkapkan bahwa seluruh kuota produksi yang diberikan pemerintah telah habis digunakan.

Saat ini, perusahaan tengah mengajukan tambahan izin melalui revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Baudelet menjelaskan bahwa kegiatan penambangan telah dihentikan sejak akhir Mei 2026.

Selain menghentikan produksi, perusahaan juga melakukan penyesuaian operasional dengan mengurangi jumlah tenaga kerja dan mengalihkan aktivitas ke tahap pemeliharaan fasilitas tambang sambil menunggu keputusan pemerintah terkait penambahan kuota produksi.

Berpotensi Ganggu Pasokan Nikel Nasional

Pemangkasan kuota produksi ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah Indonesia untuk mengendalikan pasokan nikel dan menjaga stabilitas harga komoditas tersebut di pasar global.

Namun, kebijakan itu dinilai berpotensi memengaruhi rantai pasok industri pengolahan nikel di dalam negeri, terutama di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).

Weda Bay Nickel diketahui menjadi salah satu pemasok utama bijih nikel untuk IWIP, kawasan industri pengolahan nikel terbesar di Indonesia.

Sepanjang 2025, perusahaan tersebut memasok sekitar 42 juta ton bijih nikel atau hampir sepertiga dari total 120 juta ton bijih yang diolah di kawasan industri tersebut.

Jika tambahan kuota tidak diberikan, potensi kekurangan pasokan diperkirakan mencapai 30 juta ton.

Impor dari Filipina Diprediksi Meningkat

Jerome Baudelet menilai bahwa kekurangan pasokan bijih nikel di IWIP kemungkinan besar akan memicu lonjakan impor dari Filipina.

Menurutnya, smelter di kawasan tersebut tetap membutuhkan pasokan bahan baku dalam jumlah besar, sementara ketersediaan bijih dari tambang sekitar tidak akan mencukupi apabila produksi Weda Bay Nickel terus dibatasi.

Kondisi ini juga dikhawatirkan dapat meningkatkan biaya produksi industri hilir nikel nasional. Pasalnya, impor bijih nikel dari luar negeri membutuhkan biaya logistik yang lebih tinggi dibandingkan pasokan domestik.

Di sisi lain, keputusan akhir mengenai penambahan kuota produksi tetap berada di tangan pemerintah melalui persetujuan revisi RKAB yang biasanya diselesaikan sebelum akhir Juli.

Statement:

Jerome Baudelet, Chief Executive Eramet Indonesia

“Kuota penambangan telah habis, jadi sekarang kami sedang berdiskusi dengan kementerian pertambangan untuk mendapatkan perpanjangan izin kami.”

“Jika kita tidak mendapatkan perpanjangan, maka akan terjadi defisit sebesar 30 juta ton dari Weda Bay Nickel.”

3 Poin Penting:

  • Eramet menghentikan produksi bijih nikel di Indonesia setelah kuota produksi 2026 dipangkas dari 42 juta ton menjadi hanya 12 juta ton.
  • Weda Bay Nickel telah menghabiskan seluruh kuota yang diberikan dan kini mengajukan tambahan izin produksi melalui revisi RKAB kepada Kementerian ESDM.
  • Jika tambahan kuota tidak disetujui, industri pengolahan nikel di IWIP berpotensi mengalami defisit pasokan hingga 30 juta ton, sehingga impor bijih nikel dari Filipina diperkirakan meningkat.

Kata Kunci SEO:

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan