Search

Program MBG Mulai Jalan Lagi, Harga Ayam dan Telur Langsung Ngegas Naik

Rabu, 15 Juli 2026

Ayam petelur (ist)

Kabar segar akhirnya menghampiri para peternak ayam dan telur di tanah air setelah sempat didera kecemasan akibat penurunan harga yang cukup signifikan belakangan ini.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengonfirmasi bahwa roda perekonomian di sektor perunggasan kini mulai kembali berputar kencang seiring dengan berakhirnya masa libur sekolah.

Beroperasinya kembali institusi pendidikan ini menjadi angin segar yang langsung mendongkrak denyut nadi pasar pangan lokal secara masif.

Aktivasi kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebelumnya sempat dinonaktifkan sementara selama liburan sekolah terbukti ampuh menjadi motor penggerak utama.

Ketika gerbang sekolah kembali dibuka, permintaan bahan baku pangan berkualitas seperti daging ayam segar dan telur kaya protein langsung melesat tajam demi memenuhi kebutuhan asupan harian para siswa di berbagai wilayah Indonesia.

Sinergi Momentum Pasca-Sura yang Mengubah Arah Angin Sektor Perunggasan

Tidak hanya faktor dimulainya kembali program MBG, pulihnya gairah pasar ini rupanya juga sangat dipengaruhi oleh selesainya momentum bulan Sura dalam penanggalan Jawa.

Berakhirnya bulan yang secara kultural kerap dihindari untuk menyelenggarakan berbagai perayaan besar ini secara instan memicu lonjakan kegiatan sosial di tengah masyarakat.

Hal ini tentu saja berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi bahan pangan pokok secara signifikan di tingkat rumah tangga maupun industri kuliner.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa kombinasi antara bergulirnya kembali program strategis nasional dan pergeseran siklus budaya ini memberikan dampak yang sangat instan di lapangan.

Berdasarkan hasil pantauan langsung tim Bapanas serta koordinasi intensif dengan para pelaku usaha, grafik pergerakan harga di tingkat produsen kini menunjukkan tren koreksi positif yang sangat dinantikan.

Kembalinya Tradisi Hajatan Rakyat yang Sempat Meredup Semasa Bulan Suro

Sebelumnya, ketiadaan aktivitas hajatan seperti pesta pernikahan dan perayaan adat selama bulan Suro memang sempat memicu koreksi tajam pada harga komoditas ayam serta telur di level peternak mandiri. Minimnya serapan pasar domestik pada masa tersebut membuat pasokan menumpuk, sehingga memaksa harga jual jatuh di bawah biaya pokok produksi harian para peternak lokal. Namun, situasi muram tersebut dipastikan sudah berhasil dilewati dengan sangat baik seiring pergantian bulan.

Kini, aktivitas sosial kemasyarakatan kembali semarak dan memicu peningkatan kebutuhan pasokan pangan secara berkelanjutan dari hari ke hari. Ketut menambahkan bahwa sinergi dari pulihnya rantai pasok pasca-Sura serta dimulainya pendistribusian makanan bergizi secara serentak di sekolah-sekolah menjadi kunci utama di balik stabilisasi harga yang terjadi saat ini.

Optimisme Baru Harga Komoditas Pangan di Tingkat Peternak Nasional

Berdasarkan data riil di lapangan, harga telur di tingkat peternak saat ini tercatat stabil merangkak naik dan berada di kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram. Sementara itu, untuk komoditas ayam hidup (livebird) di kandang juga menunjukkan performa yang tidak kalah impresif, yakni bertengger di kisaran Rp 19.000 sampai Rp 20.000 per kilogram. Angka ini dinilai sudah jauh lebih sehat dan kompetitif bagi kelangsungan usaha peternak rakyat.

Pihak Bapanas memproyeksikan bahwa tren kenaikan harga yang sehat ini masih akan terus berlanjut hingga beberapa waktu ke depan guna mencapai titik keseimbangan baru. Dengan adanya jaminan pasar lewat program pemerintah yang konsisten, para peternak kini dapat kembali merancang strategi produksi jangka panjang tanpa perlu khawatir dibayangi ancaman kerugian akibat harga yang anjlok secara ekstrem.

Statement:

I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas

“Dari data kami dan kami nanya juga teman-teman peternak, relatif sudah mulai merangkak. Jadi MBG itu ada pengaruhnya, kemudian sebenarnya bulan sura itu juga pengaruh besar.”

“Karena bulan kemarin itu relatif itu bulan sura, sehingga acara-acara mantenan dan lain sebagainya kan terhenti sehingga permintaan terkait dengan ayam dan telur itu relatif menurun sehingga harga terkoreksi. Nah dengan melewati bulan sura, sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, MBG juga mulai. Ini merangkak sudah mulai naik.”

“Sekarang ayam sekitar Rp19-20 ribu. Hampir mirip-mirip. Tapi sekali lagi dengan mulainya MBG, kemudian melewati bulan Suro, ini krusial banget, cuman di Jawa. Nah karena ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita.”

3 Poin Penting:

  1. Reaktivasi Makan Bergizi Gratis (MBG): Program MBG yang kembali berjalan setelah liburan sekolah sukses memicu lonjakan permintaan komoditas ayam dan telur di tingkat nasional secara signifikan.

  2. Dampak Positif Berakhirnya Bulan Sura: Selesainya masa bulan Sura mengembalikan rutinitas hajatan pernikahan dan acara adat masyarakat, yang secara langsung mengoreksi harga pangan ke tingkat yang lebih menguntungkan peternak.

  3. Stabilisasi Harga Komoditas Riil: Saat ini harga telur di tingkat peternak berkisar Rp 20.000-21.000 per kg, dan ayam hidup berkisar Rp 19.000-20.000 per kg, dengan tren positif yang diproyeksikan akan terus berlanjut.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan