Puasa Bareng Sejagat! Rahasia di Balik Alaska Jadi Acuan Ramadan 2026

Jumat, 20 Februari 2026

Ilustrasi awal puasa waktu Alaska (ist)

Penetapan awal Ramadan 1447 H yang jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, oleh sebagian kalangan, sempat bikin jagat maya heboh.

Banyak yang bertanya-tanya, kok bisa sih kita di Indonesia sudah mulai puasa di pagi hari, padahal hilal alias bulan sabit muda baru memenuhi syarat belasan jam kemudian di Alaska?

Kegelisahan ini sebenarnya wajar banget, karena ada benturan antara logika kalender lokal yang biasa kita pakai dengan sistem Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang lebih kekinian.

Tenang, ini bukan soal “mundur waktu” atau mendahului takdir, tapi soal cara kita memandang bumi. KHGT mengajak kita melihat dunia sebagai satu kesatuan tanpa sekat.

Kalau syarat hilal sudah terpenuhi di satu titik di bumi sebelum putaran hari berakhir—meskipun itu di ujung barat seperti Alaska—maka status bulan baru otomatis berlaku buat seluruh penduduk bumi di hari yang sama, termasuk kita yang di Indonesia.

Logika Satu Hari Satu Tanggal dan Konsep Garis Internasional

Kita perlu membedakan antara “Waktu” yang berkaitan dengan jam lokal, dengan “Tanggal” yang merupakan sistem administrasi hari. Dalam sistem KHGT, siklus hari dimulai dari Garis Tanggal Internasional di Pasifik dan berakhir di dekat Alaska.

Jadi, tanggal 17 Februari itu dianggap sebagai satu hamparan waktu global yang utuh. Begitu hilal valid di Alaska sebagai titik akhir, maka seluruh zona waktu dalam putaran 24 jam itu sah masuk ke tanggal baru.

Sebenarnya, konsep ini sudah kita praktikkan sehari-hari dalam salat Jumat. Kita nggak pernah protes kenapa Jumat dimulai duluan di Selandia Baru, lalu bergeser ke Indonesia, baru kemudian ke Arab Saudi.

Penerimaan kolektif ini sah secara fikih melalui kaidah adat yang menjadi hukum.

Jadi, menjadikan batas tanggal internasional sebagai acuan bukanlah hal aneh, melainkan cara cerdas untuk menciptakan keteraturan ibadah umat Islam sedunia.

Ittihadul Mathali dan Kesatuan Matra Umat Islam Global

Secara syariat, KHGT menerapkan prinsip Ittihadul Mathali’ alias kesatuan tempat terbit dalam skala global. Kalau dulu kita cuma kenal skala nasional, di mana hilal di Aceh bisa jadi acuan buat warga Papua, sekarang konsepnya diperluas menjadi kesatuan wilayah bumi.

Hal ini berdasar pada perintah Nabi Muhammad SAW untuk berpuasa karena melihat hilal, yang maknanya ditujukan kepada umat Islam sebagai satu kesatuan korps global, bukan per kelompok wilayah saja.

Logika hisab di sini berperan sebagai instrumen kepastian. Kita nggak perlu menunggu peristiwa fisik hilal muncul secara real-time di depan mata untuk memulai puasa.

Selama hitungan matematis memastikan bahwa “pada waktunya nanti hilal pasti wujud di Alaska”, maka tiket hukum untuk berpuasa sudah sah digenggam sejak pagi hari di Indonesia.

Ini adalah kepastian ilmu yang memberikan ketenangan dalam beribadah tanpa harus bingung menunggu kabar hilal tiap tahunnya.

Ijtihad Panjang Dua Dekade dan Kesamaan dengan Mekah

Menariknya, meskipun acuan ilmiahnya menyebut Alaska, pelaksanaan puasa kita pada 18 Februari ini sebenarnya kemungkinan besar barengan dengan Arab Saudi.

Kalender Ummul Qura di Mekah menggunakan kriteria yang lebih longgar, sehingga pada petang 17 Februari di sana, posisi bulan sudah di atas ufuk.

Muhammadiyah tetap menyebut Alaska sebagai bentuk konsistensi pada kriteria hasil kongres internasional yang mensyaratkan visibilitas tinggi demi akurasi ilmiah yang lebih mantap.

Penerapan KHGT ini bukan keputusan mendadak yang muncul kemarin sore, lho. Ini adalah hasil ijtihad atau riset mendalam selama hampir 20 tahun yang dimulai sejak era Pak Din Syamsuddin pada 2007.

Setelah melalui proses verifikasi yang panjang dan melibatkan pakar astronomi dunia, sistem ini akhirnya resmi dipakai.

Ramadan 1447 H ini pun menjadi momen bersejarah bagi kita untuk melunasi “utang peradaban” demi memiliki sistem penanggalan yang satu dan mempersatukan umat Islam di seluruh dunia.

3 Poin Penting:

  • Satu Bumi Satu Tanggal: KHGT memandang bumi sebagai satu kesatuan waktu global, di mana keberhasilan melihat hilal di satu titik (seperti Alaska) berlaku untuk seluruh dunia pada putaran hari yang sama.

  • Kepastian Hukum Hisab: Puasa di Indonesia sah dimulai sejak pagi karena metode hisab memberikan jaminan pasti bahwa hilal akan wujud di titik rujukan global, sehingga tidak perlu menunggu pengamatan fisik lokal.

  • Persatuan Peradaban: Penggunaan kalender global ini merupakan hasil riset panjang selama 19 tahun untuk menciptakan unifikasi kalender Islam internasional agar tidak ada lagi perbedaan awal puasa dan Idulfitri.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir