Dunia kuliner tradisional Indonesia kembali berhasil mencuri perhatian di panggung diplomasi internasional dengan cara yang sangat unik dan tidak biasa.
Lima Duta Besar (Dubes) negara sahabat terpantau dibuat takjub dan terkesan usai mencicipi Fate Peri, sebuah masakan ekstrem nan legendaris khas Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kuliner antimainstream yang bahan utamanya terbuat dari ulat bambu ini disajikan dalam acara jamuan makan malam resmi di ibu kota.
Kelima diplomat top tersebut berasal dari Singapura, Inggris, Mesir, Jerman, dan Italia. Alih-alih merasa geli atau ragu saat dihidangkan makanan berbahan dasar ulat, mereka justru kompak memberikan pujian selangit.
Menu camilan tradisional yang kaya akan kandungan protein tinggi ini nyatanya terbukti sangat bersahabat dan lezat di lidah para perwakilan negara asing tersebut saat santap malam berlangsung.
Kuliner Otentik Flores yang Dipuji Pakai Bahasa Indonesia Fasih
Fate Peri sendiri merupakan makanan otentik asli NTT yang sangat umum dijumpai di daerah Bajawa, Pulau Flores.
Proses pembuatannya tergolong sangat organik dan sederhana, di mana ulat bambu segar hanya perlu disangrai di atas wajan tanpa minyak dan dibumbui sedikit garam penambah gurih.
Hidangan spesial berprotein tinggi ini disiapkan langsung oleh para Mama Wogo, sebutan untuk para perempuan tangguh dari sebuah kampung tradisional di Bajawa.
Apresiasi tinggi salah satunya datang dari Dubes Inggris, Dominic Jermey, yang bahkan secara blak-blakan melontarkan pujiannya menggunakan Bahasa Indonesia yang sangat fasih di hadapan para tamu undangan.
Sementara itu, Dubes Singapura, Kwok Fook Seng, juga mengamini bahwa tekstur dan rasa masakan ulat bambu tersebut sangat unik di lidah. Kuliner ini sukses membuktikan bahwa bahan pangan lokal sederhana bisa naik kelas ke level perjamuan internasional.
Forum Ekonomi Restoratif dan Pemberdayaan Perempuan di Akar Rumput
Jamuan makan malam bertajuk Ambassadors’ Dinner yang digelar di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta ini, merupakan bagian dari rangkaian pameran wastra NTT “Weaving Wonders”.
Acara ini sekaligus menjadi pembuka dari agenda Kunstkring Dialogue, sebuah forum ekonomi restoratif yang berlangsung pada 24-26 Juni 2026.
Forum penting ini dihadiri oleh jajaran wakil menteri (wamen), akademisi, praktisi, hingga perwakilan komunitas adat dari berbagai daerah.
Beberapa tokoh perempuan hebat turut hadir, di antaranya Wamen PPPA Veronica Tan, Wamen Pariwisata Ni Luh Puspa, Wamen Kependudukan Isyana Bagoes Oka, serta Wamen PU Diana Kusumawati.
Selain aktif melestarikan kuliner tradisional ekstrem, para Mama Wogo di NTT juga dikenal sangat aktif dalam mengelola Kebun Pangan Perempuan serta melakukan kegiatan konservasi alam berbasis bambu untuk menjaga ketahanan pangan lokal di desa mereka.
Mengangkat Karya Mama-Mama NTT Menuju Panggung Internasional
Pameran dan dialog ini merupakan hasil kolaborasi nyata dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) bersama Penabulu Oxfam dan Yayasan Uma Nusantara.
Ketiga organisasi ini bergerak bersama di tingkat akar rumput untuk memberdayakan masyarakat pedesaan di NTT agar lebih mandiri secara ekonomi.
Lewat forum ini, isu-isu krusial seperti energi terbarukan, pariwisata berkesadaran, stunting, hingga kepemimpinan perempuan dalam konservasi dikupas secara mendalam.
Kehadiran para duta besar negara sahabat ini diharapkan tidak berhenti sampai pada sesi makan malam saja, melainkan menjadi jembatan awal untuk memperluas jaringan dukungan global.
Pemerintah dan lembaga swadaya berkomitmen untuk terus mendampingi para perempuan tangguh NTT agar bisa membawa produk wastra dan potensi kuliner lokal mereka ke pasar internasional.
Dengan kolaborasi yang solid, kemiskinan dan keterbatasan akses di daerah pelosok optimistis bisa diatasi.
Statement:
Veronica Tan, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA)
“Untuk para Mama Wogo yang telah menyiapkan hidangan ini hanya ada satu kata: rasanya mantul. Kehadiran para duta besar ini merupakan upaya kita untuk memperluas jaringan dukungan bagi para mama dan membuka jalan untuk membawa karya-karya mereka ke dunia internasional.”
3 Poin Penting:
-
Diplomasi Kuliner Unik: Lima duta besar negara sahabat terkesan dengan cita rasa lezat Fate Peri, kuliner ekstrem berbahan ulat bambu khas Bajawa, Flores, NTT.
-
Sinergi Tokoh Perempuan: Acara Ambassadors’ Dinner dihadiri oleh sejumlah wakil menteri perempuan dan menjadi pembuka forum ekonomi restoratif Kunstkring Dialogue.
-
Pemberdayaan Akar Rumput: Kolaborasi YBLL, Penabulu Oxfam, dan Yayasan Uma Nusantara bertujuan untuk mendampingi para perempuan NTT dalam konservasi lingkungan dan menembus pasar internasional.



