Popularitas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menghantam jurang yang cukup tajam.
Berdasarkan hasil survei terbaru yang dirilis oleh Reuters bersama Ipsos, tingkat persetujuan publik (approval rating) terhadap kinerja sang presiden merosot hingga ke angka 33%.
Angka ini menandai salah satu level terendah sepanjang riwayat kepemimpinannya di Gedung Putih.
Penurunan ini terbilang sangat drastis mengingat saat baru kembali menjabat pada Januari 2025 lalu, Trump sempat mengantongi persentase persetujuan hingga 47%.
Survei terkini yang melibatkan 1.166 responden tersebut mencatat sebanyak 64 persen warga AS secara tegas menyatakan tidak puas dengan kepemimpinan Trump.
Hal ini membuktikan adanya pergeseran sentimen publik yang makin tidak menguntungkan posisi sang petahana.
Titik Terendah Periode Kedua dan Pemicu Eskalasi Konflik Timur Tengah
Tingkat persetujuan sebesar 33 persen ini tak sekadar angka biasa, melainkan rekor terendah sepanjang periode kedua masa jabatannya. Rekor buruk tersebut juga menyamai titik terendah yang pernah dicapainya pada masa jabatan pertama di bulan Desember 2017 silam.
\Tren ketidakpuasan masyarakat sebenarnya mulai menembus angka di atas 50 persen hanya dalam kurun waktu kurang dari sebulan sejak ia dilantik kembali.
Salah satu pemicu utama merosotnya angka tersebut adalah eskalasi militer dan konflik terbuka di kawasan Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Sebelum agresi militer dilancarkan, tingkat ketidaksetujuan masyarakat terhadap Trump sudah menyentuh 58%.
Harapan bahwa operasi militer dapat tuntas dalam hitungan bulan kini sirna, lantaran ketegangan tersebut terus berlarut-larut tanpa adanya kepastian kesepakatan diplomasi.
Imbas Kerugian Ekonomi dan Lonjakan Harga Bahan Bakar Minyak
Konflik yang terus memanas tersebut membawa dampak domino yang dirasakan langsung oleh warga Negeri Paman Sam. Pembatasan jalur pelayaran di Selat Hormuz menyebabkan gangguan parah pada rantai pasok minyak dunia.
Dampaknya, harga rata-rata bahan bakar minyak (BBM) di pasar domestik AS meroket melampaui 4 dolar AS per galon sepanjang musim panas, padahal sebelumnya berada di bawah 3 dolar AS.
Indeks Harga Konsumen setempat mencatat adanya lonjakan harga energi hingga 14,7 persen secara tahunan pada bulan lalu. Kondisi ini kian memberatkan biaya hidup masyarakat harian.
Meski mendapat kritikan pedas, Trump bergeming dan menilai bahwa pengorbanan ekonomi tersebut sepadan demi membendung ambisi pengembangan senjata nuklir Iran.
Dilema Politik Partai Republik dan Proyeksi Peta Pemilu Parlemen
Situasi ekonomi yang makin sulit ini tentu menjadi isu sensitif yang menghantam panggung politik dalam negeri AS.
Delapan dari sepuluh responden dalam survei meyakini bahwa perselisihan di Timur Tengah akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Kekhawatiran ini dirasakan secara luas oleh pemilih dari spektrum politik Demokrat, independen, hingga para pendukung setia Partai Republik sendiri.
Para kandidat dari Partai Republik kini harus memutar otak guna mengatasi dampak politik dari tekanan ekonomi yang dirasakan konstituen mereka.
Di sisi lain, proyeksi politik dari Decision Desk HQ menunjukkan Partai Demokrat kini memegang peluang hingga 66 persen untuk mengambil alih kendali DPR AS.
Peluang Demokrat untuk merebut Senat pun merangkak naik hingga menyentuh angka 45 persen.
Ketegangan Diplomasi dan Ketidakpastian Pasar Energi Global
Kebijakan luar negeri Trump yang dinilai terlalu agresif kini benar-benar diuji oleh realitas ekonomi serta persepsi publik.
Kenaikan inflasi sektor energi yang sempat menyentuh puncaknya di angka 23,5% pada Mei lalu menjadi bukti nyata betapa berrisikonya konflik geo-politik terhadap stabilitas domestik.
Publik kini menantikan apakah strategi bertahan sang presiden mampu meredam gelombang protes warga.
Dengan makin dekatnya agenda pemilu parlemen, dinamika ini jelas menjadi alarm bahaya bagi konsolidasi kekuatan Partai Republik.
Apabila tekanan ekonomi akibat gejolak pasar energi terus terjadi, bukan tidak mungkin konstelasi politik di Washington DC bakal mengalami pergeseran peta kekuatan yang signifikan dalam waktu dekat.
Statement:
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat
“Jadi ingatlah itu, ketika Anda harus membayar sedikit lebih banyak, misalnya 4 dolar AS, tidak apa-apa. Saya tidak akan pernah meminta maaf, saya melakukan hal yang benar.”
3 Poin Penting:
-
Anjloknya Approval Rating: Approval rating Presiden AS Donald Trump merosot tajam hingga angka 33% menurut survei Reuters/Ipsos terbaru.
-
Dampak Konflik Timur Tengah: Ketegangan militer dengan Iran dan pembatasan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga BBM hingga di atas 4 dolar AS per galon.
-
Ancaman Peta Pemilu Parlemen: Imbas tekanan ekonomi memberi keuntungan bagi Partai Demokrat yang kini berpeluang 66 persen menguasai DPR AS.


![Selat Hormuz [dok. ai]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/ilustrasi-selat-hormuz-dan-kapal-tanker-minyak-dibuat-menggunakan-model-ai-chatgpt-02032026-2570-300x200.webp)
