Search

Rekor Pecah! 27 Ribu Warga Jateng Pilih Merantau Jadi Pekerja Migran di 2025

Selasa, 6 Januari 2026

Pekerja migran (Antara)

Fenomena warga Jawa Tengah yang memilih mengadu nasib di luar negeri alias menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) sedang berada di titik puncaknya.

Berdasarkan data dari Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Jawa Tengah, sepanjang tahun 2025 tercatat ada sekitar 27 ribuan warga Jateng yang berangkat ke mancanegara.

Angka ini bukan main-main, karena menjadi statistik penempatan tertinggi setidaknya dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Banyaknya warga yang memilih menjadi “pahlawan devisa” ini mencerminkan kondisi lapangan kerja di dalam negeri yang dirasa makin kompetitif dan terbatas.

Menariknya, jika dihitung secara total dengan warga Jateng yang mendaftar melalui provinsi tetangga seperti Jawa Timur atau Jawa Barat, jumlahnya diprediksi bisa menembus angka fantastis, yakni sekitar 65 ribu hingga 66 ribu orang.

Hal ini menunjukkan betapa besarnya minat masyarakat untuk mencari penghidupan yang lebih baik di luar batas negara.

Sektor Informal Masih Dominan tapi Sektor Formal Mulai Dilirik

Negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara masih menjadi tujuan “langganan” bagi para PMI asal Jawa Tengah.

Nama-nama seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan Taiwan tetap nangkring di urutan teratas destinasi favorit.

Sejauh ini, sektor informal—terutama asisten rumah tangga (ART)—memang masih mendominasi porsi keberangkatan.

Namun, tren positif mulai terlihat pada sektor-sektor profesional yang membutuhkan keahlian khusus.

Dewi Ariani selaku Plt Kepala BP3MI Jateng menyebutkan bahwa sekitar enam ribu orang dari total PMI tersebut sudah merambah ke sektor formal.

Mereka kini banyak yang berkarier sebagai operator di pabrik manufaktur, perawat di rumah sakit ternama, hingga menjadi caretaker di panti lansia.

Selain itu, sektor hospitality seperti hotel dan restoran di luar negeri juga mulai dipenuhi oleh talenta-talenta muda asal Jawa Tengah yang ingin meningkatkan standar hidup mereka.

Gaji Besar Jadi Magnet Utama di Tengah Minimnya Loker Lokal

Keterbatasan lowongan pekerjaan di tanah air menjadi faktor pendorong utama (push factor) yang membuat warga mengambil keputusan besar ini.

Ketika kebutuhan hidup terus meningkat namun peluang usaha atau pekerjaan di daerah asal tidak mencukupi, merantau menjadi solusi logis yang diambil oleh banyak keluarga.

Pemerintah daerah pun mengakui bahwa lonjakan ini merupakan sinyal bahwa penyerapan tenaga kerja lokal masih perlu ditingkatkan lagi ke depannya.

Selain masalah ketersediaan loker, daya tarik gaji yang berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan upah minimum regional (UMR) di Indonesia menjadi alasan yang sulit ditolak.

Dengan penghasilan yang memadai, para PMI berharap bisa menyisihkan tabungan yang cukup untuk modal usaha saat kembali ke kampung halaman nanti.

Jadi, bekerja ke luar negeri bukan sekadar mencari nafkah harian, tapi juga investasi jangka panjang untuk membangun masa depan yang lebih mapan di dalam negeri.

Harapan Masa Depan PMI: Pulang Bawa Modal dan Pengalaman

Peningkatan jumlah PMI ini sebenarnya memberikan dua sisi mata uang bagi daerah asal. Di satu sisi, devisa yang masuk meningkat dan kesejahteraan keluarga PMI terjamin.

Namun di sisi lain, Jawa Tengah kehilangan potensi sumber daya manusia produktif yang seharusnya bisa membangun daerah sendiri.

Oleh karena itu, skema perlindungan dan edukasi pengelolaan keuangan bagi PMI sangat penting agar uang hasil kerja keras mereka tidak habis untuk kebutuhan konsumtif semata.

Dewi menegaskan bahwa BP3MI akan terus melakukan pengawasan dan pelayanan maksimal agar proses keberangkatan warga Jateng tetap sesuai prosedur alias legal.

Keamanan dan keselamatan kerja di negara tujuan menjadi prioritas utama pemerintah agar para migran ini bisa berangkat sehat, pulang pun membawa manfaat.

Tahun 2025 memang menjadi tahun yang sibuk bagi sektor ketenagakerjaan migran, dan diharapkan tahun depan bisa dibarengi dengan pembukaan lapangan kerja lokal yang lebih masif.

Statement:

Dewi Ariani, Plt Kepala BP3MI Jateng

“Angka penempatan PMI asal Jawa Tengah sampai Desember kemarin itu kurang lebih 27 ribuan sekian, dan ini merupakan yang tertinggi selama lima tahun terakhir. Faktor utamanya adalah keterbatasan peluang pekerjaan di dalam negeri, sementara kebutuhan masyarakat banyak. Selain itu, tawaran gaji yang lebih besar mendorong mereka untuk bisa menabung dan memanfaatkannya ketika nanti pulang ke dalam negeri.”

3 Poin Penting:

  • Rekor Penempatan: Tahun 2025 mencatatkan angka penempatan PMI asal Jawa Tengah tertinggi dalam 5 tahun dengan total sekitar 27.000 hingga 66.000 orang (termasuk pendaftar lintas provinsi).

  • Destinasi & Sektor: Singapura, Jepang, dan Taiwan masih jadi favorit, dengan mulai meningkatnya minat pada sektor formal seperti manufaktur, perawat, dan perhotelan.

  • Dorongan Ekonomi: Minimnya lowongan kerja domestik dan iming-iming gaji tinggi untuk modal usaha di masa depan menjadi alasan utama warga Jateng memilih bekerja ke luar negeri.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan