Kenyamanan para penerima bantuan pangan di wilayah Jawa Tengah sempat terusik oleh kabar kurang sedap baru-baru ini.
Masyarakat di beberapa daerah mengeluhkan adanya aroma tidak sedap mirip bahan bakar minyak pada komoditas minyak goreng yang mereka terima dari Perum Bulog.
Menyikapi situasi yang sempat viral dan memicu kekhawatiran massal tersebut, pihak produsen utama bertindak taktis dengan melakukan penarikan produk secara menyeluruh demi menjaga keamanan konsumen.
Keluhan mengenai produk Minyakita bau solar tersebut awalnya mencuat dari laporan para keluarga penerima manfaat di Kabupaten Karanganyar, Klaten, dan Wonogiri.
Dalam program jaring pengaman sosial ini, masing-masing kepala keluarga sejatinya mendapatkan jatah bantuan pangan berupa minyak goreng ukuran kemasan 4 liter.
Total sasaran distribusi di ketiga wilayah tersebut tergolong masif, yakni mencapai 42.644 penerima di Karanganyar, 71.648 penerima di Klaten, dan 78.288 penerima di kawasan Wonogiri.
Komitmen Tarik Ratusan Ton Produk Demi Hak Konsumen
Langkah mitigasi risiko langsung diambil oleh PT Kusuma Mukti Remaja selaku perusahaan mitra yang memasok minyak goreng merek Minyakita untuk program bantuan tersebut.
Tidak ingin masalah berlarut-larut, pihak produsen memutuskan untuk menarik seluruh pasokan yang telah tersalurkan di lapangan, baik yang terindikasi bermasalah maupun yang kondisinya masih terpantau normal.
Langkah sterilisasi total ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab penuh terhadap kualitas komoditas yang dikonsumsi masyarakat.
Jumlah komoditas yang diamankan dari peredaran pun tidak main-main demi memastikan rasa aman di tingkat konsumen.
Pihak manajemen mengungkapkan bahwa meskipun produk yang terindikasi mengalami anomali aroma hanya berkisar 100 ton, perusahaan memilih mengambil kebijakan preventif dengan menarik hingga 300 ton minyak goreng.
Skenario penukaran barang baru ini juga sukses diselesaikan di wilayah Kabupaten Tegal yang sebelumnya sempat melaporkan kendala serupa.
Tunggu Hasil Laboratorium dan Selidiki Alur Distribusi Logistik
Hingga saat ini, pihak korporasi belum bisa mengetuk palu mengenai penyebab pasti di balik munculnya aroma menyengat menyerupai bahan bakar fosil tersebut.
Manajemen perusahaan memperkirakan ada potensi kontaminasi eksternal yang terjadi pada fase pascaproduksi, khususnya saat proses penyimpanan di gudang transit atau selama jalur pengangkutan logistik.
Evaluasi mendalam masih terus berjalan sembari menunggu rilis hasil uji laboratorium resmi yang diperkirakan memakan waktu satu hingga dua minggu ke depan.
Terkait temuan inspeksi mendadak (sidak) dari Tim Satgas Pangan mengenai isu hilangnya kode produksi, pihak pabrik membantah keras adanya unsur kesengajaan.
Produsen menegaskan bahwa setiap barang yang keluar dari lini perakitan mereka selalu dibekali identitas produksi yang valid, di mana produk bantuan ini merupakan hasil pemrosesan batch tanggal 2-5 Juni 2026.
Guna meminimalkan kerugian, seluruh produk yang ditarik dari pasaran nantinya akan dialihkan peruntukannya sebagai minyak jelantah untuk bahan baku industri biosolar.
Garansi Kesehatan Penerima Bantuan dan Kepastian Keamanan Pasar
Pihak produsen juga menunjukkan sikap ksatria dengan membuka posko aduan dan siap bertanggung jawab penuh secara materiil jika ada warga yang mengalami gangguan medis akibat telanjur mengonsumsi minyak tersebut.
Beruntung, hingga rilis berita ini diturunkan, belum ada laporan masuk mengenai kasus keracunan atau keluhan kesehatan dari masyarakat.
Sinergi yang solid bersama perangkat desa, kelurahan, dan aparat Bulog membuat proses tukar guling barang cacat mutu ini berjalan sangat kondusif.
Bagi kalian emak-emak atau anak muda yang sering ditugaskan belanja kebutuhan dapur harian, tidak perlu ikut panik atau merasa waswas.
Pihak perusahaan mengonfirmasi bahwa kasus minyak beraroma aneh ini murni hanya terjadi pada klaster produk yang dialokasikan khusus untuk program bantuan pangan sosial.
Sementara itu, stok Minyakita yang didistribusikan secara reguler di pasar tradisional maupun ritel modern dipastikan berada dalam kondisi yang sangat aman, higienis, dan lolos standar konsumsi.
Statement:
Joko Mukti Wijaya, Direktur PT Kusuma Mukti Remaja
“Per hari ini kita sudah menarik 100 persen dan mengembalikan minyak goreng yang mungkin bermasalah di tiga kabupaten; Karanganyar, Klaten, dan Wonogiri. Yang indikasi bermasalah sekitar 100 ton tapi yang kita tarik sampai 300 ton. Kemungkinan ada terkontaminasi di penyimpanan atau pengangkutan, kita masih investigasi sambil menunggu hasil lab satu, dua minggu. Kami juga memastikan bahwa produk yang dipasarkan di pasaran umum dalam kondisi aman,” jelas , saat memberikan keterangan pers di pabrik Jaten, Karanganyar.
3 Poin Penting:
-
Penarikan Total 300 Ton: Produsen menarik 100 persen pasokan Minyakita di empat kabupaten Jawa Tengah (Karanganyar, Klaten, Wonogiri, dan Tegal) usai muncul keluhan berbau solar dari penerima bantuan pangan.
-
Investigasi Jalur Distribusi: Penyebab pasti bau solar masih diselidiki melalui uji laboratorium, dengan dugaan sementara terjadinya kontaminasi pada proses penyimpanan atau transportasi logistik.
-
Produk Pasaran Dijamin Aman: Manajemen PT Kusuma Mukti Remaja memastikan kasus ini hanya berdampak pada paket bantuan pangan, sedangkan produk Minyakita di pasar umum dipastikan aman dikonsumsi.



